Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #77

MUSUH DI BALIK SELIMUT

Hawa dingin menyapu lorong obsidian yang melintasi bagian dalam Istana Teratai Hitam. Dua belas ksatria melangkah dengan penuh kewaspadaan tinggi, mengikuti petunjuk peta gaib yang terbentang di tangan Fajar Nur-Zaman. Di hadapan mereka, Pintu Segel Abadi berdiri megah, bertatahkan ukiran purba yang memancarkan pendar keemasan.

"Pintu segel ini masih utuh," puji Samudra At-Thahira seraya mengelus ukiran batu dengan ujung tongkat airnya. "Artinya sihir pertahanan kuno tempat ini belum sepenuhnya ditembus oleh Vespera."

"Tapi energi kegelapan di sekitar kita terasa makin menguat," ujar Laras Al-Humaira seraya memasang anak panah di busur kayu cendananya. Matanya melirik ke sekeliling lorong yang gelap.

"Tenanglah, Laras," sahut Banyu Al-Fatih mantap. Ia mengetukkan perisai intannya ke lantai batu hingga meletupkan pendar kristal tebal. "Selama perisai intanku berdiri di garis depan, tak ada bahaya yang bisa menyentuh kalian tanpa melangkahinya terlebih dahulu."

"Banyu benar," timpal Bara Al-Mustafa seraya memegang hulu pedang peraknya. "Kita tinggal menyatukan ksatria dan mengaktifkan kunci segel ini untuk membuka jalan ke takhta utama."

"Fajar, bagikan kristal navigasi ke tiap anggota," perintah Mega Nur-Aisyah seraya membuka manuskrip sucinya. "Kita butuh resonansi mana yang stabil sebelum menyentuh pintu itu."

"Tentu, Mega," jawab Fajar Nur-Zaman seraya merogoh kantong jubahnya. Namun, jemarinya mendadak membeku saat menarik keluar kantong kulitnya. "Tunggu... kristal utamanya lenyap!"

"Lenyap?!" pekik Zahra Mentari terperanjat, refleks mendekap Cermin Surya Teratai di dadanya. "Bukankah kau menyimpannya dengan aman di dalam selubung angin?"

"Seseorang telah memotong tali pelindung di dalam jubahku secara halus," bisik Fajar dengan wajah pucat pasi. Matanya menatap kantong kulitnya yang robek tersayat rapi.

"Bagaimana mungkin ada yang bisa mendekatimu tanpa terdeteksi?" tanya Guntur Al-Ghazi heran, mengelus kapak petir birunya. "Bahkan seekor lalat pun tak bisa menembus benteng anginmu!"

"Itu berarti..." desis Bayu Al-Asad seraya mencabut pedang ganda anginnya, matanya menatap tajam ke arah sepuluh ksatria lainnya. "...pelakunya berdiri di antara kita saat ini."

"Apa maksudmu, Bayu?!" seru Embun Al-Khansa kaget. "Kau mencurigai saudara sendiri?"

"Fakta bahwa tali jubah Fajar terpotong rapi dari dalam formasi adalah buktinya," tegas Bayu tanpa ragu.

Suasana di depan Pintu Segel Abadi mendadak berubah menjadi amat tegang dan membeku. Persaudaraan erat yang terbina selama puluhan bab pertempuran kini bergoyang hebat oleh bayang-bayang pengkhianatan.

🪷 🪷 🪷

Ketegangan di lorong obsidian memuncak tajam. Hembusan angin dingin berhembus perlahan, membawa rasa saling curiga yang membakar dada tiap ksatria.

"Tarik ucapanmu, Bayu!" bentak Guntur Al-Ghazi dengan wajah merah padam. "Kami bertaruh nyawa bersama di labirin kemarin! Tidak ada pengkhianat di antara dua belas ksatria!"

"Aku hanya mengemukakan kenyataan di depan mata!" balas Bayu Al-Asad tak kalah keras. "Siapa lagi yang bisa menyentuh jubah Fajar selain orang yang berdiri paling dekat dengannya saat berjalan di lorong sempit tadi?"

"Siapa yang berdiri di samping Fajar tadi?" tanya Samudra At-Thahira tenang, meski matanya menatap tajam membedah barisan.

"Aku dan Embun," jawab Mega Nur-Aisyah dengan suara bergetar pelan. "Tapi kami tidak menyentuh kantong itu sama sekali! Kami sibuk merapikan barisan mantra penyembuh!"

"Aku bersumpah demi air suci, aku tidak mengambilnya!" jerit Embun Al-Khansa, air mata kebingungan mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Sudah, cukup!" bentak Bara Al-Mustafa seraya melangkah ke tengah-tengah barisan. Suara pemimpin itu membungkam perdebatan yang mulai memanas. "Kita tidak boleh saling menuduh tanpa bukti yang jelas. Vespera ingin kita terpecah dari dalam!"

"Bara benar," sela Laras Al-Humaira seraya menurunkan busurnya. "Pengadu domba adalah trik tertua musuh. Fajar, periksa kembali jejak mana yang tersisa di katongmu."

Fajar Nur-Zaman memejamkan mata, memusatkan pusaran angin kecil di atas kantong kulit yang robek. "Ada sisa sihir penyerap suara yang tertinggal di sayatan kain ini. Sihir tingkat tinggi yang sanggup meredam gesekan benda."

"Sihir penyerap suara?" ulang Banyu Al-Fatih berkerut dahi. "Siapa di antara kita yang menguasai elemen khusus semacam itu?"

"Hanya tiga orang yang memiliki kontrol sihir keheningan pekat," tutur Samudra At-Thahira mengamati wajah rekan-rekannya. "Fajar sendiri, Mega dengan manuskrip sucinya, atau..."

"Atau Fajar sendiri yang menskenariokan semua ini untuk menjebak kita!" potong Guntur tiba-tiba, menunjuk Fajar dengan kapaknya.

"Jangan asal bicara, Guntur!" seru Fajar Nur-Zaman terperanjat. "Aku yang memimpin kalian melintasi peta ini sejak awal!"

"Tapi kantong itu ada padamu!" balas Guntur panik.

"Hentikan bentrok tak berguna ini!" jerit Zahra Mentari mengangkat Cermin Surya Teratai tinggi-tinggi. "Cermin ini bisa mendeteksi aura kegelapan! Izinkan aku memeriksa aura kita satu per satu!"

"Jangan dekatkan cermin itu padaku!" bentak sebuah suara dari balik barisan.

Sebelum Zahra sempat memantulkan pendar cahayanya, sebuah ledakan sihir hitam meluncur deras dari arah belakang, menghantam tepat di tangan Zahra hingga Cermin Surya Teratai terlepas dan memantul jauh di atas lantai batu.

🪷 🪷 🪷

Asap hitam tebal membumbung tinggi menyelimuti barisan ksatria. Erangan kesakitan terdengar saat Zahra Mentari terpental ke dinding batu, memegangi pergelangan tangannya yang terluka.

"Zahra!" jerit Embun Al-Khansa berlari mendekat seraya membentangkan selendang penyembuhnya.

"Siapa yang menembakkan sihir itu?!" teriak Banyu Al-Fatih seraya memasang posisi siaga, membentangkan perisai intan raksasa untuk melindungi tim dari tembakan susulan.

Dari balik asap tebal yang membubung, sesosok bayangan berdiri santai dengan telapak tangan terangkat. Pendar sihir hitam keunguan melingkari jemarinya, membakar serpihan kristal navigasi milik Fajar yang kini hancur menjadi debu di telapak tangannya.

"Cermin kecil itu terlalu berbahaya jika dibiarkan memeriksa auraku," ucap sosok itu dengan nada suara yang amat tenang, namun terasa asing dan dingin.

Seluruh ksatria terperanjat hebat saat asap perlahan terkikis. Sosok yang berdiri di sana adalah Fajar Nur-Zaman.

Lihat selengkapnya