Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #87

ANGIN KEHIDUPAN

Langit di atas Benteng Astra mendadak diselimuti oleh mega kelabu yang berarak lambat, membawa hawa dingin menusuk tulang hingga ke relung batin para prajurit. Di atas menara pemantau tertinggi yang terbuat dari batu cadas hitam, Bayu Al-Asad mengepakkan sayap anginnya perlahan, menciptakan desau udara yang menggetarkan bulu roma siapa pun yang mendengarnya. Di bawah menara, ribuan pasukan aliansi berdiri tegang dalam keheningan panjang, menatap tajam ke arah ufuk timur tempat kabut tebal Istana Pusat mulai menggulung naik.

"Angin dari arah timur membawa aroma belerang yang sangat pekat, Bayu," panggil Guntur Al-Ghazi seraya melangkah mendekati dasar tangga menara dengan sepasang kapak terselip di pinggangnya. "Apakah pasukan bayangan itu mulai bergerak?"

"Bukan sekadar bergerak, Guntur," jawab Bayu Al-Asad dengan suara berat, matanya menatap tajam jauh ke garis horizon. "Ribuan siluman bawah tanah pimpinan Istana Pusat telah meninggalkan sarang mereka di Danau Tujuh Misteri. Mereka bergerak serentak mengepung benteng ini dari segala penjuru."

"Lalu apa rencana kita untuk memperingatkan seluruh klan di luar benteng yang masih terpencar?" tanya Banyu Al-Fatih yang menyusul naik membawa perisai intannya yang berkilau lembut.

"Kita tidak punya waktu untuk mengirim kurir berkuda," tegas Bayu Al-Asad seraya membentangkan sayapnya yang kini memancarkan pendar cahaya keemasan. "Aku harus menggunakan Sinyal Angin Kehidupan untuk merambatkan panggilan perang ini ke seluruh penjuru negeri dalam satu tarikan napas."

"Cara itu akan menguras seluruh tenaga dalam dan energi jiwamu, Bayu," sela Mega Nur-Aisyah yang muncul dari balik pintu batu dengan membawa kantong-kantong ramuan penguat stamina. "Tubuhmu belum sepenuhnya pulih dari luka pertempuran sebelumnya."

"Jika aku tidak menyebarkan sinyal ini sekarang, jutaan rakyat tak berdosa di lembah-lembah akan dibantai tanpa sempat menyelamatkan diri," balas Bayu Al-Asad dengan senyuman tenang penuh keyakinan. "Siapkan dirimu, kawan-kawan. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Bayu melompat ke ujung menara, merentangkan kedua sayap anginnya selebar-lebarnya menatap hamparan dunia di bawah sana.

🪷 🪷 🪷

Angin bertiup semakin kencang, menerbangkan helai rambut Bayu Al-Asad dan jubah para ksatria yang berdiri di pelataran benteng. Bayu memejamkan matanya rapat-rapat, mengatur detak jantungnya agar selaras dengan denyut alam semesta dan aliran angin di seluruh penjuru negeri.

"Dengarkan aku, hembusan angin dari barat hingga timur!" bisik Bayu Al-Asad dalam batinnya yang mulai memancarkan pendar hijau zamrud.

"Apakah dia benar-benar sanggup menjangkau Suku Lembah dan Suku Cendana yang berada di balik pegunungan curam itu?" bisik panglima muda Kerajaan Lembah dengan nada ragu kepada Guntur.

"Jika Bayu telah membulatkan tekadnya, angin di seluruh dunia ini akan menjadi perpanjangan lidahnya," jawab Guntur Al-Ghazi dengan dada membusung bangga. "Perhatikan baik-baik bagaimana sayapnya merambatkan gelombang suara."

Tiba-tiba, tubuh Bayu terangkat melayang ke udara oleh pusaran angin kecil yang berputar kencang mengelilingi menara pemantau. Sayap anginnya membentang sangat lebar, berubah warna menjadi pendar cahaya putih kebiruan yang menyilaukan mata.

WHOOSH!

Bayu menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan tiupan angin mahadahsyat yang disertai gelombang suara bergemuruh ke seluruh penjuru langit!

"Prajurit dan seluruh rakyat dari segala penjuru! Bangun dan bersiaplah!" seru Bayu Al-Asad dengan suara yang menggema menembus lembah dan gunung. "Istana Pusat telah mengibarkan bendera perang! Rapatkan barisan pertahanan kalian dan songsong fajar perlawanan!"

Gelombang suara itu meluncur bagaikan badai cahaya, menyusur hutan belantara, menyeberangi sungai-sungai besar, hingga membangunkan para pejuang di desa-desa terpencil.

"Suara itu... itu adalah Sinyal Angin Kehidupan Ksatria Bayu!" seru seorang tetua Suku Cendana seraya mengangkat tombaknya tinggi-tinggi. "Panggilan perang telah tiba! Ambil senjata kalian!"

Di Benteng Astra, Mega Nur-Aisyah memperhatikan pendar cahaya di sayap Bayu yang mulai meredup, memperlihatkan tetesan keringat bercampur darah yang keluar dari pori-pori kulit sang ksatria angin.

"Tenaganya terkuras terlalu cepat!" seru Mega dengan cemas. "Bayu, hentikan tiupan itu sebelum jiwamu terluka parah!"

🪷 🪷 🪷

Tekanan energi yang dilepaskan Bayu Al-Asad mulai berbalik membebani tubuhnya sendiri. Hembusan angin di sekitar menara pemantau berputar tidak stabil, menciptakan turbulensi hebat yang membuat bebatuan di sekeliling menara retak dan bergeser dari tempatnya.

"Bayu! Hentikan sekarang!" bentak Guntur Al-Ghazi seraya melompat menaiki tangga menara, hendak meraih tangan sahabatnya itu. "Jika kau teruskan, saluran meridian di sayapmu akan hancur permanen!"

"Belum... sebentar lagi..." desah Bayu Al-Asad dengan suara parau, bibirnya berdarah akibat menahan tekanan gelombang suara yang teramat besar. "Sinyal ini belum sampai ke ujung perbatasan Danau Tujuh Misteri..."

"Kau tidak harus memikul seluruh beban ini sendirian, Bayu!" seru Banyu Al-Fatih yang menyusul naik dan menancapkan perisai intannya ke lantai menara untuk meredam getaran angin liar tersebut.

Banyu menyalurkan pendar air murni ke punggung Bayu, mencoba mendinginkan panas luar biasa yang membakar pembuluh darah sang ksatria angin.

Lihat selengkapnya