Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #95

TERANG STRATEGI

Kabut tebal berwarna abu-abu pekat menyelimuti Sektor Lembah Lembayung, menciptakan suasana mencekam yang menekan dada. Di tengah hamparan batuan legam yang retak-retak, Fajar Nur-Zaman berdiri tegak memegang kitab kunonya. Lembaran-lembaran kertas magis di tangan Fajar bergetar halus, memantulkan pendar cahaya emas yang membelah kegelapan malam. Sembilan ksatria Sumpah Sembilan Bintang berkumpul dalam posisi siaga penuh, merasakan ancaman besar yang mendekat dari balik kabut.

"Dengarkan getaran langkah di sekeliling kita," bisik Fajar Nur-Zaman seraya menajamkan pendengarannya. "Musuh tidak bergerak dalam barisan terbuka, melainkan mengepung kita dari delapan penjuru angin."

"Aura ini terasa sangat berbeda dari prajurit biasa, Fajar," sahut Bara Al-Mustafa seraya menggenggam erat gagang pedang peraknya. "Kekuatannya begitu padat dan dingin."

"Itu adalah Panglima Valakor," pangkas Laras Al-Humaira seraya mengencangkan ikatan rantai gaib di lengannya. "Panglima utama pasukan musuh yang paling licik dan kejam."

"Apakah kau yakin rencana kita akan berhasil, Fajar?" tanya Banyu Al-Fatih seraya mengangkat perisai raksasanya ke depan. "Jika kita salah melangkah sedikit saja, kita akan terjebak di lembah ini tanpa jalan keluar."

Fajar membuka bab baru dalam kitabnya, membiarkan simbol-simbol sihir bersinar semakin terang mengaliri tangannya. Ia menatap mata para sahabatnya satu per satu dengan penuh keyakinan.

"Valakor adalah ahli strategi yang sangat menyukai kepastian," jawab Fajar Nur-Zaman dengan suara tenang namun tegas. "Dia akan selalu memilih jalur penyerangan yang paling efisien untuk menghancurkan musuhnya. Justru kepintarannya itulah yang menjadi celah terbesar yang akan kita manfaatkan hari ini."

"Dia sudah tiba," sela Samudra At-Thahira seraya menunjuk ke arah tebing tinggi di sebelah utara.

Dari puncak tebing, sesosok makhluk tinggi berzirah baja hitam bersayap gelap muncul membelah kabut. Panglima Valakor berdiri dengan angkuh, menatap sembilan ksatria di bawahnya bagaikan mangsa yang sudah terkunci di dalam perangkar.

"Sungguh sebuah kehormatan bisa menyudahi riwayat kalian di lembah terasing ini, Sumpah Sembilan Bintang," panggil Panglima Valakor dengan suara berat yang menggema di dinding-dinding batu. "Kalian telah berjalan terlalu jauh hanya untuk menemui ajal di tanganku."

"Ajal kami tidak ditentukan oleh ucapanmu, Valakor!" seru Bara Al-Mustafa menantang dari bawah tebing.

"Lakukan sesuai rencana awal," bisik Fajar Nur-Zaman kepada seluruh anggota kelompoknya. "Biarkan dia merasa memegang kendali penuh atas pertempuran ini."

🪷 🪷 🪷

Panglima Valakor melompat dari atas tebing, menghempaskan gelombang angin kehitaman yang menghancurkan batuan di sekitar tempat mendaratnya. Tanpa membuang waktu, sang panglima mengibaskan pedang ganda miliknya, memanggil ratusan monster bayangan berwujud serigala besi dari tanah. Serigala-serigala itu melompati lahar dingin, meluncur deras menerjang posisi sembilan ksatria.

"Barisan depan, tahan gempuran pertama!" perintah Bara Al-Mustafa seraya mengayunkan pedang peraknya, membelah dua serigala bayangan sekaligus.

"Perisai Perak Suci!" seru Banyu Al-Fatih seraya menancapkan perisainya ke tanah, membentangkan dinding sihir kokoh yang menahan terjangan pasukan serigala.

"Panah Angin Penembus!" jerit Bayu Al-Asad dari atas batuan, melepaskan puluhan tembakan angin yang merontokkan gelombang musuh di sayap kanan.

Meskipun serangan balasan dari para ksatria sangat sengit, Panglima Valakor hanya tersenyum sinis melihat pertahanan mereka. Sang panglima mengacungkan pedang gandanya ke udara, menyerap seluruh kabut Lembah Lembayung menjadi bola energi hitam yang mengerikan.

"Kalian hanya mengulur waktu!" bentak Panglima Valakor seraya melepaskan bola energi tersebut tepat ke arah tengah formasi para ksatria. "Sihir Kegelapan Pemusnah!"

BOOM!

Ledakan dahsyat menghantam titik tengah formasi. Banyu terlempar beberapa meter ke belakang, sementara Laras dan Embun Al-Khansa jatuh tersungkur menahan dampak gelombang panas. Formasi Sumpah Sembilan Bintang seketika kocar-kacir, terpisah menjadi tiga kelompok kecil di tengah kepungan asap pekat.

"Formasi mereka telah pecah!" seru Valakor dengan tawa melengking yang penuh kepuasan. "Pasukan Bayangan, isolasi sang pemanah dan si penyembuh terlebih dahulu!"

"Fajar! Formasi kita hancur!" teriak Zahra Mentari seraya menarik tali busurnya untuk menembak serigala yang mendekati Embun. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?!"

"Jangan panik, Zahra!" balas Fajar Nur-Zaman dari balik kepulan asap seraya membalikkan halaman kitabnya dengan cepat. "Ini adalah bagian dari kalkulasi yang telah kita perhitungkan!"

"Kalkulasi apa maksudmu?!" potong Mega Nur-Aisyah seraya melempar bom racun pelindung untuk menutupi pergerakan Embun. "Kita benar-benar terdesak di sini!"

"Valakor mempercayai bahwa kita terpecah karena kekuatannya," bisik Fajar kepada Samudra yang berdiri di dekatnya. "Sekarang adalah waktunya untuk menggiringnya masuk lebih dalam ke area perangkap utama di tebing selatan."

"Aku mengerti," sahut Samudra At-Thahira seraya mengangkat tongkatnya. "Aku akan memancing perhatiannya dengan manipulasi sihir air!"

🪷 🪷 🪷

Samudra At-Thahira maju beberapa langkah, melepaskan naga air raksasa yang menerjang lurus ke arah Panglima Valakor. Namun dengan satu tebasan pedang gandanya, Valakor membelah naga air tersebut menjadi guyuran hujan deras yang langsung menguap dihantam aura kehitaman tubuhnya.

"Serangan lemah seperti itu tidak akan pernah bisa menyentuhku!" raung Panglima Valakor seraya memacu kecepatannya melintasi medan perang, mengincar Samudra dan Fajar.

"Tahan gerakannya, Banyu, Laras!" teriak Fajar Nur-Zaman seraya mundur secara teratur ke arah celah sempit di antara dua tebing batu di sisi selatan.

Lihat selengkapnya