Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #96

MENJAGA SELURUH PASUKAN

Angin bertiup kencang membawa bau belerang dan darah di sepanjang Lembah Pengasingan. Langit masih terbelah oleh warna merah gelap, menandakan sisa-sisa energi kegelapan yang belum sepenuhnya padam. Di garis pertahanan tengah, puluhan prajurit gabungan tergeletak lemas di atas tanah yang menghitam. Laras Al-Humaira bertumpu pada busurnya, napasnya tersengal-sengal menahan perih akibat luka bakar sihir racun pada bahu kirinya. Banyu Al-Fatih dan Guntur Al-Ghazi berlutut berdampingan dengan perisai yang retak, menjaga barisan agar tidak runtuh.

"Laras! Jangan terlalu banyak bergerak, racun itu akan menyebar lebih cepat!" teriak Banyu seraya menahan tubuhnya dengan pedang besar.

"Aku masih bisa bertahan, Banyu!" balas Laras seraya mengatupkan rahangnya erat-erat. "Fokus pada prajurit di sayap kanan!"

"Guntur, bantu aku mengangkat Fajar dan Bayu ke area tenda medis!" panggil Samudra At-Thahira dari balik debu pertempuran.

Insiden pemicu meletus ketika gelombang kabut ungu beracun mendadak menyembur dari celah-celah retakan tanah Lembah Pengasingan. Kabut itu bukan sekadar racun biasa, melainkan sihir pengikis jiwa sisa peninggalan Sang Penguasa Takdir Abadi. Seketika itu juga, belasan prajurit yang terhirup uap tersebut memuntahkan darah hitam dan mengerang kesakitan luar biasa.

"Argh! Jiwaku... terasa terbakar!" jerit salah satu prajurit garis depan seraya mencengkeram dadanya.

Mega Nur-Aisyah melompat ke depan bersama Embun Al-Khansa, langsung merentangkan tongkat sihir perak mereka ke udara.

"Embun! Buka formasi pertahanan pemurni sekarang!" seru Mega dengan mata penuh keteguhan.

"Diterima, Mega! Sihir Mawar Pengobat: Mekar Pertama!" balas Embun nyaring.

Dari ujung tongkat Embun, bercahaya pendar hijau zamrud yang merambat cepat membentuk kubah aroma mawar segar. Kabut ungu beracun yang menerjang seketika tertahan di udara, menetralisir hawa busuk yang mengancam nyawa seluruh ksatria.

"Mega, Embun! Tekanan racun ini terlalu tinggi untuk prajurit biasa!" teriak Zahra Mentari dari kejauhan seraya menyalurkan sisa kristal pelindungnya. "Banyak yang mulai kehilangan kesadaran!"

"Kami tidak akan membiarkan satu nyawa pun hilang di sini!" tegas Mega seraya mengepalkan tangannya. "Seluruh pasukan, bertahan di balik barikade mawar!"

🪷 🪷 🪷

Kubah aroma mawar ciptaan Embun memberikan napas buatan bagi pasukan gabungan yang terdesak. Namun, ancaman Titik Plot Pertama memuncak ketika kabut racun tersebut mulai memadat dan membentuk wujud ribuan monster ulat beracun berukuran raksasa yang merayap keluar dari celah lembah.

"Monster-monster itu mengincar prajurit yang terluka!" panggil Fajar yang bersandar lemas pada pilar kayu.

"Bayu, siapkan pusaran angin pembalik untuk menghalau kabut dari garis tengah!" perintah Banyu seraya bangkit berdiri dengan tumpuan pedangnya.

"Aku akan menahan pergerakan mereka di sayap kiri!" seru Bayu, memutar belatinya menciptakan angin kencang yang menyapu ulat-ulat beracun.

"Mega! Pasokan energi penyembuh dari kristal utama mulai melemah!" panggil Embun dengan nada cemas, peluh dingin membasahi dahinya.

"Gunakan kelopak Mawar Pengobat Inti!" sahut Mega tegas. "Kita harus menggabungkan sihir pemulihan jiwa kita menjadi satu gelombang terpadu!"

Mega memusatkan seluruh kesadaran sihirnya, memanggil mantra legendaris yang dia pelajari dari kitab kuno alkimia. Dari telapak tangannya, tumbuh tangkai mawar bercahaya keemasan yang memancarkan bau harum luar biasa.

"Laras, Banyu, Guntur! Masuk ke dalam jangkauan pendar ini!" panggil Mega.

"Sihir Mawar Pengobat... Penyucian Jiwa Murni!" teriak Mega dan Embun secara bersamaan.

Gelombang pendar cahaya merah muda keemasan memancar hebat dari tangkai mawar tersebut, menyapu seluruh medan pertempuran. Luka-luka terbuka pada tubuh Banyu, Guntur, Laras, dan puluhan prajurit seketika tertutup secara ajaib. Rasa terbakar akibat racun jiwa perlahan memudar, menggantikannya dengan kesegaran fisik yang mendalam.

"Luar biasa..." gumam Guntur penuh takjub seraya melihat bahunya yang tak lagi bernanah. "Rasa sakitnya hilang sepenuhnya!"

"Jangan lengah!" peringat Fajar. "Racun di luar sana masih terus memadat!"

"Mega, Embun... kalian menyelamatkan kita semua tepat pada waktunya," puji Laras seraya menarik kembali tali busurnya dengan kekuatan penuh.

"Ini tugas kami sebagai penyembuh!" balas Embun seraya menyunggingkan senyum tegar. "Selama mawar ini mekar, tidak ada sahabat kami yang akan gugur!"

🪷 🪷 🪷

Meskipun gelombang penyucian pertama berhasil memulihkan stamina pasukan, tekanan berat Titik Jepit kembali menghantam dari arah yang tak terduga. Inti racun di dasar Lembah Pengasingan meledak keras, memuntahkan cairan hitam pekat yang langsung membasahi tanah tempat tenda-tenda medis didirikan.

Czzz!

Lantai tanah meleleh seketika, membakar peralatan alkimia dan wadah-wadah ramuan penyembuh milik Mega dan Embun hingga pecah tak berbekas.

"Ramuan cadangan kita hancur!" jerit Embun panik saat melihat botol-botol kaca kristalnya meleleh dalam lautan racun.

"Argh! Kakiku terikat sihir racun ini!" teriak salah seorang prajurit medis yang langsung jatuh pingsan di tanah.

"Banyu, Guntur! Amankan area tenda belakang!" seru Samudra yang berusaha membendung aliran cairan racun dengan benteng air murni.

"Airmu terpolusi, Samudra!" peringat Zahra. "Racun ini merusak struktur elemen sihir kita!"

Mega merayap menerobos kobaran uap beracun untuk menarik prajurit yang pingsan. Napasnya mulai memburu, dada dan tenggorokannya terasa tersumbat oleh racun yang kian pekat.

Lihat selengkapnya