Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #89

MALAM SEBELUM BADAI

Angin malam berembus dingin menyapu permukaan Danau Teratai Tujuh Misteri yang meredup. Riak air memantulkan pendar rembulan berbayang kelam, menandakan pertempuran akhir melawan Penguasa Teratai Hitam tinggal menghitung jam. Di tepi dermaga kayu usang, Bara Al-Mustafa duduk sendirian seraya menatap hamparan air telaga yang membisu.

"Kau belum tidur, Bara?" tanya Laras Al-Humaira seraya melangkah pelan mendekat, membawa jubah tebal dan membungkus bahu sang kapten.

"Bagaimana aku bisa tidur, Laras?" jawab Bara Al-Mustafa pelan seraya menatap bayangan pedang peraknya di atas permukaan air. "Setiap kali aku memejamkan mata, aku mendengar suara riak danau ini memanggil nama kita."

"Bukan hanya kau yang merasakannya," bisik Laras seraya duduk di samping Bara, menyilangkan jemarinya di atas lutut. "Seluruh sepuluh ksatria lainnya juga sedang terjaga di perkemahan. Hawa dingin malam ini terlalu pekat."

"Besok adalah puncaknya," Bara menghela napas berat, jemarinya mengepal di atas kayu dermaga yang basah oleh embun. "Aku tidak tahu berapa banyak dari kita yang akan kembali menyapa fajar lusa."

"Jangan berbicara seolah kita melangkah menuju kematian, Kapten," tegur Laras tajam namun lembut, menatap lekat mata sahabatnya. "Kita melangkah untuk merebut kembali kedamaian yang dicuri dariku, darimu, dan dari Danau Tujuh Misteri ini."

"Aku tahu, Laras," sahut Bara dengan senyum tipis yang getir. "Tapi rasa takut itu ada. Bukan takut akan matiku sendiri, melainkan takut kehilangan kalian semua."

"Perasaan takut itu wajar," sela sebuah suara berat dari balik kegelapan semak belukar. Banyu Al-Fatih melangkah keluar bersama Samudra At-Thahira, membawa dua obor kecil yang menyalakan pendar kehangatan.

"Banyu? Samudra?" ujar Laras terkejut melihat kehadiran kedua sahabatnya.

"Kami melihat pendar api kecil dari arah dermaga," tutur Samudra At-Thahira seraya menancapkan obor di pasir pantai. "Ternyata dua pemikir terbaik kita sedang berkumpul di sini."

"Duduklah," tawar Bara seraya menggeser posisinya di atas kayu dermaga. "Malam ini terlalu dingin untuk dilewatkan sendirian."

Banyu duduk perlahan, memegangi perisai intannya yang kini bertatahkan retakan-retakan emas bekas pertempuran lalu. "Jika esok adalah badai terakhir, maka malam ini adalah jeda bernapas kita."

"Tepat sekali," tambah Samudra seraya menatap riak danau. "Malam sebelum badai selalu menjadi saat di mana kejujuran jiwa kita teruji."

🪷 🪷 🪷

Satu per satu ksatria lainnya mulai berdatangan menyusuri jalan setapak tepi danau. Guntur Al-Ghazi berjalan bersisian dengan Bayu Al-Asad, disusul oleh Zahra Mentari, Embun Al-Khansa, Mega Nur-Aisyah, dan Fajar Nur-Zaman yang melangkah perlahan di garis belakang dengan wajah yang dipenuhi ketenangan baru.

"Lihat siapa yang berkumpul di sini," seru Guntur Al-Ghazi mencoba mencairkan suasana seraya meletakkan kapak birunya di atas rumput basah. "Apakah ada rapat rahasia yang tidak memberitahuku?"

"Tidak ada rapat rahasia, Guntur," sahut Zahra Mentari tersenyum manis seraya memeluk Cermin Surya Teratai di dadanya. "Kami hanya ingin bersamamu, bersama kalian semua."

"Duduklah di melingkar," ajak Bara Al-Mustafa, matanya berbinar menatap sebelas sahabatnya yang kini berkumpul membentuk lingkaran hangat di tepi Danau Tujuh Misteri.

"Fajar..." panggil Banyu Al-Fatih pelan, menatap ksatria angin yang kini telah terbebas dari jeratan sihir kelam Vespera. "Bagaimana kondisi alur manamu malam ini?"

"Sudah stabil, Banyu," jawab Fajar Nur-Zaman penuh rasa penyesalan yang jujur, menundukkan kepalanya di hadapan kawan-kawannya. "Aku... aku masih merasa tidak pantas duduk di antara kalian setelah apa yang kulakukan di Pintu Segel."

"Hentikan penyesalan itu, Fajar," potong Embun Al-Khansa lembut seraya memercikkan air embun dari selendang hijaunya ke bahu Fajar. "Kau dikendalikan oleh sihir jahat. Yang terpenting adalah kau telah kembali berjuang bersama kami."

"Embun benar," timpal Mega Nur-Aisyah seraya membuka manuskrip sucinya di bawah pendar rembulan. "Jiwa yang terbebas dari kegelapan adalah saksi terkuat bahwa persaudaraan kita lebih kokoh dari sihir apa pun."

"Terima kasih... terima kasih karena masih mempercayaiku," bisik Fajar dengan matanya yang berkaca-kaca.

"Kita adalah dua belas jiwa, Fajar," tegas Bayu Al-Asad seraya menepuk punggung Fajar dengan erat. "Satu terluka, kita semua merasakannya. Satu tersesat, tugas kita bersama untuk membawanya pulang."

"Dua belas jiwa, satu tujuan!" seru Guntur menirukan ikrar purba mereka, memicu gelak tawa kecil yang menghangatkan keheningan malam.

Bara menatap lingkaran sahabat-sahabatnya dengan kepuasan yang mendalam. Keraguan yang sempat membakar dadanya beberapa waktu lalu kini terkikis habis oleh kehadiran mereka. "Melihat kalian semua bersatu kembali di sini membuatku yakin bahwa kita siap menghadapi esok."

"Badai esok mungkin akan menjadi perang terbesar yang pernah disaksikan Danau Tujuh Misteri," ujar Samudra At-Thahira tenang. "Namun malam ini, kita milik satu sama lain."

🪷 🪷 🪷

Angin danau bertiup sedikit lebih kencang, menggoyangkan lidah api obor dan memutar daun-daun teratai di sepanjang pesisir. Di tengah lingkaran, Zahra Mentari meletakkan Cermin Surya Teratai di atas batu murni.

"Kak Bara," panggil Zahra Mentari pelan, menatap kaptennya dengan mata bulat yang polos. "Apakah setelah pertempuran esok selesai, kita masih bisa berkumpul seperti ini lagi?"

Bara Al-Mustafa tersenyum hangat, mengusap kepala Zahra dengan penuh kasih sayang. "Tentu saja, Zahra. Kita akan membangun kembali desa-desa di sekitar danau ini, dan kita akan duduk di sini setiap malam senja."

"Aku ingin mengajarkan anak-anak desa memanah," celoteh Laras Al-Humaira seraya mengelus busur kayu cendananya. "Aku ingin mereka tahu bahwa busur bukan hanya untuk membunuh, tapi untuk melindungi harapan."

"Dan aku akan membuka kedai batu kristal!" seluk Banyu Al-Fatih tertawa pelan. "Aku akan mengukir perisai-perisai kecil sebagai piala untuk anak-anak yang berani."

"Kedai kristalmu pasti sangat membosankan, Banyu," ejek Guntur Al-Ghazi diiringi tawa renyah. "Aku lebih memilih membuka sekolah tempa senjata! Kapak petirku akan jadi pajangan utama di dinding!"

Lihat selengkapnya