Di dalam Ruang Strategi Utama yang tersembunyi di bawah reruntuhan Benteng Karang Samudra, bau asap dan sisa racun hitam masih tercium tajam. Suasana terasa dingin mendadak ketika Fajar Nur-Zaman membentangkan peta kulit naga raksasa di atas meja batu yang retak.
"Waktu kita tinggal beberapa jam sebelum pasukan utama Kaisar Kegelapan mengepung total, Fajar," pangkas Bara Al-Mustafa seraya menyarungkan Pedang Peraknya yang redup.
Fajar Nur-Zaman menggeser lensa pengamatnya, lalu meletakkan lima kristal taktik berwarna berbeda di atas peta. "Karena itulah kita tidak boleh lagi bertarung secara acak, Bara. Perang ini membutuhkan kepastian."
"Apakah kau sudah menemukan celah pada pertahanan musuh?" tanya Laras Al-Humaira, melangkah mendekat seraya menopang tongkat sihir teratainya.
"Bukan sekadar celah, Laras," sahut Fajar Nur-Zaman dengan pandangan mata yang tenang namun tajam. "Aku telah menyusun Taktik Akhir Lima Tahap untuk menghancurkan Tahta Kegelapan secara permanen."
"Lima tahap?!" sela Banyu Al-Fatih terperanjat dari pojok ruangan. "Musuh memiliki jutaan pasukan mayat hidup dan monster laut! Apakah lima tahapmu cukup untuk menembus benteng mereka?"
"Taktik ini tidak dirancang untuk menangani jumlah, Banyu," pangkas Fajar Nur-Zaman cepat. "Taktik ini dirancang khusus untuk memotong inti sihir Kaisar Kegelapan sebelum ia sempat menyerap seluruh jiwa di benua ini."
"Jelaskan pada kami sekarang, Fajar!" desak Bayu Al-Asad, meremas gagang belati suryanya yang tergores. "Kami siap melakukan apa saja!"
Fajar Nur-Zaman menunjuk kristal pertama yang berwarna keemasan. "Tahap Pertama: Pengumpanan Utama. Kita harus memancing perhatian Pangeran Valerius dan barisan pertahanan terdepan musuh keluar dari garis pantai."
"Siapa yang akan menjadi umpan itu, Fajar?" tanya Guntur Al-Ghazi seraya melangkah maju.
"Aku dan Banyu yang akan memimpin barisan umpan di sektor timur," sahut Guntur Al-Ghazi dengan dada tegap.
"Bagus," jawab Fajar Nur-Zaman tegap. "Begitu musuh terpancing, kita akan melancarkan Tahap Kedua, Ketiga, hingga Puncak tanpa memberi mereka waktu untuk bernapas."
🪷 🪷 🪷
Penjelasan Fajar Nur-Zaman terhenti sejenak ketika dinding Ruang Strategi berguncang keras akibat dentuman meriam tulang musuh di permukaan. Debu-debu halus berguguran menimpa peta raksasa di atas meja.
"Sisa benteng di atas mulai runtuh!" seru Zahra Mentari dari tangga lorong seraya memegang busur panahnya. "Pasukan gholem musuh sudah memasuki gerbang ketiga!"
"Abaikan guncangan itu, Zahra!" tegur Fajar Nur-Zaman tegas. "Dengarkan baik-baik detail rencana ini, karena kesalahan satu detik saja akan membunuh kita semua!"
"Lanjutkan, Fajar! Kami menyimak," pangkas Bara Al-Mustafa menatap intens wajah sang ahli taktik.
"Tahap Kedua adalah Pemutusan Jalur Logistik Energi," lanjut Fajar Nur-Zaman seraya menunjuk kristal merah. "Laras dan Zahra harus menyusup ke Menara Air Raksa untuk menghancurkan tiga sumur pasokan energi Setan"
"Tanpa pasokan dari sumur itu, benteng pelindung Kaisar akan melemah secara drastis," tambah Laras Al-Humaira mencerna ide tersebut. "Aku bisa menggunakan sihir murni teratai untuk menetralkan racunnya."
"Tepat," puji Fajar Nur-Zaman. "Setelah sumur energi runtuh, Tahap Ketiga dimulai: Pengisolasian Kaisar. Bayu dan pasukan taufan akan mengacaukan koordinasi komunikasi udara musuh menggunakan badai angin barat."
"Menyerang jalur udara mereka?" tanya Bayu Al-Asad dengan senyum tipis di bibirnya. "Itu keahlian utamaku, Fajar! Akan kubuat naga-naga hitam mereka saling bertabrakan di angkasa!"
"Lalu bagaimana dengan Tahap Keempat dan Kelima?" sela Banyu Al-Fatih penasaran.
"Tahap Keempat adalah Penembusan Inti," pangkas Fajar Nur-Zaman menatap Bara. "Bara, kau dan aku akan memimpin pasukan inti menembus Altar Utama saat garis pertahanan Kaisar terbuka lebar."
"Dan Tahap Kelima?" desak Bara Al-Mustafa.
"Tahap Kelima..." bisik Fajar Nur-Zaman dengan nada amat berat, "...adalah Penyegelan Jiwa Abadi. Tahap yang membutuhkan pengorbanan salah satu dari kita untuk mengunci Gerbang Kepunahan dari dalam."
🪷 🪷 🪷
Keheningan mencekam menyelimuti Ruang Strategi setelah Fajar Nur-Zaman mengungkapkan syarat penderitaan pada tahap terakhir rencana tersebut.
"Pengorbanan dari dalam?!" seru Laras Al-Humaira dengan mata melebar ketakutan. "Fajar! Apakah tidak ada cara lain selain mengunci gerbang dari dalam?!"
"Sistem Gerbang Kepunahan diciptakan oleh sihir purba, Laras," sahut Fajar Nur-Zaman seraya menunduk menatap jari-jemarinya yang bergetar. "Pintu itu tidak bisa dikunci dari luar. Harus ada sosok berjiwa murni yang menahan pasak kunci dari dalam dimensi kegelapan."
"Aku yang akan melakukannya!" potong Bara Al-Mustafa tanpa ragu sedikit pun, melangkah mendekati Fajar. "Aku adalah pemegang Pedang Perak! Ini adalah takdirku!"
"Tidak, Bara!" bentak Bayu Al-Asad marah. "Kau adalah pemimpin aliansi ini! Jika kau mengorbankan dirimu, seluruh perjuangan kita tidak akan ada artinya!"