Ujung pedang perak Bara Al-Mustafa dan panah emas Laras Al-Humaira meredup di tengah hembusan kabut pekat yang menyelimuti tepian Danau Tujuh Misteri. Di pelataran batu hitam yang basah, Banyu Al-Fatih berdiri paling depan dengan perisai intannya yang meredup, menyaksikan gelombang air danau mendadak berubah warna menjadi hitam legam bagaikan tinta beracun. Aroma amis belerang dan jeritan ghaib merambat naik dari dasar pusaran air yang kian membara oleh sihir Istana Pusat.
"Perhatikan arus di tengah danau itu, Banyu!" panggil Guntur Al-Ghazi seraya menggeledak sepasang kapak kembarnya, memasang kuda-kuda kokoh di samping Banyu. "Pusaran air itu menyedot seluruh energi di sekitar pelataran ini!"
"Bukan sekadar menyedot energi, Guntur," jawab Banyu Al-Fatih seraya menancapkan perisaimu lebih dalam ke tanah cadas. "Istana Pusat sengaja meracuni inti air danau ini untuk mengunci seluruh pergerakan kita."
"Apakah kau sanggup menetralkan racun air yang sepekat ini, Banyu?" tanya Mega Nur-Aisyah seraya menggenggam cawan-cawan herbalnya dengan jemari gemetar.
"Air adalah jiwaku, Mega," sahut Banyu seraya menatap riak hitam yang kian membendung. "Namun arus ini terasa sangat asing, seolah ada jutaan jiwa terluka yang dipaksa membenci kita."
"Hahaha! Dugaanmu sangat tepat, Ksatria Perisai!" sebuah suara parau membahana dari tengah danau yang bergejolak.
Dari dalam pusaran air hitam yang berputar cepat, muncul Panglima Krakatoa sang Penguasa Arus Kelam—prajurit tingkat tinggi Istana Pusat berzirah sisik naga hitam yang memegang trisula bertanduk iblis.
"Siapa kau yang berani mencemari danau suci ini?!" bentak Banyu Al-Fatih seraya mengacungkan perisainya ke udara.
"Aku adalah pemilik baru dari seluruh aliran air Danau Tujuh Misteri!" raung Panglima Krakatoa seraya menusukkan trisulanya ke permukaan danau. "Hari ini, air yang biasa melindungi kalian akan menjadi kuburan cair bagi seluruh Ksatria Terbuang!"
"Banyu, jangan biarkan dia memprovokasi batinmu!" tegas Laras Al-Humaira seraya menarik tali busur cendananya dari barisan belakang.
"Kalian tidak akan pernah bisa melangkah melewati tepian danau ini!" seru Krakatoa seraya mengangkat trisulanya tinggi-tinggi.
Seketika itu juga, tiga gelombang raksasa air beracun membumbung tinggi dari dasar danau, siap melahap Banyu dan seluruh kawan-kawannya dalam gempuran dahsyat!
🪷 🪷 🪷
Auman gelombang air hitam milik Panglima Krakatoa menggetarkan seluruh tebing batu di sekitar danau. Banyu Al-Fatih langsung merentangkan kedua tangannya, memanggil aura kristal air purba untuk membendung gempuran raksasa tersebut.
"Perisai Tirta Intan: Benteng Kubah Samudra!" teriak Banyu Al-Fatih seraya menghentakkan kaki kanannya!
BANG! BANG! BANG!
Hantaman tiga gelombang air hitam memukul keras kubah kristal milik Banyu, melepaskan percikan air beracun yang membakar batu-batu di sekitar mereka. Namun, Krakatoa hanya tertawa mengejek dari atas pusaran air, memutar trisulanya untuk menyuntikkan sihir busuk secara terus menerus ke dalam kubah pertahanan Banyu.
"Perisaimu memang kuat, Banyu!" ejek Krakatoa dengan nada tajam. "Tapi kau bertarung melawan seluruh air danau ini! Semakin kau menahan, semakin pekat racun ini merembes ke dalam jiwamu!"
"Banyu! Dinding airmu mulai meretak!" jerit Embun Al-Khansa dari balik barisan perisai!
"Aku masih sanggup menahannya!" panggil Banyu seraya menahan guncangan dengan kedua lengannya yang bergetar hebat.
"Biarkan aku memotong pusaran airnya dari udara!" seru Bayu Al-Asad seraya melesat terbang, mengepakkan sayap anginnya untuk menebas arus di bawah kaki Krakatoa.
Namun, Krakatoa mengibaskan trisulanya seraya memanggil dua naga air beracun dari dalam danau yang langsung menerkam Bayu dari samping!
CRASH!
"Bayu!" jerit Zahra Mentari seraya melepaskan bola-bola cahaya untuk menembak naga air tersebut, namun tubuh Bayu sudah terlempar dan menghantam tebing batu dengan keras!
"Kalian semua sungguh lemah di hadapan kekuasaan air kelamku!" seru Krakatoa seraya memusatkan seluruh arus danau ke arah Banyu. "Serahkan perisaimu dan hancurlah bersama saudaramu!"
"Jangan pernah menghina ikatan kami, Krakatoa!" balas Banyu seraya memperkuat dorongan perisainya, namun racun hitam mulai melilit pergelangan tangannya.
"Kau tidak bisa mengendalikan air ini lagi, Banyu!" pangkas Krakatoa seraya menyeringai kejam. "Air danau ini telah tunduk sepenuhnya pada murka Istana Pusat!"
🪷 🪷 🪷
Sihir racun yang dilontarkan Panglima Krakatoa kian menggerogoti perisai dan ketahanan fisik Banyu Al-Fatih. Percikan air hitam yang membakar mulai merembes masuk menembus celah kristal pelindung, membuat Banyu berlutut di atas tanah cadas dengan napas terengah-engah dan dada terasa sesak luar biasa.
"Banyu! Mundur sejenak! Biarkan aku dan Banyu... maksudku aku dan Guntur menahan arus ini!" seru Fajar Nur-Zaman seraya membuka kitab kunonya cepat-gat.
"Tidak, Fajar!" potong Banyu Al-Fatih seraya berusaha menyangga tubuhnya bertumpu pada perisai. "Jika perisai ini runtuh satu detik saja, gelombang racun ini akan menyapu bersih kalian semua!"
"Hahaha! Lihat betapa menyedihkannya ksatria pelindung kalian!" tawa Krakatoa bergaung nyaring seraya mengayunkan trisulanya kembali. "Kau menahan beban yang tidak mungkin sanggup kau pikul sendiri, Banyu!"
Krakatoa menghentakkan trisulanya ke danau, memanggil puluhan tombak air beracun yang meluncur secepat kilat menembus kubah Banyu yang kian melemah!
PUK! PUK! PUK!
Guntur Al-Ghazi dan Bara Al-Mustafa melompat ke depan Banyu, menebaskan kapak dan pedang mereka untuk memotong tombak-tombak air tersebut, namun gelombang kejut racun melempar Guntur dan Bara hingga terseret beberapa meter di atas batu.
"Guntur! Bara!" jerit Laras Al-Humaira seraya melepaskan panah-panah penahan, namun serangan air Krakatoa seolah tidak ada habisnya.