Dentuman hebat menggetarkan dinding pualam hitam yang mengurung lorong dasar danau. Air Danau Tujuh Misteri yang merembes dari retakan atap terasa dingin menyengat kulit, bercampur racun kehitaman sisa sihir Orde Bayangan. Bara Al-Mustafa mengusap bercak darah kering di dagunya, berdiri tegak menyangga tubuh Laras Al-Humaira yang napasnya tersengal. Di samping mereka, Zahra Mentari merapatkan punggungnya ke pilar batu yang retak, menggenggam erat Busur Cahaya Mentari dengan jari-jari gemetar.
"Pintu besi di ujung lorong ini adalah akses terakhir menuju Ruang Takhta Utama," ucap Bara Al-Mustafa seraya menunjuk gerbang berukir naga laut di hadapan mereka.
"Aku bisa merasakan denyut aura Banyu dan Samudra dari balik pintu itu, Bara," sahut Laras Al-Humaira dengan suara parau bercampur harapan. "Tapi hawa kejahatan yang membelit mereka sangat pekat!"
"Bukan hanya Banyu dan Samudra," pangkas Zahra Mentari seraya menajamkan pendengarannya. "Gema sihir angin milik Bayu dan racun pemurni milik Embun juga membentur dinding ruang takhta!"
"Artinya Kelompok Dua dan Kelompok Tiga sudah bertarung di dalam sana!" seru Bara seraya menegakkan pedang peraknya. "Kita tidak boleh terlambat sekejap pun!"
Tiba-tiba, tiga prajurit bayangan berzirah besi hitam melompat keluar dari genangan air keruh di lantai lorong. Senjata bermata gerigi mereka mengayun membelah udara, menebarkan bau belerang yang menusuk hidung.
"Jangan biarkan para ksatria perak menyatu kembali!" teriak pemimpin prajurit bayangan dengan suara bergema parau.
"Enyah kalian dari hadapanku!" bentak Bara Al-Mustafa seraya menerjang maju dalam satu pijakan mantap.
SRAAAASH!
Tebasan memutar pedang perak Bara membelah dada ketiga prajurit musuh hingga hancur menjadi kabut hitam yang menguap di dalam air. Tanpa membuang waktu, Bara menghantamkan telapak tangannya yang dialiri pendar Sumpah Sembilan Bintang ke segel pusat gerbang naga laut.
"Buka gerbang ini sekarang!" jerit Bara menggelegar.
TAK-DUMMMMM!
Gerbang batu raksasa seberat belasan ton itu runtuh terbelah dua. Semburan cahaya ungu kehitaman dan ledakan energi air meledak keluar dari dalam Ruang Takhta Dasar Danau, menyambut kedatangan Bara, Laras, dan Zahra dengan gelombang kejut yang mengerikan.
🪷 🪷 🪷
Pemandangan di dalam Ruang Takhta Dasar Danau begitu mengerikan dan megah. Kubah kaca purba yang menahan jutaan ton air danau di atas tempat itu telah retak parah, memuntahkan tirai-tirai air raksasa di sekeliling arena batu. Di pusat ruangan, berdiri takhta pualam hitam yang dihuni oleh sosok Jenderal Kegelapan Vrakos—ksatria zirah raksasa bersenjata kapak ganda yang mengendalikan aura penekan jiwa.
Di sisi kiri arena, Banyu Al-Fatih dan Samudra At-Thahira terbaring memegang perisai yang pecah, disangga oleh Fajar Nur-Zaman yang kelelahan. Di sisi kanan, Bayu Al-Asad menahan bahu kakunya seraya dilindungi oleh benteng es pemurni milik Embun Al-Khansa dan Mega Nur-Aisyah. Ketiga kelompok ksatria Sumpah Sembilan Bintang akhirnya berada di dalam satu ruangan yang sama setelah terpisah dalam pertempuran mematikan!
"Banyu! Samudra! Bayu!" teriak Bara Al-Mustafa melintasi genangan air di pelataran takhta.
"Bara! Kau selamat!" seru Banyu Al-Fatih seraya terbatuk, mengulas senyum bangga dari bibirnya yang pucat. "Kami bertahan sejauh ini menunggu kedatanganmu!"
"Laras! Zahra! Syukurlah kalian tidak kurang suatu apa pun!" tambah Embun Al-Khansa dengan mata berkaca-kaca seraya mengalirkan energi es pemurni ke tubuh rekan-rekannya.
"Penyatuan yang sangat menyentuh hati," ejek Jenderal Vrakos dari atas takhtanya, suaranya menggelegar mengocok air danau di sekeliling kubah. "Tapi kedatangan kalian bertiga hanya mempercepat pemusnahan seluruh ksatria Sumpah Sembilan Bintang!"
"Cabut mulut besarmu, Verdinan!" gertak Bayu Al-Asad seraya merangkak berdiri dengan bantuan Busur Angin Bayu. "Saat kami terpisah, kau mungkin bisa menekan kami! Tapi sekarang, sembilan bintang telah berkumpul kembali di satu tempat!"
"Dengar, Semuanya!" perintah Bara Al-Mustafa seraya berdiri di tengah-tengah formasi, menghubungkan pandangan mata dengan delapan ksatria lainnya. "Rencana musuh untuk memecah belah dan menghancurkan kita satu per satu telah gagal!"
"Bara benar!" seru Samudra At-Thahira seraya mengangkat Tongkat Kearifan Samudra tinggi-tinggi. "Energi Inti Jiwa kita yang saling terhubung akan menetralisir aura kegelapan tempat ini!"
"Formasi Lengkap Sumpah Sembilan Bintang!" pangkas Fajar Nur-Zaman seraya membuka kitab catatannya yang bersinar keemasan. "Rapatkan barisan sekarang juga!"
Sembilan ksatria melangkah saling mendekat di tengah arena, membentuk lingkaran sempurna di bawah retakan kubah kaca. Pendar simbol suci pada dada mereka yang sempat meredup akibat kelelahan mendadak menyala serentak, memancarkan pendar sembilan warna yang menyapu bersih aura penekan jiwa milik Vrakos.
🪷 🪷 🪷
Melihat pendar sembilan warna membakar aura kegelapan di dalam ruang takhta, raut wajah Jenderal Verdinan berubah murka. Kapak ganda di kedua tangannya memercikkan api hitam pekat yang membakar genangan air di lantai batu.
"Kalian pikir pendar warna-warni konyol ini sanggup menahan kekuatan penuh Orde Bayangan?!" raung Verdinan seraya melompat turun dari takhtanya.
Hantaman kaki Verdinan ke lantai pualam menciptakan gelombang kejut pasir hitam dan racun mendidih yang bergulung-gulung mengincar formasi sembilan ksatria dari segala arah.
"Banyu, Samudra! Tahan serangan fisiknya!" perintah Bara Al-Mustafa cepat.
"Serahkan padaku! Teknik Dinding Samudra Berlapis Tujuh!" teriak Banyu Al-Fatih dan Samudra At-Thahira serempak.
Perisai Banyu dan tongkat Samudra menyatu, menciptakan barikade air murni setinggi lima meter yang menahan gempuran pasang racun mendidih Vrakos. Gelombang racun bertabrakan dengan air suci, memicu asap membara yang memenuhi ruangan.