Angin malam yang biasanya membawa kesegaran kini berganti menjadi hembusan dingin bertiup dari arah Danau Tujuh Misteri. Di pelataran markas darurat, Bara Al-Mustafa berdiri terpaku menatap langit utara yang mendadak berubah warna menjadi ungu pekat kehitaman. Di sampingnya, Laras Al-Humaira memegang erat busur kayu cendananya, merasakan getaran cemas yang menjalar melalui akar-akar bumi di bawah pijakan kaki mereka.
"Lihat warna langit itu, Bara," bisik Laras dengan nada prihatin seraya menunjuk gumpalan awan beracun yang terus meluas.
"Aura kegelapan dari danau tidak lagi terkurung di dalam lembah," sahut Bara Al-Mustafa seraya meraba hulu pedang peraknya. "Racun itu mulai merembes keluar menembus benteng perbatasan."
Fajar Nur-Zaman melangkah tergesa-gesa menghampiri mereka, memegang kitab kunonya yang terbuka lebar. "Laporan dari para pengintai udara sangat buruk, Bara! Kegelapan ini menyebar ke lima provinsi dalam hitungan jam!"
"Bagaimana dengan wilayah pemukiman warga di kaki gunung?" tanya Banyu Al-Fatih seraya mengetuk-ngetuk perisai intannya dengan cemas.
"Tanaman warga membusuk seketika, dan sumber air bersih berubah menjadi lumpur hitam berbau busuk," jawab Fajar seraya mengusap peluh di dahinya.
"Ini bukan sekadar kabut biasa," potong Guntur Al-Ghazi seraya menggeledak sepasang kapak kembarnya. "Istana Pusat sengaja melepaskan inti racun danau untuk meracuni seluruh negeri ini!"
"Bayu, apakah kau melihat pergerakan pasukan musuh dari udara?" tanya Laras seraya menoleh ke arah Bayu Al-Asad yang baru saja mendarat.
"Musuh tidak perlu mengirim prajurit lagi, Nona Laras," jawab Bayu dengan wajah pucat. "Kabut hitam itu sendiri yang bertindak sebagai pembunuh serentak. Rakyat sipil mulai panik dan berjatuhan."
Mega Nur-Aisyah dan Embun Al-Khansa membagikan kantong-kantong herbal pemurni kepada para ksatria. "Ramuan kita tidak akan cukup untuk menyelamatkan jutaan jiwa di luar sana, Bara."
"Kita harus menghentikan sumber pemicunya di pusat danau sebelum seluruh negeri ini menjadi tanah mati!" seru Bara Al-Mustafa dengan mata membara.
"Rapatkan barisan!" perintah Laras. "Perjuangan kita kali ini adalah demi keselamatan seluruh negeri!"
🪷 🪷 🪷
Rombongan Ksatria Terbuang bergerak cepat melintasi perbatasan lembah menuju dataran tengah. Namun, pemandangan di sepanjang jalan membuat dada mereka sesak oleh kepedihan mendalam. Desa-desa asri yang tadinya penuh kehidupan kini berubah menjadi kota hantu yang diselimuti kabut hitam pekat. Pepohonan mengering, sungai-sungai membeku dalam warna merah darah, dan erangan ghaib terdengar dari segala penjuru angin.
"Suara jeritan ini... berasal dari jiwa tanah yang terinfeksi oleh kegelapan danau," desah Samudra At-Thahira seraya membaca guratan pendar di prasastinya.
"Pertahankan batin kalian!" teriak Bara Al-Mustafa seraya mengayunkan pedang peraknya untuk membelah gumpalan kabut racun di depan mereka. "Jangan biarkan keputusasaan warga merobek fokus perjuangan kita!"
"Bara! Ada gelombang energi busuk meluncur dari arah pemukiman depan!" jerit Zahra Mentari seraya menunjuk ke dalam kegelapan.
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Dari balik kabut hitam pekat, puluhan monster bayangan yang terbentuk dari racun danau melompat keluar, mengincar leher para ksatria seraya memuntahkan lahar asam!
"Perisai Tirta Intan: Gelombang Pelindung!" raung Banyu Al-Fatih seraya menancapkan perisaimu ke tanah basah!
CRASH!
Benturan keras meretakkan jalan batu tempat mereka berdiri. Semburan asam musuh memantul keras dihantam dinding kristal air milik Banyu, namun jumlah monster bayangan itu terus bertambah seiring makin pekatnya kabut.
"Hahaha! Usaha yang sangat sia-sia, Ksatria Terbuang!" tawa melengking memecah keheningan kabut.
Dari dalam pusaran angin beracun, muncul sesosok utusan Istana Pusat berzirah duri hitam—Panglima Malakor sang Pembawa Wabah!
"Malakor..." gumam Fajar Nur-Zaman dengan mata membelalak. "Dialah penyebar racun utama yang diperintah untuk membusukkan negeri ini!"
"Selamat menikmati kehancuran negeri kalian!" ejek Malakor seraya memutar tongkat tengkoraknya. "Danau Tujuh Misteri telah memuntahkan seluruh isi perutnya! Dalam beberapa jam, tidak ada lagi manusia tersisa di negeri ini!"
"Kami tidak akan membiarkan kejahatanmu merenggut negeri ini, Malakor!" bentak Laras Al-Humaira seraya melepaskan tiga anak panah cahaya emas tepat ke arah dada Malakor!
Malakor mengibaskan tongkatnya, menciptakan benteng racun yang meleburkan anak panah Laras menjadi asap berbau amis. "Cahayamu terlalu redup untuk menerangi kegelapan negeri ini, Nona Muda!"
🪷 🪷 🪷
Pertempuran sengit meletus di tengah pemukiman warga yang terkontaminasi. Malakor mengayunkan tongkat tengkoraknya, memuntahkan gelombang kabut pembunuh yang mengikis zirah dan pertahanan fisik para ksatria. Monster-monster bayangan terus bermunculan dari selokan dan sungai beracun, mengurung sepuluh pendekar terbuang dalam jepitan kegelapan yang kian memadat.
"Guntur! Bantu aku membendung sayap barat!" teriak Banyu Al-Fatih seraya menahan tusukan sepuluh monster bayangan sekaligus.
"Rasakan petir pemurniku, Iblis-Iblis Laknat!" raung Guntur Al-Ghazi seraya menebaskan kapak kembarnya, menciptakan ledakan petir kebiruan yang menghancurkan barisan depan musuh!
Namun, makin banyak monster yang mereka hancurkan, makin pekat kabut hitam yang berembus dari arah danau. Efek ramuan penawar milik Mega dan Embun mulai habis, membuat napas para ksatria terasa makin sesak dan berat.
"Bara... racun ini mulai merusak saluran mataku," desah Bayu Al-Asad yang jatuh bertumpu pada satu lutut di tanah berlumpur.
"Bayu!" Zahra Mentari berlari merangkul Bayu, menembakkan bola-bola cahaya suci untuk membakar monster yang mengincar saudaranya.
"Mega! Embun! Bisakah kalian membuat pemurni skala besar?" panggil Laras Al-Humaira seraya terus melepaskan panah-panah cahaya dari belakang.
"Bahan herbal kita habis, Nona Laras!" jawab Embun Al-Khansa dengan suara gemetar ketakutan. "Racun danau ini menyerap aura tanaman obat jauh lebih cepat dari yang kita perkirakan!"