Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #90

GENDERANG PERANG AKHIR

Langit di atas benteng utama Istana Gerhana pecah menjadi bongkahan awan kehitaman yang memuntahkan kilatan petir darah. Suara gemuruh dari kedalaman bumi menggetarkan batuan pualam, menebarkan bau belerang dan besi berkarat yang menyengat hidung. Bara Al-Mustafa menggenggam erat gagang pedang peraknya, berdiri di garda terdepan barisan Sumpah Sembilan Bintang. Di sekeliling mereka, sisa-sisa reruntuhan menara membara oleh api sihir yang tak kunjung padam. Udara terasa sangat pekat, berat, dan dipenuhi aura kematian yang membelit dada.

"Dengarkan getaran di bawah pijakan kaki kita!" teriak Banyu Al-Fatih seraya menancapkan perisai raksasanya ke tanah, menahan guncangan gempa yang kian memuncak.

"Ini bukan sekadar gempa bumi biasa, Banyu!" pangkas Laras Al-Humaira seraya merentangkan rantai gaibnya yang memancarkan pendar perak pemurni. "Ini adalah resonansi pemicu dari Inti Sihir Kiamat!"

"Aura kegelapan dari puncak benteng meningkat sepuluh kali lipat!" tambah Fajar Nur-Zaman seraya membuka kitab catatannya yang halamannya berpendar keemasan liar. "Sesuatu yang amat mengerikan sedang dibangunkan dari kedalaman istana!"

Dari balik asap tebal di puncak menara utama, perlahan-lahan muncul bayangan raksasa sesosok instrumen purba yang terbuat dari tulang naga hitam dan kulit iblis. Genderang Perang Akhir—senjata legendaris Orde Bayangan yang telah tertidur selama ribuan tahun—kini berdiri megah, dikelilingi oleh pusaran petir darah.

"Apakah itu... Genderang Perang Akhir?!" bisik Zahra Mentari dengan mata terbelalak horor, jemarinya di tali Busur Cahaya Mentari membeku sejenak.

"Jangan biarkan nyali kalian ciut!" bentak Bara Al-Mustafa dengan suara menggelegar, menatap mata delapan sahabatnya satu per satu. "Hari yang kita takuti dan kita persiapkan selama bertahun-tahun akhirnya tiba di depan mata!"

"Bara benar!" seru Samudra At-Thahira seraya mengangkat Tongkat Kearifan Samudra tinggi-tinggi. "Takdir benua ini ditentukan oleh apa yang kita lakukan dalam beberapa jam ke depan!"

"Lihat ke puncak menara!" jerit Embun Al-Khansa seraya menunjuk ke arah bayangan tinggi di samping genderang purba.

Di atas podium menara, berdiri sosok Ratu Eclipsa dengan jubah hitam keemasan yang berkibar tertiup angin badai. Di tangan kanannya, sang Ratu memegang penabuh genderang berukir simbol tengkorak bersayap.

"Hari penghakiman telah tiba, para ksatria lemah!" gema suara Ratu Eclipsa membelah petir, merambat langsung ke dalam benak setiap ksatria.

🪷 🪷 🪷

Ratu Eclipsa mengangkat penabuh tulang naga tinggi-tinggi ke udara, membiarkan kilatan petir darah menyambar ujung senjata tersebut sebelum menghantamkan penabuh itu ke permukaan Genderang Perang Akhir dengan sekuat tenaga.

DUMMMMMMMMMMMMMMMMM!

Dentuman pertama genderang purba bergema dahsyat, memicu gelombang kejut berwarna ungu kehitaman yang menjebol benteng luar istana menjadi debu. Udara bergetar begitu hebat hingga gelombang sonik tersebut menusuk gendang telinga dan merusak konsentrasi sihir para ksatria. Banyu Al-Fatih dan Bayu Al-Asad seketika berlutut menahan rasa sakit yang luar biasa di kepala mereka.

"Arghhh! Gelombang dentuman ini... merusak Inti Jiwa secara langsung!" jerit Bayu Al-Asad seraya memegangi telinganya yang mulai meneteskan darah segar.

"Tetap bertahan!" teriak Samudra At-Thahira seraya memutar tongkatnya cepat, membentangkan Tirai Air Ketenangan untuk meredam gema sonik di sekeliling rombongan. "Air akan menyerap getaran beracun ini!"

"Dentuman ini bukan sekadar serangan sonik, Samudra!" pangkas Fajar Nur-Zaman seraya menunjuk ke arah gerbang istana yang mulai retak melingkar. "Ini adalah panggilan kebangkitan untuk seluruh Pasukan Bayangan Abadi!"

Tepat setelah Fajar menyelesaikan ucapannya, batuan di pelataran istana terbelah. Dari dalam retakan tanah yang membara, merayap keluar ribuan prajurit berzirah besi hitam dengan mata menyala merah darah. Tidak hanya itu, monster-monster raksasa bertangan enam dan naga-naga bayangan bersayap tulang beterbangan keluar dari jurang, memenuhi angkasa di atas Istana Gerhana.

"Jumlah mereka... puluhan ribu!" gumam Mega Nur-Aisyah dengan bibir memutih terperanjat menatap lautan musuh yang mengepung mereka.

"Mereka mengepung seluruh akses jalan keluar!" tambah Zahra Mentari seraya membidikkan anak panah cahayanya ke arah barisan terdepan musuh.

"Inilah awal dari akhir dunia kalian!" gelak Ratu Eclipsa dari puncak menara seraya mengayunkan penabuh genderang untuk dentuman kedua. "Ratakan para ksatria Sumpah Sembilan Bintang tanpa sisa!"

"Sembilan Bintang! Buka formasi tempur melingkar!" perintah Bara Al-Mustafa menggelegar, menghunus pedang peraknya yang memancarkan pendar cahaya fajar murni. "Jangan beri mereka celah untuk menembus garis tengah!"

"Banyu, tempatkan perisaimu di sayap kiri! Bayu, amankan angkasa bersama Zahra!" pangkas Laras Al-Humaira seraya melempar rantai gaibnya untuk memotong leher tiga prajurit bayangan terdepan.

"Darah dan kehormatan kita dipertaruhkan hari ini!" seru Banyu Al-Fatih seraya menghantamkan perisainya ke tanah, memicu benteng perak yang menahan gelombang pertama serangan lautan musuh.

🪷 🪷 🪷

DUMMMMMMMMMMMMMMMMM!

Dentuman kedua Genderang Perang Akhir meluncur membakar udara, melipatgandakan kecepatan dan kekuatan tempur puluhan ribu pasukan bayangan. Serangan bertubi-tubi dari monster raksasa dan prajurit berzirah hitam menghantam benteng perak milik Banyu Al-Fatih hingga memicu retakan-retakan besar yang memuntahkan percikan api sihir.

"Perisaiku... tidak sanggup menahan beban gempuran sebanyak ini sekaligus!" jerit Banyu Al-Fatih seraya menahan tumpuan kakinya yang terperosok ke dalam batuan pelataran.

"Sanggah dengan sihir es!" perintah Embun Al-Khansa seraya menancapkan tangannya ke tanah, menyemburkan lapisan kristal es purba untuk mempertebal benteng Banyu.

Lihat selengkapnya