Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #91

LANGIT TERBELAH

Awan kelabu yang menggantung tebal di atas Pegunungan Langit Semesta mendadak membiru pekat sebelum akhirnya terbelah menjadi retakan merah menyala. Angin dingin berganti menjadi hawa panas yang membakar kulit, membawa bau belerang dan kabut hitam racun. Bara Al-Mustafa berdiri tegak di puncak pilar pirus terdepan, memegang erat pedang peraknya yang berpendar aura emas. Di sekelilingnya, sembilan sahabat pilihannya—Laras Al-Humaira, Banyu Al-Fatih, Guntur Al-Ghazi, Fajar Nur-Zaman, Bayu Al-Asad, Mega Nur-Aisyah, Embun Al-Khansa, Samudra At-Thahira, dan Zahra Mentari—membangun benteng pertahanan terakhir.

"Perhatikan langit!" teriak Fajar menunjuk ke pusat retakan yang kian membara. "Pola sihir ini bukan lagi sekadar pemanggilan pasukan biasa!"

"Aura racun ini teramat pekat, Bara," bisik Laras seraya merentangkan busur keperakannya dengan jemari yang stabil. "Ini adalah awal dari serangan total mereka."

"Aku merasakannya, Laras," sahut Bara dengan nada rendah dan mantap. "Semuanya, rapatkan barisan!"

Seketika, insiden pemicu meletus tanpa peringatan. Langit yang terbelah memuntahkan pilar cahaya hitam berdiameter ratusan meter tepat ke tengah medan pertempuran. Gelombang kejut air dan tanah terhempas hebat, meruntuhkan tebing-tebing pirus dan melempar ribuan bebatuan ke udara. Dari dalam pilar cahaya tersebut, ribuan makhluk kegelapan berzirah duri dengan sayap kelelawar raksasa meluncur turun bagai hujan meteor hitam.

"Mereka datang dengan seluruh armada utama!" seru Banyu seraya menghentakkan perisai raksasanya ke tanah.

"Guntur, tahan garis depan!" perintah Fajar menatap ke atas. "Bayu, ciptakan dinding angin pembalik untuk memecah formasi penerjun musuh!"

"Siap, Fajar!" balas Bayu cepat seraya mengayunkan dua belatinya, memicu pusaran angin topan yang berputar cepat memotong jalur jatuh pasukan musuh.

"Mega, Embun! Siapkan mantra pemurni area luas!" seru Samudra seraya menancapkan tongkat airnya ke lantai batu.

"Sihir Pemurni Jiwa sudah siap!" balas Mega bersama Embun, mengarahkan pendar hijau suci dari tongkat mereka untuk memagari zona tempur kawan-kawan mereka.

"Bara, lihat ke puncak pilar utama!" jerit Zahra menunjuk sesosok wujud raksasa yang perlahan merayap keluar dari retakan langit. "Itu bukan cuma prajurit... Sang Penguasa Takdir Abadi ikut memimpin serangan ini secara langsung!"

"Tetap tenang!" seru Bara nyaring, menatap lurus ke arah musuh abadi mereka. "Kita tidak akan mundur walau selangkah pun!"

🪷 🪷 🪷

Ribuan serangga dan prajurit teratai hitam membanjiri dataran pirus dengan raungan yang memecahkan gendang telinga. Titik plot pertama memuncak saat seluruh armada kegelapan melancarkan gempuran serentak dari udara dan darat, menciptakan lautan api hitam yang melahap apa saja di hadapannya.

"Tahan benteng!" jerit Banyu, menahan benturan puluhan monster karang raksasa yang menghantam perisainya secara bersamaan.

Guntur melompat ke samping Banyu, memancarkan aura guntur keemasan dari kapak besarnya. "Hantaman Petir Purba!" teriak Guntur seraya meremukkan tanah, menciptakan gelombang kejutan listrik yang menghancurkan barisan depan musuh menjadi abu.

"Laras, panah bagian sayap pelindung mereka!" panggil Fajar dari atas pilar batu.

"Diterima, Fajar!" balas Laras. Ia melompat di udara, menarik tali busurnya rapat-rapat, lalu melepaskan lima anak panah cahaya sekaligus. "Hujan Cahaya Al-Humaira!"

Anak panah Laras melesat menembus kegelapan, melemparkan pendar keperakan yang meledakkan belasan monster terbang sebelum mereka sempat menyentuh barisan penyembuh.

"Banyu, perisaimu retak di sisi kiri!" peringat Embun seraya meluncurkan pendar cahaya pemulihan untuk memperkuat daya tahan benteng Banyu.

"Terima kasih, Embun! Aku masih bisa menahannya!" seru Banyu dengan napas terengah-engah.

"Samudra, alirkan air suci untuk memadamkan api belerang ini!" panggil Zahra seraya melemparkan kristal pelindung ke udara.

"Air Pemurni Danau Tujuh Misteri... bangkitlah!" seru Samudra, memanggil gelombang air raksasa yang menyapu api hitam dan mendinginkan medan pertempuran.

Di tengah kecamuk perang, Panglima Gerhana yang telah dibangkitkan kembali dengan zirah bayangan raksasa melayang turun tepat di hadapan Bara. Matanya yang menyala merah menatap Bara dengan kebencian abadi.

"Bara Al-Mustafa!" gaung Panglima Gerhana dengan suara yang menggetarkan jiwa. "Hari ini, langit terbelah untuk menjadi saksi atas kuburan kalian semua!"

"Kata-kata manis yang selalu kau ulang, Panglima!" balas Bara menantang seraya memutar pedang peraknya yang dilapisi api emas. "Mari kita buktikan di atas tanah ini!"

"Serang!" jerit Panglima Gerhana mengacungkan tongkat raksasanya, memerintahkan ribuan prajurit inti untuk mengepung sepuluh ksatria tersebut dari segala penjuru.

🪷 🪷 🪷

Kepungan musuh kian menghebat, menciptakan tekanan Titik Jepit yang teramat sangat bagi rombongan Bara. Sihir kegelapan yang dipancarkan langsung oleh langit terbelah mulai mengikis daya tahan pelindung buatan Mega dan Embun. Satu per satu area pertahanan mereka terdesak dan terisolasi.

"Mega! Daya tahan benteng kita menurun drastis!" teriak Embun seraya menopang tubuhnya pada tongkat perak yang mulai retak.

"Sihir langit terbelah ini terus menyerap mana murni kita!" sahut Mega dengan dahi dipenuhi peluh dingin. "Kita tidak bisa bertahan lebih lama jika terus berada dalam posisi bertahan!"

BRAAKK!

Sebuah ekor raksasa dari monster teratai hitam menghantam pilar tempat Fajar dan Bayu berdiri. Fajar terlempar keras ke tanah, memuntahkan darah segar seraya berusaha mempertahankan kesadarannya.

"Fajar!" jerit Bayu, melompat turun dan berdiri memagari tubuh Fajar dari gempuran dua prajurit berzirah duri.

Lihat selengkapnya