Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #86

BARISAN PERTAHANAN

Angin dingin bertiup kencang menghempaskan panji-panji perang yang terpasang di sekeliling Lapangan Barat Benteng Astra. Di tengah hamparan tanah berdebu tersebut, ribuan prajurit aliansi dari berbagai suku dan kerajaan berdiri dengan raut wajah diselimuti keraguan. Dentang benturan perisai dan desing gesekan pedang yang terdengar dari sudut lapangan sama sekali tidak memancarkan keteguhan batin, melainkan kecemasan yang teramat sangat pekat.

Guntur Al-Ghazi berdiri melipat kedua tangannya di atas dada, menatap barisan prajurit tersebut dengan mata menyipit tajam. Di sampingnya, Banyu Al-Fatih menancapkan perisai intan raksasanya ke tanah cadas, memperhatikan betapa goyahnya posisi kuda-kuda para ksatria muda di barisan depan.

"Lihatlah genggaman tangan mereka pada gagang tombak itu, Banyu," bisik Guntur dengan nada suara berat. "Jemari mereka bergetar hebat. Mereka bertarung dengan ketakutan, bukan dengan keyakinan."

"Ketakutan adalah hal yang sangat manusiawi, Guntur," sahut Banyu Al-Fatih seraya mengusap permukaan perisainya yang memancarkan pendar biru lembut. "Mereka tahu bahwa musuh yang akan kita hadapi di Danau Tujuh Misteri bukanlah prajurit biasa, melainkan ribuan siluman dan pasukan bayangan Istana Pusat."

"Namun ketakutan yang dibiarkan membusuk akan menghancurkan barisan pertahanan sebelum pertempuran bahkan dimulai!" tegas Guntur seraya mengambil satu langkah maju.

Guntur mencabut sepasang kapak kembarnya, lalu menghentakkannya ke udara hingga memercikkan kilatan petir kebiruan yang membahana di seluruh lapangan. Suara gemuruh itu seketika menghentikan seluruh aktivitas latihan dan mengalihkan perhatian ribuan pasang mata ke arah mereka berdua.

"Prajurit Aliansi! Dengar suaraku!" teriak Guntur Al-Ghazi dengan suara yang menggelegar menembus deru angin. "Apakah kalian datang ke benteng ini hanya untuk menunggu giliran mati di tangan musuh?!"

Seorang panglima muda berzirah perak dari Kerajaan Lembah melangkah keluar dari barisan dengan napas terengah-engah. "Kami tidak takut mati, Ksatria Guntur! Tapi bagaimana mungkin pedang dan tombak biasa kami sanggup menembus ilmu kebal dan sihir hitam pasukan bayangan itu?!"

"Tombakmu tidak sanggup menembus mereka karena kau mengayunkannya tanpa keterikatan jiwa!" balas Banyu Al-Fatih seraya melangkah menyutradarai barisan pertahanan. "Senjata hanyalah perpanjangan dari tekad batin kalian!"

"Hari ini, aku dan Banyu tidak akan mengajarkan cara mengayunkan pedang!" seru Guntur seraya mengacungkan kapaknya tinggi-tinggi. "Kami akan menempa ulang jiwa kalian menjadi benteng baja yang tak teroyakkan!"

🪷 🪷 🪷

Matahari mulai meninggi di atas Lapangan Barat, memancarkan terik yang membakar kulit para prajurit. Banyu Al-Fatih membagi ribuan prajurit aliansi menjadi puluhan formasi barikade melingkar, sementara Guntur Al-Ghazi berdiri di tengah-tengah mereka dengan aura petir yang mulai menyelimuti sepasang kapaknya.

"Dengarkan intstruksiku dengan cermat!" panggil Banyu Al-Fatih seraya memegang perisai intannya. "Pertahanan terkuat tidak dibangun dari ketebalan zirah besi, melainkan dari kerapatan dan kepercayaan antar perisai rekan di samping kalian!"

"Bagaimana kami bisa saling percaya jika kami berasal dari suku yang berbeda dan baru pertama kali bertemu di lapangan ini, Ksatria Banyu?" tanya seorang prajurit pemanah dari Suku Cendana dengan nada ragu.

"Di lapangan latihan ini, kalian mungkin berasal dari suku yang berbeda!" jawab Banyu dengan tegas dan bernada lembut. "Namun di medan perang nanti, darah yang mengalir dari luka kalian memiliki warna merah yang sama! Musuh tidak akan bertanya dari mana asal kalian sebelum menebas leher kalian!"

"Cukup bicaranya, Banyu! Biarkan mereka merasakan sendiri tekanan pertempuran yang sesungguhnya!" seru Guntur Al-Ghazi seraya melompat tinggi ke udara!

Guntur menghantamkan kapak kembarnya ke tanah pelataran, melepaskan gelombang kejut petir buatan yang menyambar lurus ke arah formasi pertahanan prajurit aliansi!

BOOMMM!

Gelombang kejut itu seketika mencerai-beraikan barisan depan. Puluhan prajurit terlempar menghantam tanah, merintih kesakitan tatkala perisai kayu mereka pecah berkeping-keping dihantam petir Guntur.

"Berdiri!" bentak Guntur seraya menunjuk para prajurit yang tergeletak. "Musuh di lapangan pertempuran tidak akan memberikan kalian waktu untuk merintih atau mengeluh!"

"Ksatria Guntur terlalu keras kepada kami!" jerit panglima muda Kerajaan Lembah seraya berusaha bangkit bertumpu pada pedangnya. "Serangan seperti itu tidak mungkin bisa ditahan oleh prajurit biasa!"

"Serangan itu sangat mungkin ditahan jika kalian menyatukan aura perisai kalian!" sela Banyu Al-Fatih seraya melangkah ke tengah-tengah prajurit yang terhempas.

Banyu merangkul bahu panglima muda itu, menyalurkan sedikit pendar air murni untuk meredakan rasa sakit di lengannya. "Tatap mataku, Panglima. Jangan menahan gelombang musuh sendirian. Salurkan tekanan itu ke perisai rekan di sebelah kirimu, dan biarkan rekan di sebelah kananmu menopang berat pijakan kakimu."

"Apakah cara sederhana seperti itu benar-benar sanggup menahan ledakan petir Ksatria Guntur?" tanya prajurit pemanah seraya merapatkan barisan perisainya kembali.

"Uji sendiri perkataanku!" jawab Banyu seraya tersenyum mantap dan kembali berdiri di samping Guntur. "Kalian siap untuk putaran kedua?!"

🪷 🪷 🪷

Latihan intensif berlanjut hingga peluh membasahi seluruh tubuh para prajurit aliansi. Guntur Al-Ghazi terus menerus memborbardir barisan pertahanan dengan tebasan petir bertahap, sementara Banyu Al-Fatih bergerak cepat di antara barisan untuk membetulkan sudut kemiringan perisai dan pijakan kaki para prajurit.

Namun, kelelahan fisik yang sangat hebat mulai menggerogoti stamina pasukan aliansi. Beberapa prajurit muda mulai tumbang karena dehidrasi dan tekanan batin yang teramat tinggi.

"Aku... aku tidak sanggup lagi, Ksatria..." desah seorang prajurit tombak seraya menjatuhkan senjatanya ke tanah dan berlutut terengah-engah. "Tekanan ini terlalu berat... kita pasti akan dibantai di Danau Teratai Tujuh Misteri nanti..."

"Angkat senjatamu!" bentak Guntur Al-Ghazi seraya melangkah mendekati prajurit tersebut dengan raut wajah murka. "Musuh tidak akan pernah menunggu sampai kau siap atau menyuruhmu istirahat!"

"Guntur, tahan emosimu sejenak," panggil Banyu Al-Fatih seraya melangkah memotong jalan Guntur. "Pukulan tanpa arahan jiwa hanya akan mematahkan semangat mereka, bukan menempa keteguhan."

"Kita tidak punya banyak waktu, Banyu!" tentang Guntur dengan napas memburu. "Pasukan Istana Pusat bisa menyerang benteng ini kapan saja! Jika mereka terus memanjakan rasa lelah ini, seluruh aliansi ini akan rata dengan tanah!"

"Mereka bukan Ksatria Terbuang yang telah melewati tempaan bertahun-tahun seperti kita, Guntur," sahut Banyu tenang namun sarat ketegasan. "Mereka adalah ayah, saudara, dan anak-anak yang sukarela berdiri demi melindungi rumah mereka."

Sikap Banyu membuat Guntur terdiam sejenak. Guntur menatap jemari tangannya sendiri yang gemetar akibat kelelahan menyalurkan daya petirnya secara terus menerus, lalu mengalihkan pandangannya ke arah ribuan prajurit yang menatap mereka berdua dengan pandangan penuh kepasrahan.

Lihat selengkapnya