Kabut pekat berbisa sisa pertempuran Danau Teratai Tujuh Misteri masih mengendap tebal di ruang persembunyian bawah tanah. Suasana mencekam begitu terasa ketika erangan kesakitan terdengar dari balik dinding batu. Bara Al-Mustafa terbaring kaku dengan bibir membiru, dikelilingi oleh Laras Al-Humaira, Banyu Al-Fatih, Guntur Al-Ghazi, Fajar Nur-Zaman, Bayu Al-Asad, Samudra At-Thahira, dan Zahra Mentari. Racun jiwa dari Entitas Kuno terus menggerogoti energi kehidupan sang ketua rombongan.
"Detak jantungnya semakin melemah, Mega!" bisik Laras dengan nada penuh kecemasan seraya menggenggam erat jemari Bara yang dingin. "Kita tidak punya banyak waktu!"
Mega Nur-Aisyah berlutut di samping tempat tidur batu, mengamati jalur vena hitam yang merambat cepat dari leher hingga pelipis Bara. "Racun ini bukan merusak daging, Laras. Ini adalah racun terkutuk yang mengikis inti jiwa."
"Apakah sihir penyembuhan biasa tidak sanggup menahannya lagi?" tanya Banyu seraya menatap cemas ke arah Mega dan Embun.
"Sihir biasa justru akan menjadi pakan bagi racun ini," sahut Embun Al-Khansa, yang sedang mengaduk sisa-sisa kristal air di meja alkimia. "Insiden pemicu racun ini diaktifkan oleh pecahan energi kegelapan saat Bara menahan tebasan entitas kuno tadi."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" sela Guntur gundah. "Kita tidak bisa hanya berdiam diri melihat Bara sekarat!"
Mega bangkit berdiri, menatap Embun dengan pandangan mantap dan berani. "Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan Bara dan memperkuat jiwa kita semua dari gempuran musuh. Kita harus meracik Ramuan Penyucian Jiwa."
"Ramuan Penyucian?" tanya Samudra seraya mengerutkan dahi. "Ramuan legenda yang membutuhkan kombinasi Air Teratai Tujuh Warna dan Ekstrak Akar Suci?"
"Tepat sekali, Samudra," jawab Mega tegas. "Embun dan aku akan meracik formula penguat jiwa tersebut sekarang juga."
"Tapi proses peracikan itu membutuhkan presisi tinggi dan stabilitas mana murni," tegas Fajar memberi peringatan taktis. "Setitik kesalahan reaksi alkimia dapat meledakkan seluruh tempat persembunyian ini."
"Kami tahu risikonya, Fajar," kata Embun mantap, memegang tongkat peraknya. "Namun demi Bara dan keberlangsungan perjuangan kita, kami siap mengambil risiko tersebut."
"Bantu kami menjaga perimeter!" seru Mega kepada kawan-kawannya. "Proses pembuatannya dimulai sekarang!"
🪷 🪷 🪷
Mega dan Embun segera bergerak cepat menuju altar alkimia kuno yang terletak di sudut ruangan bawah tanah. Di atas meja batu pirus tersebut, berjejer belasan botol kaca kristal, cawan perak, serta dua wadah air suci yang berhasil diselamatkan Samudra dari dasar Danau Tujuh Misteri. Suasana di sekitar altar terasa sangat magis sekaligus tegang.
"Embun, persiapkan pelindung pemurni di sekeliling meja ini," instruksi Mega seraya menuangkan cairan dasar ke dalam kuali perunggu kecil.
"Siap, Mega! Sihir Penyeimbang Teratai!" ucap Embun lembut, mengibaskan tongkatnya untuk menciptakan lingkaran cahaya hijau melingkupi meja alkimia.
"Titik plot pertama kita dimulai dari mengekstrak Akar Suci ini," ujar Mega seraya mengambil sepotong akar emas yang berpendar temaram. "Suhu kuali harus dijaga pada tingkat yang sangat konstan."
"Gunakan air murni dari danau ini untuk meredam lonjakan energi fisika racun," sahut Embun, memandu aliran cairan bening ke dalam kuali.
Saat racikan mulai dipanaskan oleh sihir api alami milik Zahra dari kejauhan, asap tipis berwarna keemasan membumbung tinggi, mengisikan aroma wangi bunga teratai segar yang langsung menetralkan hawa pengap di ruangan bawah tanah tersebut.
"Berhasil! Ekstrak dasar mulai menyatu!" seru Zahra kegirangan seraya menahan kestabilan aliran apinya.
"Jangan senang dulu, Zahra," peringat Fajar yang berdiri menjaga pintu masuk bersama Bayu. "Aroma manis ramuan ini justru bisa memancing perhatian sisa-sisa monster racun di luar sana."
"Fajar benar," timpal Bayu seraya mengusap belatinya. "Angin di luar mulai berubah arah. Ada getaran ghaib yang merayap mendekat ke pintu persembunyian."
"Tahan mereka di luar!" seru Laras dari samping Bara. "Jangan biarkan gangguan apa pun merusak fokus Mega dan Embun!"
"Kami akan menjadi benteng kokoh di sini!" janji Banyu dan Guntur seraya memasang kuda-kuda penuh di depan pintu rahasia.
Mega mengangguk pelan kepada rekan-rekannya, lalu memfokuskan kembali tatapannya pada ramuan yang mulai bergejolak. "Embun, masukkan kelopak Teratai Tujuh Warna sekarang!"
"Baik, Mega! Memasukkan kelopak pertama!" seru Embun penuh presisi, menjatuhkan helai bunga bercahaya biru ke dalam kuali.
Czzz!
Reaksi alkimia meletus seketika. Kuali perunggu itu berguncang hebat, memancarkan percikan cahaya magis yang menyilaukan seluruh sudut ruangan.
🪷 🪷 🪷
Gejolak di dalam kuali perunggu kian tak terkendali saat kelopak teratai bercahaya merah dan kuning dimasukkan bersamaan. Asap keemasan yang tadinya wangi berubah menjadi gelembung-gelembung uap bertekanan tinggi yang mengancam meretakkan kuali perunggu.
"Pusaran energinya terlalu kuat, Mega!" jerit Embun, menahan kuali dengan kedua telapak tangannya yang dilapisi aura hijau penyembuh. "Formula ini menolak penyatuan elemen!"
"Tahan, Embun! Jangan lepaskan genggamanmu!" teriak Mega. "Ini adalah Titik Jepit peracikan ramuan ini! Jika kita menyerah sekarang, bahan suci ini akan rusak dan jiwa Bara tidak akan bisa diselamatkan!"
"Ughhh! Panasnya menembus pelindung auraku!" keluh Embun, giginya merapat menahan rasa terbakar yang luar biasa di jemarinya.
"Biar aku bantu menyeimbangkan unsur cairnya!" seru Samudra yang melangkah mendekat, menancapkan tongkat kayunya ke lantai untuk menyalurkan energi penyeimbang air.
"Samudra, tahan pada saluran kiri!" panggil Mega. "Embun, usahakan alirkan sihir pemulihanmu langsung ke dalam inti gelembung racun!"