Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #84

BINTANG PENUNJUK JALAN

Gemuruh dahsyat menggetarkan tanah di Sektor Lorong Kebintangan. Udara terasa sangat tebal oleh aura kegelapan purba yang dimuntahkan oleh Entitas Kegelapan Kuno—sesosok makhluk tanpa wujud pasti yang tercipta dari manifestasi kebencian Ratu Eclipsa. Kabut hitam pekat bergulung-gulung membungkus seluruh lorong, menelan pendar cahaya dari dinding batu dan menyisakan kegelapan abadi yang mencekam.

"Tetap dalam formasi pelindung!" teriak Bara Al-Mustafa seraya mengacungkan pedang peraknya yang meredup dihantam aura musuh. "Jangan biarkan entitas ini memisah-misahkan kita!"

"Serangan fisikku tidak mempan sama sekali, Bara!" balas Banyu Al-Fatih seraya mengayunkan perisai raksasanya untuk menahan gempuran tentakel aura hitam. "Setiap kali pedang atau perisai menghantam tubuhnya, serangan kita justru terserap!"

"Aura ini merusak konsentrasi sihir kita!" jerit Laras Al-Humaira seraya memegangi kepalanya yang mendenging keras. "Sangat sulit untuk memfokuskan Inti Jiwa!"

Di garis tengah barisan, Zahra Mentari memegang Busur Cahaya Mentari dengan erat. Matanya berkedip cepat di tengah kibasan angin dingin yang berbau amis. Jemari tangannya gemetaran saat menyeimbangkan posisi berdiri di atas batuan yang terus bergetar hebat. Sebagai ksatria pemanah yang mengandalkan ketajaman penglihatan, Zahra merasakan ada yang tidak beres dengan pergerakan entitas raksasa di hadapan mereka.

"Setiap kali entitas itu menyerang, ada jeda Getaran Jiwa yang aneh," bisik Zahra Mentari pada dirinya sendiri.

"Zahra! Awas di samping kirimu!" jerit Samudra At-Thahira seraya mendorong benteng air murni untuk menangkis tentakel kehitaman yang meluncur secepat kilat ke arah Zahra.

BOOOM!

Benteng air Samudra meledak menjadi uap tebal saat bertabrakan dengan tentakel entitas. Zahra terdorong beberapa langkah ke belakang, namun matanya tetap terkunci pada pusat kabut hitam tempat entitas itu bersemayam.

"Terima kasih, Samudra!" seru Zahra Mentari seraya menarik tali busurnya. "Aku butuh ruang dan waktu untuk mengamati pola auranya!"

"Kami akan memancing perhatiannya, Zahra!" balas Fajar Nur-Zaman seraya membuka kitab mantra pelindung. "Temukan cara untuk menembus pertahanannya!"

"Aku tidak bisa membidik tanpa tahu di mana Inti Jiwanya bersembunyi," gumam Zahra seraya menajamkan pandangan mata batinnya. "Tapi aku yakin, sebaik apa pun perlindungan kegelapan ini, pasti ada celah kecil yang tersembunyi."

🪷 🪷 🪷

Entitas Kegelapan Kuno meraung nyaring, memancarkan gelombang sonik yang membuat seluruh pilar batu Lorong Kebintangan retak berkeping-keping. Bayangan-bayangan hitam mewujud menjadi ratusan cakar tajam yang membendung pergerakan sembilan ksatria Sumpah Sembilan Bintang. Pertempuran sengit meletus dalam skala besar, memenuhi lorong dengan percikan api sihir dan raungan kemarahan.

"Teknik Badai Angin Tajam!" teriak Bayu Al-Asad seraya melepaskan puluhan tebasan angin dari busurnya.

Namun, tebasan angin itu menguap begitu saja saat menyentuh permukaan tubuh entitas yang elastis bagaikan lautan minyak hitam. Entitas itu membalas dengan meledakkan cambuk aura yang menghempaskan Bayu dan Embun Al-Khansa menghantam dinding pualam.

"Serangan gabungan kita pun tidak berpengaruh!" rintih Embun Al-Khansa seraya berusaha menyembuhkan luka lecet di lengan Bayu. "Tubuhnya tidak memiliki bentuk padat!"

"Ini bukan sekadar makhluk sihir biasa, Teman-teman!" pangkas Fajar Nur-Zaman seraya menahan gumpalan kabut racun dengan perisai mantra. "Ini adalah gumpalan energi murni yang terus beregenerasi dari sihir Istana Gerhana!"

Di tengah kekacauan pertempuran, Zahra Mentari memanjat pilar batu yang setengah runtuh. Dari ketinggian itu, ia memejamkan mata sejenak, mematikan seluruh gangguan suara pertempuran dan mengaktifkan teknik warisan sukunya: Penglihatan Mata Mentari. Ketika mata Zahra terbuka kembali, iris matanya memancarkan pendar emas berkilauan yang sanggup menembus lapisan spektrum energi sihir.

"Tunjukkan padaku di mana jantungmu berdetak..." bisik Zahra Mentari penuh konsentrasi.

Melalui Penglihatan Mata Mentari, pandangan Zahra berubah total. Dunia di sekitarnya menjadi transparan, dan tubuh Entitas Kegelapan Kuno terlihat sebagai bentangan benang-benang aura hitam yang saling melilit erat. Di tengah-tengah benang aura hitam yang begitu pekat, Zahra melihat titik pendar kecil berwarna keemasan yang berdenyut tidak stabil setiap tiga detik sekali.

"Itu dia!" seru Zahra Mentari dengan dada berdebar kencang. "Pusat rotasi energinya!"

"Kau menemukan sesuatu, Zahra?!" teriak Bara Al-Mustafa dari bawah seraya menangkis hantaman cakar entitas dengan pedangnya.

"Entitas ini tidak abadi, Bara!" jawab Zahra Mentari penuh keyakinan dari atas pilar. "Di dalam dada kirinya, ada simpul pendar Inti Cahaya yang menjadi tumpuan seluruh regenerasi sihirnya!"

"Bagaimana cara kita menembus lapisan kabut pekat yang melindunginya?!" tanya Banyu Al-Fatih seraya menahan dorongan tubuh entitas dengan perisainya.

"Celah itu hanya terbuka selama setengah detik saat ia meluncurkan serangan skala besar!" terang Zahra seraya mengarahkan anak panah cahayanya tepat ke arah titik pendar keemasan tersebut. "Aku butuh kalian untuk memicu serangan terkuatnya sekarang juga!"

🪷 🪷 🪷

Mendengar instruksi Zahra Mentari, Entitas Kegelapan Kuno seolah menyadari bahwa rahasianya telah terbongkar. Makhluk itu memutar seluruh bagian tubuhnya yang penuh dengan mata merah menyala, memfokuskan kemarahannya secara mutlak kepada Zahra yang berdiri tinggi di atas pilar batu.

"Pemanah kecil yang lancang!" raung entitas itu dengan suara bergemuruh yang meretakkan lantai batu. "Kau tidak akan pernah bisa menyentuh inti keberadaanku!"

Puluhan cambuk hitam beracun meluncur bersamaan membakar udara, mengincar pilar tempat Zahra berdiri. Kecepatan serangan itu begitu dahsyat hingga memicu ledakan angin pekat yang membutakan mata.

"Zahra! Awas!" jerit Mega Nur-Aisyah panik seraya mengacungkan ramuan pelindung.

"Jangan biarkan serangan itu menyentuh Zahra!" bentak Bara Al-Mustafa seraya meloncat ke udara. "Banyu, Laras! Eksekusi pertahanan lapis ganda!"

Lihat selengkapnya