Hujan lebat mengguyur lereng Lembah Kelam Danau Tujuh Misteri, membasahi tenda-tenda kemah yang berdiri remang di bawah bayang-bayang tebing obsidian. Di dalam tenda utama, Bara Al-Mustafa duduk sendirian di atas pilar batu mati. Pandangannya terpaku kosong pada bilah pedang peraknya yang kini tampak meredup, tak lagi meletupkan pendar cahaya murni seperti sedia kala.
"Mengapa energi perak ini tak mau lagi menyatu dengan nadiku?" bisik Bara Al-Mustafa seorang diri, jemarinya bergetar saat mengusap ukiran purba di hulu pedang.
Langkah kaki halus terdengar menembus deru hujan di luar. Laras Al-Humaira menyibak tirai tenda yang basah, membawa sebuah lentera minyak cendana yang memancarkan kehangatan jingga. Matanya yang tajam langsung menangkap keheningan beracun yang melingkupi diri sang kapten.
"Kau belum menyentuh jatah makan malammu sejak senja tadi, Bara," ujar Laras Al-Humaira seraya meletakkan lentera di atas meja kayu yang bertumpuk peta benteng.
"Aku tidak merasa lapar, Laras," sahut Bara tanpa beralih menatap pedangnya. Napasnya terhela berat, menyimpan beban yang amat menekan dadanya.
"Bukan sekadar tidak lapar," tumpas Laras seraya melangkah mendekat, mengamati bahu Bara yang terkulai lesu. "Ada keraguan besar yang sedang memakan jiwamu dari dalam. Apakah ini terkait kekalahan kita di gerbang segel kemarin?"
"Bagaimana aku tidak ragu, Laras?!" bentak Bara tiba-tiba, mendongak menatap Laras dengan mata yang diselimuti kabut keputusasaan. "Fajar dikendalikan kegelapan tepat di depan mataku, Banyu terbaring kritis, dan Penguasa Teratai Hitam bangkit karena kecerobohanku sendiri!"
"Kecerobohanmu?" tanya Laras dengan dahi berkerut halus. "Pertempuran itu adalah perangkap yang dirancang rapi oleh musuh. Tak ada satu pun dari kita yang bisa memprediksi kejatuhan Fajar!"
"Tapi aku adalah kapten tim ini!" raung Bara penuh penyesalan seraya meninju pilar batu di sampingnya. BAM! "Jika kepemimpinanku saja tak sanggup melindungi kawan terdekatku dari jeratan kegelapan, bagaimana mungkin aku pantas memimpin sebelas ksatria menghadapi ancaman abadi?"
Laras menarik napas panjang, menatap lekat-lekat pada gejolak emosi di wajah Bara. "Kau mulai meragukan takdirmu sendiri, Bara Al-Mustafa."
"Bukan hanya takdirku," bisik Bara bergetar, menundukkan kepalanya dalam-dalam ke atas lutut. "Aku mulai ragu apakah pedang perak ini memang ditakdirkan untuk menghancurkan Teratai Hitam... atau justru membakar kita semua menjadi abu."
🪷 🪷 🪷
Keheningan di dalam tenda terasa kian menindas, hanya diisi oleh suara deru angin malam dan hujan yang menampar dinding kain canvas. Laras Al-Humaira melangkah perlahan mengelilingi meja peta, lalu menarik busur kayu cendananya dari sandaran bahu.
"Bara, tatap mataku," perintah Laras dengan suara rendah namun memancarkan wibawa yang tak bisa dibantah.
Bara mengangkat wajahnya yang pucat secara perlahan. "Laras... tolong biarkan aku sendiri sejenak. Aku butuh menenangkan alur mana dalam tubuhku."
"Menenangkan alur mana, atau melarikan diri dari tanggung jawabmu?" bidas Laras tajam, melangkah satu tapak lebih dekat hingga bayangan tubuhnya menutupi pendar lentera. "Sejak pertempuran di lorong obsidian, kau membiarkan rasa bersalah itu menggerogoti fokusmu. Kau menatap kawan-kawanmu dengan pandangan seorang penakut!"
"Aku bukan penakut!" tegas Bara berdiri sergap, hulu pedang peraknya meletupkan percikan pendar putih yang sangat tipis dan tak stabil. "Aku takut kehilangan kalian! Apakah kau tahu bagaimana rasanya melihat Banyu memuntahkan darah demi menahan serangan yang seharusnya Kuhadapi?!"
"Kami semua bertaruh nyawa bukan karena paksaanmu, Bara!" balas Laras dengan mata memancarkan kejujuran murni. "Banyu mempertaruhkan dadanya karena dia mempercayaimu sebagai pemimpin! Zahra mengangkat cerminnya di tengah gempuran karena dia yakin kau akan menyelesaikan tebasan akhir!"
"Tapi Fajar jatuh!" teriak Bara dengan suara serak menahan sesak di tenggorokan. "Orang yang paling kupercayai untuk mengarahkan angin kita justru menjadi tangan kanan musuh! Bagaimana jika tebasan berikutnya mengenai kalian? Bagaimana jika tebasanku gagal lagi?"
"Kalau begitu tebaslah dengan seluruh jiwa yang tersisa, tanpa keraguan!" sahut Laras seraya mengibaskan tali busurnya. TWANG! Getaran dawai busur cendana memancarkan denyut sihir murni yang mengusir hawa dingin di udara.
"Tak semudah itu, Laras," desah Bara terduduk kembali, memegangi kepalanya yang terasa dihantam gempa. "Pedang perak ini merespons kejelasan niat pemiliknya. Saat hatiku diguncang keraguan seperti ini, bilahnya tak lebih dari sekadar besi tumpul."
"Maka tugasku malam ini adalah mengasah kembali niatmu yang tumpul itu," tutur Laras penuh keteguhan seraya memegang busurnya erat-erat. "Kawan-kawan di luar sedang berjuang memulihkan luka mereka di bawah guyuran hujan, sementara kapten mereka mati rasa di dalam tenda."
"Apakah kau pikir aku menikmati keadaan ini?" tanya Bara menatap Laras penuh kepedihan.
"Buktikan padaku bahwa kau tidak menikmatinya," pancing Laras seraya menarik anak panah cahaya dari tempatnya, mengarahkannya tepat ke lantai batu di antara kaki Bara. "Angkat pedangmu dan buktikan padaku bahwa api pemimpin Danau Tujuh Misteri belum padam!"
🪷 🪷 🪷
Pertumpahan tekat di dalam tenda terhenti mendadak saat gelombang getaran asing menjalar dari dasar tanah Lembah Kelam. Lampu lentera minyak cendana bergoyang hebat, lalu padam seketika dalam sekali hembusan hawa membeku.
"Aura ini..." gumam Laras Al-Humaira berbalik cepat menuju pintu tenda, memasang posisi siaga penuh.
"Sihir penyusup milik Teratai Hitam!" seru Bara Al-Mustafa mencabut pedang peraknya, meski pendar cahaya pada bilahnya tampak meliuk redup tak menentu.
Tirai tenda menyibak keras, dan tiga sosok makhluk bayangan bertubuh kurus dengan mata merah darah melompat masuk. Bersenjatakan belati melengkung yang meneteskan racun, mereka meluncur meledakkan gelombang angin kelam menuju tempat Bara dan Laras berdiri.
"Awas, Laras!" jerit Bara melompat memotong jalan.
CLANG!
Bara menahan tebasan tiga belati racun secara bersamaan dengan pedang peraknya. Namun, karena keraguan yang masih menyumbat aliran mananya, dorongan sihir musuh membuat Bara terhuyung mundur, matanya membelalak saat lututnya terhempas ke tanah.
"Kekuatanmu sungguh menyedihkan, Kapten Ksatria!" ejek salah satu penyusup bayangan dengan suara melengking menggores telinga. "Penguasa Teratai Hitam benar, kau hanyalah wadah kosong tanpa ketetapan jiwa!"
"Jangan berani menyentuhnya!" raung Laras Al-Humaira seraya melepaskan dua anak panah cahaya berturut-turut dari jarak dekat.
STRIKE! STRIKE!
Anak panah Laras menghantam dada dua penyusup bayangan, membakar tubuh mereka menjadi asap hitam pekat. Namun, penyusup ketiga berhasil memanfaatkan celah tersebut untuk mengayunkan belati racunnya ke arah leher Laras yang terbuka.