Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #79

KEBANGKITAN ENTITAS KUNO

Guncangan dahsyat bergetar menembus kedalaman Danau Tujuh Misteri, mengoyak struktur dasar air yang sebelumnya tenang. Di pusat retakan jurang bawah air, pilar cahaya hitam keperakan membumbung tinggi, membakar kelopak-kelopak bunga teratai gaib yang tersisa di sekitarnya. Bara Al-Mustafa berdiri di garis paling depan, menancapkan pedang peraknya ke celah batu pirus yang meretak untuk menahan tubuhnya dari pusaran angin beracun.

Di sisinya, Laras Al-Humaira menarik tali busur keperakannya rapat-rapat. Matanya melirik tajam ke arah delapan sahabat mereka yang tersebar dalam posisi bertarung: Banyu Al-Fatih, Guntur Al-Ghazi, Fajar Nur-Zaman, Bayu Al-Asad, Mega Nur-Aisyah, Embun Al-Khansa, Samudra At-Thahira, dan Zahra Mentari.

"Bara! Cahaya pilar itu mengandung mana yang merusak!" teriak Laras menembus gemuruh angin menderu.

"Aku merasakannya, Laras! Ini bukan lagi sihir manusia biasa!" balas Bara dengan suara berat.

Tiba-tiba, permukaan pilar air hitam meledak hebat. Insiden pemicu meletus saat intrik murni dari kedalaman terkuak. Sesosok entitas raksasa berwujud bayangan zirah purba bangkit perlahan dari dasar jurang dan danau. Matanya yang merah menyala bagai lava cair menatap sepuluh ksatria itu dengan kehampaan yang mengerikan. Aura kegelapan yang dipancarkannya begitu pekat, menekan paru-paru hingga terasa sesak menahan napas.

"Kalian terlambat, anak-anak muda," gaung suara Panglima Gerhana yang berdiri melayang di atas pundak entitas kuno tersebut, memegang Kitab Kuno dan Kristal Teratai di kedua tangannya.

"Panglima Gerhana! Hentikan ritual gila ini!" seru Banyu seraya menghentakkan pedang besarnya ke tanah.

"Hentikan?" terkekeh Panglima Gerhana dingin, suaranya bergema menembus kedalaman air. "Ritual ini tidak bisa dihentikan lagi. Jiwa Sang Pemusnah Kuno telah menyatu dengan kristal ini!"

"Samudra, apakah itu makhluk yang tertulis di prasasti utama?" tanya Zahra cemas, menggenggam erat kristal pelindung di dadanya.

"Benar, Zahra," sahut Samudra dengan wajah pucat pasi. "Itu adalah Sang Pemusnah Kuno... entitas yang mengakhiri zaman kejayaan seribu tahun lalu!"

"Guntur, Banyu! Kunci pergerakan kakinya!" perintah Fajar cepat seraya membaca alur aura yang bergejolak. "Bayu, siapkan pusaran angin pembalik untuk memecah fokus mananya!"

"Siap, Fajar! Kami tidak akan membiarkan iblis ini melangkah lebih jauh!" teriak Guntur penuh tekad seraya memajukan perisai raksasanya.

"Bara, Laras, bersiaplah untuk tebasan langsung!" seru Bayu, merentangkan jemarinya untuk memanggil angin topan bawah air.

"Ayo bergerak!" jerit Bara seraya memusatkan aura perak pada matanya, menerjang lurus ke arah kegelapan yang kian pekat.

🪷 🪷 🪷

Bara melesat melintasi batuan pirus yang mengapung di udara bawah air, disusul oleh Laras yang melepaskan tembakan panah cahaya secara berturut-turut. Anak panah Laras menembus udara, menancap tepat di pelindung dada entitas kuno tersebut dan menimbulkan ledakan-ledakan keperakan yang membakar aura hitam.

"Serangan yang sia-sia!" raung entitas kuno itu dengan suara ganda yang memecahkan tiang-tiang pirus di sekeliling Balairung.

Tangan zirah raksasanya mengayun keras, menciptakan gelombang kejut air racun yang melontarkan Banyu dan Guntur hingga menabrak dinding batu. Banyu memuntahkan sedikit darah, namun langsung bangkit kembali dengan tatapan tak menyerah.

"Banyu! Tahan posisi kananmu!" seru Embun seraya meluncurkan pendar cahaya hijau pemulihan untuk membalut luka dalam Banyu seketika.

"Terima kasih, Embun! Aku masih sanggup bertarung!" balas Banyu, kembali mengangkat pedang besarnya dengan dua tangan.

"Mega! Lindungi Fajar dan Samudra dari hujan kristal hitam!" panggil Zahra seraya melemparkan tiga kristal suci yang meledak menjadi benteng cahaya keemasan.

"Diterima, Zahra! Tirai Pemurni Jiwa!" seru Mega, menghentakkan tongkatnya ke tanah untuk memperkuat kubah pelindung dari gempuran pecahan kristal beracun.

Di pusat pertempuran, Panglima Gerhana mengangkat tinggi Kristal Teratai. Titik plot pertama memuncak saat ia mulai menyalurkan seluruh sisa energi Danau Tujuh Misteri langsung ke dalam dada Sang Pemusnah Kuno. Seketika, ukuran entitas itu membengkak dua kali lipat. Duri-duri hitam mencuat dari punggung zirahnya, memancarkan gelombang destruktif yang meruntuhkan sisa-sisa atap istana dasar danau.

"Lihatlah! Kekuatan penuh Sang Pemusnah Kuno kini terkumpul!" teriak Panglima Gerhana penuh kegilaan. "Dunia permukaan akan berlutut di bawah bayang-bayang Gerhana!"

"Jangan biarkan penyatuan itu sempurna, Laras!" seru Bara dari udara.

"Aku menguncinya dari atas, Bara!" balas Laras. Ia melompat melintasi pusaran angin buatan Bayu, memutar tubuhnya di udara dan melepaskan jurus utamanya. "Panah Pembelah Langit!"

Satu anak panah berukuran raksasa dari cahaya murni meluncur deras, membelah laju energi hitam dan menembus tepat pada Kristal Teratai di tangan Panglima Gerhana. Benturan dahsyat meletus, memicu gelombang balik sihir yang menghentikan sejenak aliran mana Sang Pemusnah Kuno.

"Kerja bagus, Laras!" puji Fajar. "Samudra, sekarang baca kelemahan pola mananya!"

"Titik lemahnya ada di persendian bahu kiri tempat energi kristal mengalir paling deras!" panggil Samudra cepat.

"Bara! Fokus pada bahu kiri!" jerit Laras seraya mendarat di samping Bara yang siap melancarkan tebasan mematikan.

🪷 🪷 🪷

Bara meloncat dengan dorongan penuh dari pilar angin Bayu. Pedang peraknya memancarkan pendar emas Al-Mustafa yang sangat terang. Namun, tepat saat bilah pedangnya berada beberapa milimeter dari bahu kiri entitas kuno itu, sebuah pusaran sihir hitam mendadak meletus dari dalam tubuh Sang Pemusnah Kuno.

BOOOMM!

Hantaman energi yang tak terduga melemparkan Bara secara brutal. Tubuhnya menghantam pilar batu utama hingga hancur berkeping-keping. Bara tergeletak di tanah, memuntahkan darah segar seraya berusaha bernapas di tengah tekanan aura yang teramat berat.

Lihat selengkapnya