Angin malam berembus kencang melintasi pilar-pilar batu di Kuil Reruntuhan Astra. Suasana begitu hening hingga detik dentang rantai perak di pinggang Bara Al-Mustafa terdengar amat jelas. Di tengah aula kuno yang dipenuhi ukiran garis pendar biru, Bara berdiri mengamati bilah pedang peraknya yang mendadak bergetar tanpa henti. Cahaya putih yang biasa memancar lembut kini berganti menjadi kilatan merah keemasan yang terasa amat asing sekaligus begitu pekat.
"Ada yang tidak beres dengan pedangmu malam ini, Bara," panggil Laras Al-Humaira seraya melangkah mendekat. Jemarinya yang ramping mengelus busur cendana di bahunya, menatap bilah perak itu dengan tatapan cemas.
"Sejak kita menginjakkan kaki di pelataran kuil ini, pedang ini seperti berontak," jawab Bara Al-Mustafa dengan nada berat. Tangannya menggenggam erat hulu pedang, mencoba menekan aura liar yang terus merembes keluar.
"Apakah racun atau sihir musuh telah menginfeksi bilahnya?" tanya Banyu Al-Fatih seraya melangkah maju, memasang perisai intannya di depan dada untuk berjaga-jaga.
"Bukan racun, Banyu," sela Fajar Nur-Zaman seraya membuka lembaran-lembaran kitab kunonya yang dipenuhi debu. " Getaran ini adalah bentuk resonansi batin. Pedang itu merespons tanah tempat kita berdiri sekarang."
"Apakah maksudmu tempat ini adalah asal-usul ditempanya senjata itu, Fajar?" tanya Guntur Al-Ghazi seraya mengusap jenggot tipisnya dan memegang gagang kapak kembarnya.
"Prasasti di pilar utama ini mencatat hal yang jauh lebih besar dari sekadar tempat penempaan biasa," bisik Fajar Nur-Zaman dengan mata membelalak heran.
"Katakan dengan jelas, Fajar! Jangan membuat kami menebak-nebak di tengah kegelapan ini!" seru Bayu Al-Asad yang melayang rendah mengawasi sekitar.
Fajar menunjuk ukiran raksasa di dinding kuil yang mendadak menyala terang. "Pedang perak di tangan Bara... sebenarnya bukanlah milik garis keturunan Ksatria Terbuang."
"Apa katamu?" potong Bara Al-Mustafa seraya menatap Fajar dengan tatapan tak percaya. "Pedang ini diwariskan oleh leluhurku secara turun-temurun!"
"Leluhurmu tidak menempa pedang itu, Bara," sahut sebuah suara berat yang bergema dari balik pilar kuno. "Mereka hanya ditugaskan untuk menyembunyikan kebenarannya dari dunia."
🪷 🪷 🪷
Seorang tetua berjubah abu-abu dengan tongkat kayu berukir teratai melangkah keluar dari balik bayangan pilar. Tetua Arkan, penjaga rahasia Kuil Reruntuhan Astra, menatap Bara Al-Mustafa dengan pandangan mata yang sarat akan kedukaan dan rasa hormat yang mendalam.
"Siapa kau, Tetua? Kenapa kau berani meragukan asal-usul kehormatan pedangku?" tentang Bara Al-Mustafa seraya mengambil satu langkah maju, menancapkan ujung pedang peraknya ke tanah cadas.
"Aku adalah saksi terakhir dari malam pembantaian seribu tahun lalu, Ksatria," jawab Tetua Arkan tenang. "Senjata yang kau genggam itu bukan ditempa dari besi biasa, melainkan dari serpihan Bintang Jatuh Kesucian yang jatuh bersamaan dengan lahirnya Penguasa Kegelapan Istana Pusat."
"Penguasa Kegelapan?" jerit Zahra Mentari seraya menutupi mulutnya karena terkejut. "Maksudmu pedang Bara memiliki keterikatan langsung dengan musuh abadi kita?"
"Benar, Gadis Cahaya," angguk Tetua Arkan seraya mengetukkan tongkatnya ke lantai batu. "Pedang Perak Astra dan Mahkota Kegelapan Istana Pusat ditempa dari satu inti energi yang sama. Mereka adalah dua belahan dari satu takdir yang saling bertolak belakang."
"Ini tidak mungkin!" bentak Guntur Al-Ghazi seraya melangkah maju. "Bara telah menggunakan pedang ini untuk menghancurkan ribuan siluman dan prajurit Istana Pusat! Bagaimana mungkin senjatanya memiliki asal-usul yang sama dengan monster-monster itu?!"
"Kebenaran sering kali terasa menyakitkan, Guntur," sela Laras Al-Humaira seraya memegang lengan Guntur agar menahan emosinya. Laras kemudian menatap Tetua Arkan. "Jika pedang ini memiliki asal-usul dari inti yang sama, mengapa pedang ini memancarkan cahaya pemurni yang amat suci?"
"Karena pedang itu memuat jiwa pengorbanan dari Putri Astra Pertama," jawab Tetua Arkan seraya mengarahkan ujung tongkatnya ke pendar di bilah pedang Bara. "Ia menyegel separuh kejahatan inti bintang itu menggunakan seluruh darah jiwanya sendiri."
Bara menatap bilah pedangnya yang kian membara. "Jadi... selama ini aku mengayunkan sebuah segel kematian?"
"Kau mengayunkan belahan jiwa dari musuhmu, Bara," bisik Samudra At-Thahira seraya membaca barisan aksara kuno yang menyala di dinding. "Jika segel di dalam pedang ini pecah, Penguasa Kegelapan akan mendapatkan kembali separuh jiwanya yang hilang."
"Dan saat itu terjadi, tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang sanggup menahannya," tambah Tetua Arkan dengan nada teramat dingin.
🪷 🪷 🪷
Pernyataan Tetua Arkan menyebarkan getaran kecemasan yang teramat dahsyat ke dalam batin para ksatria terbuang. Bara Al-Mustafa menatap telapak tangannya yang gemetar di atas hulu pedang, merasa seolah-olah seluruh perjuangannya selama ini berdiri di atas fondasi kebohongan yang mengerikan.
"Bara, jangan biarkan perkataan itu merusak fokus batinmu," bisik Laras Al-Humaira seraya menggenggam jemari Bara dengan kehangatan murni. "Perbuatanmu dan ketulusan jiwamulah yang memberi arti pada pedang itu, bukan asal-usulnya."
"Tapi Laras... jika pedang ini adalah bagian dari Penguasa Kegelapan, maka setiap kali aku menggunakannya, aku hanya memanggil energi dari sumber kejahatan itu sendiri," desah Bara dengan suara parau menahan kepedihan mendalam.
"Itulah sebabnya Istana Pusat terus memburu keberadaanmu, Bara!" seru Fajar Nur-Zaman seraya menunjuk inskripsi di kitabnya. "Mereka bukan hanya ingin membunuhmu, tetapi mereka membutuhkan pedang perakmu untuk melengkapi ritual kebangkitan sempurna Penguasa Kegelapan!"
"Hahaha! Cendekiawan muda itu benar sekali!" sebuah tawa dingin yang bergaung nyaring mendadak memecah keheningan kuil.
Bumi di bawah kuil bergetar hebat. Atap batu reruntuhan pecah berkeping-keping tatkala puluhan rantai hitam berdarah menjebol dinding aula. Dari udara gelap, muncul Bayangan Cermin Penguasa Kegelapan—proyeksi sihir tingkat tinggi yang memancarkan aura tekanan jiwa yang sangat menindas.
"Kembalikan separuh jiwaku yang kau curi, Ksatria Terbuang!" bentak Bayangan Cermin itu seraya mengacungkan tangannya yang hitam legam!
"Perisai Tirta Intan!" jerit Banyu Al-Fatih seraya melompat ke depan Bara, merentangkan dinding air kristalnya untuk membendung gelombang kejut musuh.
BANG!