Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #80

KEKALAHAN SEMENTARA

Gemuruh hebat mengguncang ruang bawah tanah disekitar Danau Tujuh Misteri. Dinding-dinding batu purba berukirkan naga hitam meretak tajam, memutahkan kabut racun kehitaman yang mencekik tenggorokan. Rombongan Aliansi Teratai Purba tersudut di tepi telaga bawah tanah yang kian membusuk.

"Tahan posisi kalian! Jangan sampai ada yang terpisah!" teriak Bara Al-Mustafa seraya merapatkan pijakannya pada batuan licin.

"Bara! Siklus energi raksasa di pusat altar ini sudah tidak stabil!" seru Fajar Nur-Zaman, mengusap peluh berdarah di pelipisnya seraya menunjuk kompas tembaga yang retak. "Tekanan sihir musuh meningkat sepuluh kali lipat!"

"Apakah sihir pelindungmu masih sanggup menahannya, Laras?!" tanya Banyu Al-Fatih seraya memutar tombak gandanya demi menghalau sisa-sisa uap racun.

Laras Al-Humaira bertumpu pada satu lututnya, jemarinya bergetar hebat saat memancarkan pendaran hijau pucat dari Mahkota Teratai Tujuh Warna. "Kekuatanku melemah drastis, Banyu! Racun hitam ini menyerap seluruh sisa sihir murni dari jiwaku!"

"Sialan! Mereka jebak kita di ruang bawah tanah ini sejak awal!" maki Bayu Al-Asad seraya mengusap darah di sudut bibirnya.

Mutiara Hitam Abadi yang berada di tengah telaga mendadak melayang tinggi, memancarkan gelombang destruktif yang meruntuhkan langit-langit goa. Serpihan batu raksasa berguguran menghantam jalan keluar mereka.

"Hahaha! Kalian para serangga darat tidak akan pernah keluar dari perut bumi ini hidup-hidup!" suara melengking bergema dari arah kegelapan telaga.

Dari dalam cairan hitam pekat, melangkah keluar Jenderal Vago bersama tiga ratus Prajurit Mayat Hidup Berzirah Besi. Di tangannya, Vago menggenggam Tongkat Jiwa Tenggelam yang terus memompa hawa kematian ke seluruh penjuru ruangan.

"Jenderal Vago..." geram Guntur Al-Ghazi seraya mengangkat Perisai Naga Emasnya yang melengkung parah. "Kau memanfaatkan kehancuran altar ini untuk membunuh kami semua!"

"Serahkan seluruh pecahan Batu Jiwa kalian!" raung Vago dengan mata merah menyala. "Atau biarkan goa ini menjadi kuburan massal bagi Aliansi Teratai Purba!"

🪷 🪷 🪷

Hujan serpihan batu dan tembakan sihir darah menyergap rombongan aliansi tanpa henti. Bau belerang dan uap amis memenuhi udara bawah tanah, mempersempit ruang gerak para ksatria yang kian kelelahan.

"Guntur! Buat benteng pertahanan terakhir di depan Laras dan Fajar!" perintah Bara Al-Mustafa seraya melompat menebaskan Pedang Perak-nya ke udara.

"Gaya Pelindung Naga: Tembok Karang Emas!" seru Guntur Al-Ghazi membahana.

Guntur menghantamkan perisai emasnya ke lantai goa, memicu berdirinya tiga lapis dinding batu keemasan yang menangkis lembaran panah beracun musuh.

TRING! TRING! TRING!

"Banyu, Bayu! Kita gempur barisan depan musuh dan rebut Tongkat Jiwa itu!" seru Bara Al-Mustafa melirik kedua kawan di sampingnya.

"Siap, Bara! Aku akan membuka jalan!" sahut Bayu Al-Asad seraya melepaskan taufan angin barat dari dua belati suryanya.

"Air Pemurni: Pusaran Samudra!" pekik Banyu Al-Fatih, meluncur deras bagaikan gelombang laut yang menghantam barisan prajurit mayat hidup hingga berhamburan.

Bara Al-Mustafa melesat ke udara, mengarahkan tebasan Pedang Perak lurus ke arah dada Jenderal Vagoro. Cahaya perak pelangi membakar uap racun di sekelilingnya, memutus rantai sihir yang mengikat Tongkat Jiwa Tenggelam.

"Ksatria Tengil! Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan!" murka Jenderal Vagoro seraya mengayunkan tongkatnya untuk menangkis.

CRASHHH!

Benturan dua senjata sakral memicu gelombang kejutan masif yang membelah telaga bawah tanah menjadi dua bagian. Namun, kekuatan Vagoro di dalam goa ini didukung penuh oleh inti Mutiara Hitam Abadi, membuat tebasan Bara terdorong mundur secara perlahan.

"Tekanan energinya terlalu kuat, Bara!" jerit Laras Al-Humaira dari balik tembok batu Guntur. "Jika kau memaksakan benturan ini, fondasi goa akan runtuh sepenuhnya!"

"Kita tidak boleh mundur sekarang, Laras!" tegas Bara Al-Mustafa dengan urat-urat leher yang menegang keras. "Jika Tongkat Jiwa itu tidak dihancurkan, seluruh Danau Tujuh Misteri akan menjadi lautan racun!"

🪷 🪷 🪷

Benturan kekuatan di pusat goa kian tidak terkendali. Mutiara Hitam Abadi memuntahkan gelombang radiasi hitam yang membakar dinding-dinding karang. Satu per satu pilar penyangga utama ruang bawah tanah itu patah berkeping-keping, menyebabkan tanah yang dipijak aliansi mulai ambles ke dalam jurang telaga.

"Bara! Pondasi tempat ini sudah mati!" teriak Fajar Nur-Zaman histeris seraya memegangi dinding batu yang retak parah. "Jalur air di atas kita akan jebol dalam hitungan detik!"

"Fajar benar, Bara!" tambah Banyu Al-Fatih yang bahu kirinya terkoyak tebasan rantai musuh. "Jika air danau dari permukaan tumpah ke bawah tanah ini, kita semua akan tenggelam dalam lautan racun!"

Lihat selengkapnya