Gerbang luar Istana Teratai Hitam terguncang hebat di bawah kepungan ribuan prajurit kegelapan. Bau belerang dan kabut hitam pekat mengepul dari sela-sela lantai batu, menutupi pandangan barisan ksatria. Di garis depan pertempuran, Banyu Al-Fatih berlutut satu kaki, memegangi perisai intannya yang retak di sana-sini akibat gempuran tanpa henti.
"Banyu! Tahan posisi sedikit lagi!" jerit Samudra At-Thahira seraya memutar tongkat airnya untuk membentengi garis pertahanan tengah.
"Gelombang prajurit bayangan ini tidak ada habisnya, Samudra!" teriak Banyu Al-Fatih terengah-engah, darah mengalir tipis dari sudut bibirnya. "Jika perisaiku hancur, mereka akan merangsek masuk ke area penyembuhan!"
"Guntur! Laras! Lindungi sayap kiri!" perintah Bara Al-Mustafa menggelegar, pedang peraknya meletupkan kilatan cahaya murni saat menebas tiga prajurit bayangan sekaligus.
"Panah cahayaku kehabisan fokus, Bara!" balas Laras Al-Humaira seraya melepaskan tembakan terakhir dari busur kayu cendananya. "Kabut hitam ini terlalu pekat, membiaskan jalur tembakanku!"
"Serangan petirku juga terhalang dinding kabut ini!" tambah Guntur Al-Ghazi seraya memutar kapak kemburnya yang memercikkan percikan api biru acak.
Dari balik kegelapan kabut hitam, ribuan prajurit bayangan berzirah besi kelam melompat menerobos barikade. Bersenjatakan belati beracun dan tombak kelam, mereka mengepung sepuluh ksatria yang tersisa dari segala penjuru.
"Hahaha! Mampuslah kalian, ksatria-ksatria naif!" gelak tawa gaib memantul dari dinding batu. "Kabut teratai ini akan menyerap seluruh napas dan mana kalian!"
"Laras! Zahra! Awas belakang kalian!" jerit Embun Al-Khansa panik saat melihat ratusan prajurit bayangan merayap dari dinding atas.
"Kita terkepung total!" pekik Zahra Mentari, memeluk Cermin Surya Teratai yang makin meredup di dadanya.
Di tengah kepungan massa kegelapan yang makin menekan, Bayu Al-Asad melangkah tenang ke depan barisan. Pedang ganda angin di kedua tangannya mendadak berpendar hijau terang, memutarkan pusaran angin kecil di sekeliling pergelangan kakinya.
"Bayu? Apa yang akan kau lakukan?!" tanya Fajar Nur-Zaman terperanjat melihat langkah sahabatnya.
"Aku akan membuka jalan untuk kalian," jawab Bayu Al-Asad seraya menoleh, melemparkan senyum tipis yang penuh keteguhan. "Mundur lima langkah dan lindungi Banyu. Biarkan taufanku yang menyelesaikan kepungan ini!"
🪷 🪷 🪷
Bayu Al-Asad melompat ringan melintasi kepala Banyu Al-Fatih, mendarat tepat di titik tengah kepungan ribuan prajurit bayangan. Dua pedang angin di tangannya disilangkan melintang di depan dada, mengumpulkan energi atmosferik secara masif.
"Bayu! Jangan bertindak gila sendirian!" bentak Guntur Al-Ghazi mencoba mengejar.
"Tahan posisimu, Guntur!" cegah Bara Al-Mustafa seraya merentangkan tangan. "Lihat pergerakan alur mana di sekeliling Bayu! Dia sedang menyiapkan teknik pembebas!"
"Bara benar," gumam Fajar Nur-Zaman, matanya membelalak menatap gulungan angin yang mendadak melingkupi tubuh Bayu. "Ini adalah sihir taufan tingkat tertinggi yang pernah dirancang oleh klan angin!"
Di tengah kepungan musuh, ratusan tombak hitam meluncur mengincar tubuh Bayu secara serentak.
"Mati kau, Bocah Angin!" raung para prajurit bayangan.
"Taufan Pembebas: Pusaran Awal Bilah Angin!" lantun Bayu Al-Asad tenang.
SWOOSH!
Dalam hitungan mikro detik, Bayu memutarkan tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat. Gelombang pisau angin melingkar meledak dari dua bilah pedangnya, memotong ratusan tombak hitam menjadi serpihan kayu tak berguna. Prajurit bayangan di barisan terdepan seketika hancur berubah menjadi asap kelam.
"Luar biasa..." bisik Zahra Mentari terperangah menatap pendar hijau murni yang membumbung tinggi.
"Tapi jumlah mereka masih ada ribuan, Bayu!" seru Laras Al-Humaira memperingatkan dari garis belakang. "Celah di dinding atas mulai terbuka lagi!"
"Biarkan mereka berkumpul lebih rapat!" balas Bayu Al-Asad berteriak menembus deru angin. "Semakin rapat barisan mereka, semakin bersih taufanku akan menyapu mereka!"
"Bayu, stamina manamu bisa terkuras habis jika kau memaksakan taufan berskala masif ini sendirian!" panggil Samudra At-Thahira khawatir.
"Aku tidak memaksakan diri, Samudra!" sahut Bayu seraya melempar pandangan mantap pada kawan-kawannya. "Aku melakukan tugas yang dijanjikan pada malam di tepi danau lalu—menjadi angin yang menerbangkan kalian melintasi bahaya!"
Ratusan prajurit bayangan tambahan kembali merangsek maju, merayap dari langit-langit lorong untuk menindih Bayu dengan bobot gergasi mereka. Udara di dalam ruangan makin menipis, digantikan oleh tekanan energi kelam yang pekat.
"Akan kutunjukkan pada kalian daya rusak angin yang sesungguhnya!" raung Bayu Al-Asad menghentakkan kedua kakinya ke lantai batu.
🪷 🪷 🪷
Hantaman kaki Bayu Al-Asad memicu retakan menjalar di lantai batu Istana Teratai Hitam. Angin bertekanan maha dahsyat mencuat dari dasar tanah, membumbung bagaikan pilar hijau gergasi yang menembus atap gua.
"Perisai Intan: Pelindung Tim!" jerit Banyu Al-Fatih menancapkan perisainya ke tanah, membentangkan dinding kristal untuk menahan gelombang hempasan angin sekunder milik Bayu.
"Ugh! Tekanan angin ini kuat sekali!" seru Mega Nur-Aisyah seraya memegang erat manuskrip sucinya agar tidak terbawa angin.
"Ini bukan sekadar angin biasa," ujar Fajar Nur-Zaman terpukau. "Bayu menyatukan energi riak danau dengan pusaran sihir angin murni!"
Di dalam pilar angin gergasi, Bayu Al-Asad melayang dua meter di udara. Matanya bersinar hijau menyala, dan dua pasang sayap taufan terbentuk dari energi angin purba di punggungnya.
"Prajurit kegelapan! Rasakan sapuan angin penyucian ini!" teriak Bayu melengking.