Langit di atas Lembah Karang Hitam bergulung pekat, memuntahkan angin dingin yang membawa aroma belerang dan darah. Di dataran berlumpur itu, barisan Pasukan Mayat Hidup Berzirah Duri merapat tajam, membentengi jalan utama menuju gerbang markas musuh.
"Tahan posisi kalian! Jangan biarkan musuh menerobos ke garis belakang!" teriak Banyu Al-Fatih seraya memutar tombak airnya untuk menghalau uap racun.
"Banyu! Barisan depan kita mulai terdesak!" jerit Laras Al-Humaira dari balik benteng kayu tipis. "Sihir pemurnianku tidak sanggup menahan ribuan iblis berzirah duri itu!"
"Di mana Guntur?!" seru Bayu Al-Asad, mengusap luka melintang di pipinya saat menangkis sabetan pedang musuh. "Kita butuh pertahanan kokoh di sektor ini sekarang juga!"
"Aku di sini, Bayu!" sebuah suara menggelegar menghantam keheningan medan perang.
Dari balik bukit karang, Guntur Al-Ghazi melangkah tegap dengan langkah mantap. Di tangan kirinya, Perisai Naga Emas berkilau membiaskan pendaran listrik kuning keemasan, sementara tangan kanannya menggenggam erat Palu Petir Purba.
"Guntur! Akhirnya kau datang!" puji Embun Al-Khansa lega, menghentikan aliran sihir penyembuhnya sejenak.
"Maaf membuat kalian menunggu, kawan-kawan," ucap Guntur Al-Ghazi seraya menghentakkan dasar perisainya ke tanah berlumpur. BUMMM! Gelombang listrik keemasan memercik deras, membakar sepuluh prajurit iblis terdepan menjadi abu.
"Guntur, barisan duri itu dilindungi oleh Sihir Hitam Penyerap Jiwa!" peringat Fajar Nur-Zaman dari menara intai. "Setiap serangan fisik biasa hanya akan memperkuat perisai mereka!"
Guntur Al-Ghazi menyunggingkan senyum tipis, menatap lurus ke arah ribuan pasukan duri yang kian mendekat. "Jika serangan fisik biasa tidak berguna, Fajar... maka aku akan menggunakan Kilat Penembus Jiwa!"
"Kilat Penembus Jiwa?!" ulang Banyu Al-Fatih terperanjat. "Teknik purba itu sangat berbahaya bagi jiwamu sendiri, Guntur!"
"Demi memberi jalan bagi Bara dan aliansi, aku siap menanggung risikonya!" tegas Guntur Al-Ghazi dengan mata yang mulai menyala oleh gumpalan kilat murni.
🪷 🪷 🪷
Gemuruh langit kian membingitkan teliga saat Guntur Al-Ghazi mengangkat Palu Petir Purba lurus ke arah awan hitam. Kilat keemasan membubung tinggi, menyambar puncak palu dan mengalir deras ke seluruh pembuluh darah di tubuhnya.
"Semua pasukan aliansi, mundur tiga puluh langkah ke belakangku!" perintah Guntur Al-Ghazi membahana, menggetarkan batuan di sekeliling lembah.
"Guntur! Jangan bertindak gila sendirian!" jerit Laras Al-Humaira berusaha meraih bahu Guntur.
"Percayalah padaku, Laras!" sahut Guntur Al-Ghazi, menoleh sebentar dengan tatapan tulus dan hangat. "Tugasku adalah menjadi benteng sekaligus pembuka jalan bagi kalian!"
"Banyu, tarik pasukan mundur sekarang!" pangkas Fajar Nur-Zaman cepat melalui kompas tembaganya. "Biarkan Guntur membakar garis tengah musuh!"
"Mundur! Semua mundur ke belakang Perisai Guntur!" teriak Banyu Al-Fatih mengarahkan ratusan ksatria klan air dan tanah untuk memutar haluan.
Panglima Iblis Berzirah Duri yang memimpin barisan musuh tertawa menggelegar dari atas kuda hitam raksasanya. "Hahaha! Satu orang ksatria sok pahlawan berniat menahan ratusan ribu pasukan iblis?! Musnahkan dia!"
"Majuuuuu!" raung ratusan ribu prajurit mayat hidup, meluncur deras bagaikan gelombang pasak besi yang siap melumat tubuh Guntur.
Guntur Al-Ghazi menyilangkan Perisai Naga Emas dan Palu Petirnya di dada. Pembuluh darah di leher dan lengannya menegang keras, memancarkan arus listrik murni yang mengubah warna tanah berlumpur menjadi putih keemasan.
"Gaya Petir Purba: Kilat Penembus Jiwa!" jerit Guntur Al-Ghazi dengan suara menggelegar membela langit.
DUAAAAAAAAARRRRR!
Satu tumpukan kilat raksasa menyambar tubuh Guntur dari angkasa. Gelombang ledakan listrik murni meluncur lurus ke depan, membelah barisan raksasa iblis berzirah duri menjadi dua bagian secara instan!
🪷 🪷 🪷
Ledakan kilat murni milik Guntur Al-Ghazi menghancurkan ribuan prajurit duri dalam hitungan detik. Asap hitam dan uap racun terlempar jauh ke udara, menyisakan alur celah membara yang membelah dataran Lembah Karang Hitam.
"Luar biasa..." bisik Bayu Al-Asad membelalakkan mata melihat pemandangan menakjubkan itu. "Dia membelah seluruh barisan depan musuh seorang diri!"
"Jangan senang dulu, Bayu!" sela Fajar Nur-Zaman dengan raut wajah cemas. "Lihat kondisi Guntur!"
Di pusat celah membara itu, Guntur Al-Ghazi berdiri bertumpu pada satu lututnya. Dari celah-celah zirahnya, uap panas membumbung tinggi, dan darah segar menetes keras dari mulut serta telinganya akibat beban energi kilat yang melampaui batas stamina manusia.