Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #82

RAPAT AGUNG ALIANSI

Lampu-lampu kristal membara redup di Aula Balairung Utama Benteng Karang Samudra, membiaskan pendaran cahaya keemasan di atas meja bundar berbatu hitam. Udara di dalam ruangan terasa tebal dan berat oleh aroma asap dupa dan keheningan mencekam.

"Bara, para penguasa dari tujuh klan utama Benua Barat telah berkumpul di dalam aula," pangkas Fajar Nur-Zaman seraya menggeser gulungan peta benua di atas meja.

Bara Al-Mustafa mengangguk pelan, membelai gagang Pedang Perak di pinggangnya yang bergetar halus. "Apakah semua pemimpin telah mengonfirmasi kehadiran mereka, Fajar?"

"Raja Klan Api, Tetua Agung Klan Air, serta para Panglima Karang Selatan sudah duduk di kursi mereka masing-masing," sahut Laras Al-Humaira, melangkah mendekat dengan senyuman lembut walau wajahnya masih menyisa warna pucat pasca-pertempuran. "Namun, suasana hati mereka sangat panas akibat gempuran armada Valserius kemarin."

"Mereka kehilangan rasa percaya pada pertahanan aliansi kita, Bara," potong Banyu Al-Fatih yang berdiri memeluk dada di balik pilar batu. "Jika kau tidak sanggup meyakinkan mereka malam ini, Aliansi Teratai Purba akan bubar sebelum perang puncak dimulai."

"Aku paham risiko ini, Banyu," ucap Bara Al-Mustafa dengan pandangan mata emas yang mantap dan dingin. "Rapat Agung ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menyatukan barisan."

Bara melangkah maju, mendorong pintu perunggu raksasa aula balairung. Suara gemuruh perdebatan sengit seketika membahana menembus telinga, memecahkan keheningan koridor.

"Kita tidak bisa terus mengorbankan prajurit kita demi taktik bocah Al-Mustafa ini!" teriak Raja Deravosa dari Klan Api, menghantamkan tinjunya yang berapi ke meja batu. "Benteng selatan kita nyaris rata ditelan meriam tulang musuh!"

"Tenangkan dirimu, Deravosa!" sela Tetua Samudra At-Thahira dengan suara serak namun berwibawa. "Tanpa kepemimpinan Bara dan perlindungan perisai Guntur, Benteng Karang Samudra sudah menjadi lautan bangkai!"

"Tapi kita butuh kepastian, bukan sekadar janji-janji manis!" raung Penguasa Pegunungan Utara seraya berdiri mengacungkan kapak gigantisnya.

Bara Al-Mustafa melangkah ke pusat ruangan, menghentakkan dasar sarung Pedang Peraknya ke lantai batu. BUMMM! Gelombang dorongan cahaya perak merekah di udara, menghentikan seluruh teriakan para raja dalam sekejap mata.

"Selamat malam, Para Penguasa dan Raja Benua Barat," ucap Bara Al-Mustafa dengan suara tenang namun membekukan perdebatan di aula.

🪷 🪷 🪷

Seluruh mata para raja dan penguasa berzirah megah tertuju pada Bara Al-Mustafa. Suasana balairung mendadak hening, hanya tersisa deru api dupa dan hembusan angin malam yang menerobos celah jendela batu.

"Bara Al-Mustafa," pangkas Raja Deravosa dengan nada sinis, menyilangkan kedua tangannya yang kekar. "Kau memanggil kami semua ke Rapat Agung ini setelah kekalahan kita di Danau Tujuh Misteri. Bicara! Apa yang ingin kau sampaikan?"

"Aku memanggil kalian bukan untuk meratapi kekalahan kemarin, Raja Deravosa," sahut Bara Al-Mustafa, menatap lurus mata sang Raja Api tanpa sedikit pun keraguan. "Aku memanggil kalian untuk menyatukan seluruh pedang di benua ini di bawah satu komando taktik."

"Satu komando?!" sela Penguasa Utara seraya tertawa parau yang dingin. "Kau baru seorang pemuda! Bagaimana mungkin kami mempercayakan nasib ratusan ribu rakyat dan ksatria kami di tanganmu?!"

"Karena hanya Bara yang memegang pecahan jiwa Archon di dalam Pedang Perak!" potong Laras Al-Humaira melangkah berdiri di samping Bara, memancarkan pendaran cahaya dari Mahkota Teratai Tujuh Warna. "Dan hanya aliansi inilah yang menghalangi Kaisar Kegelapan dari memusnahkan benua ini!"

"Mahkota Teratai milikmu sendiri sempat menghitam dan layu, Putri Laras!" cibir perwira senior dari Klan Tanah. "Bagaimana kami bisa mempercayai sihir penyembuh yang nyaris runtuh?!"

"Tutup mulutmu!" bentak Guntur Al-Ghazi seraya melangkah maju, menghantamkan Perisai Naga Emasnya hingga lantai aula meretak. "Jika bukan karena sihir Laras dan taktik Fajar, kalian semua sudah menjadi mayat yang membusuk di telaga bawah tanah!"

"Cukup, Guntur!" cegah Bara Al-Mustafa mengacungkan tangannya.

"Dengar, Para Penguasa," lanjut Bara seraya menarik gulungan peta raksasa dan membentangkannya di tengah meja bundar. "Kaisar Kegelapan tidak bertempur untuk menguasai tanah atau benteng kalian. Ia bertempur untuk meleburkan seluruh jiwa hidup ke dalam Gerbang Kepunahan."

"Lalu apa rencanamu, Bara?!" tanya Tetua Samudra At-Thahira, condong ke depan memperhatikan garis peta. "Armada Valerius kini mengepung jalur laut dan darat menuju markas utama musuh."

"Taktik kita sederhana namun mematikan," tegas Fajar Nur-Zaman melangkah mendekati meja. "Kita tidak akan bertahan lagi di balik tembok benteng. Kita akan membagi pasukan menjadi tiga sayap penyerang dan menghantam pusat Tahta Kegelapan secara bersamaan!"

🪷 🪷 🪷

Gagasan Fajar Nur-Zaman menyerang langsung pusat Tahta Kegelapan memicu gelombang bisik-bisik ketakutan di antara para raja. Beberapa pemimpin klan saling bertukar pandang dengan raut wajah tidak percaya.

"Menyerang Tahta Kegelapan secara langsung?!" seru Raja Dravos membelalakkan mata. "Itu sama saja menyerahkan leher pasukan kita ke dalam lubang pembantaian!"

"Jika kita terus bertahan di benteng ini, musuh akan memutus pasokan logistik dan menghancurkan kita satu per satu!" balas Fajar Nur-Zaman cepat. "Lihat peta ini! Valerius menggunakan Mutiara Hitam Abadi untuk memompa racun ke seluruh sungai utama!"

"Fajar benar," tambah Banyu Al-Fatih seraya menunjuk aliran sungai di peta. "Dalam lima hari, seluruh sumber air bersih di Benua Barat akan beracun total. Kita tidak punya waktu untuk bertahan!"

"Tapi membagi pasukan menjadi tiga sayap hanya akan memperlemah kekuatan tempur utama kita!" sela Penguasa Utara gelisah. "Sayap mana yang akan berhadapan langsung dengan Kaisar?!"

"Sayap tengah," jawab Bara Al-Mustafa mantap. "Dan aku sendiri yang akan memimpin sayap tengah tersebut bersama Aliansi Teratai Purba."

Lihat selengkapnya