Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #98

SINAR HARAPAN

Kabut jelaga kehitaman bergulung pekat membalut seluruh langit Puncak Lemah Tulis, menutup rapat pendaran mentari dan menyisakan kegelapan abadi di atas benteng pertahanan terakhir. Angin bertiup kencang membawa aroma jelaga dan uap racun yang mematikan, mengikis semangat para ksatria aliansi yang berjuang tanpa henti di bawah.

"Aku tidak bisa melihat barisan depan musuh lagi, Zahra!" teriak Banyu Al-Fatih seraya mengusap matanya yang terasapi uap hitam.

"Kegelapan ini bukan sekadar malam biasa, Banyu," pangkas Zahra Mentari seraya menarik tali Busur Surya Purba yang bergetar halus di tangannya. "Ini adalah Sihir Tirai Abadi yang dimuntahkan langsung dari jantung Altar Kegelapan."

"Sihir ini menyerap seluruh pasokan tenaga spiritual kita!" jerit Embun Al-Khansa dari balik barikade batu seraya berusaha menopang tubuh ksatria yang terluka parah. "Jika kegelapan ini tidak dihalau dalam hitungan menit, perisai pertahanan kita akan runtuh sepenuhnya!"

"Bara dan Laras sedang berjuang menembus gerbang utama di bawah," bisik Zahra Mentari seraya menatap ke atas awan racun yang kian merendah. "Mereka membutuhkan pendaran cahaya untuk mengarahkan tebasan pedang perak."

"Tapi bagaimana kau bisa menembus langit sejauh itu, Zahra?" tanya Bayu Al-Asad yang mendarat melayang di sampingnya dengan napas tersengal. "Sayap angin milikku bahkan tidak sanggup menembus tekanan awan jelaga tersebut!"

"Busur Surya Purba milik keluargaku menyimpan pecahan cahaya mentari pertama Benua Barat," sahut Zahra Mentari tegap, menatap lurus mata sahabat-sahabatnya tanpa ada rasa gentar. "Jika aku memfokuskan seluruh energi jiwaku pada anak panah ini, aku sanggup melubangi langit tersebut."

"Itu tindakan yang sangat berbahaya, Zahra!" peringat Fajar Nur-Zaman melalui pancaran kompas komunikasi di pinggangnya. "Memicu Inti Surya tanpa perisai pelindung akan membakar pembuluh darah spiritualmu sendiri!"

"Kita tidak punya pilihan lain, Fajar," pangkas Zahra Mentari penuh kepastian. "Aku adalah Sinar Harapan bagi aliansi ini, dan aku tidak akan biarkan kegelapan merenggut masa depan kita!"

Zahra melangkah tegap ke ujung tebing karang, mengabaikan terpaan angin racun yang menyayat kulitnya. Ia mengangkat Busur Surya Purba lurus menatap gulungan awan hitam di angkasa.

🪷 🪷 🪷

Zahra Mentari merenggangkan kaki, memperkokoh pijakannya di atas karang licin yang bergetar akibat dentuman perang. Jari-jemarinya memegang erat tali busur, menariknya perlahan hingga melengkung sempurna bagaikan bulan sabit keemasan.

"Dengarkan aku, para ksatria Aliansi Teratai Purba!" seru Zahra Mentari membahana, memecahkan deru angin malam yang liar. "Jangan biarkan ketakutan membutakan mata kalian! Bertahanlah sebentar lagi!"

"Zahra! Pasukan burung iblis mulai menyadari pergerakanmu di atas tebing!" jerit Banyu Al-Fatih menunjuk ke angkasa.

Ratusan Burung Iblis Berzirah Besi berselimut api hitam berbelok tajam, meluncur deras dari balik awan racun dengan cakar-cakar tajam teracung lurus mengincar tubuh Zahra Mentari.

"Lindungi Zahra!" perintah Bayu Al-Asad melompat tinggi memutar dua belati anginnya.

"Gaya Taufan Pemotong: Badai Sayap!" jerit Bayu Al-Asad melepaskan tebasan angin puting beliung yang memotong puluh burung iblis di udara.

"Banyu, tahan barisan darat!" teriak Embun Al-Khansa menyiramkan sihir air pemurni untuk menahan laju merayap pasukan tengkorak di kaki tebing.

"Panah Surya Pertama: Pembuka Jalan!" pekik Zahra Mentari melepaskan tali busurnya.

SZZZZZT! BUMMM!

Sebilah anak panah bercahaya kuning murni meluncur bagaikan kilat keemasan, menebas barisan burung iblis yang tersisa dan menciptakan lorong hampa udara setinggi ribuan meter menembus awan jelaga. Cahaya mentari tipis menyelinap masuk melalui lorong tersebut, menyinari pelataran benteng sejenak.

"Lihat! Awan racun itu mulai terbelah!" puji Banyu Al-Fatih penuh sorak harapan.

Namun, kegelapan di angkasa seolah memiliki kesadaran. Gulungan awan hitam itu mendadak merapat kembali dengan cepat, menutup lorong cahaya tersebut dan memutahkan kilat hitam yang menghantam tebing tempat Zahra berdiri.

DUAAAAAAAAARRRRR!

Zahra Mentari terlempar menghantam dinding batu, memutahkan darah segar dari bibirnya saat Busur Surya Purba terlepas dari genggamannya.

🪷 🪷 🪷

Debu dan serpihan karang membumbung tinggi menyelimuti tubuh Zahra Mentari yang tergeletak lemah di tanah. Kegelapan di langit kembali menebal, bahkan terasa dua kali lipat lebih pekat dari sebelumnya.

"Zahra!" jerit Embun Al-Khansa berlari mendekat seraya menempelkan kedua tangannya yang bercahaya hijau ke dada Zahra. "Tahan, Zahra! Sihir racun mulai menggerogoti dadamu!"

"Ugh... Hah... Hah..." napas Zahra Mentari tersengal parah, pandangan matanya mulai kabur saat warna hitam merayap di sepanjang pembuluh darah tangannya. "Awan itu... awan itu dilindungi oleh Inti Jiwa Jahat Abadi, Embun..."

"Jangan dipaksakan lagi, Zahra!" tangis Embun Al-Khansa memeluk bahu sahabatnya. "Jika kau memicu anak panah berikutnya, jantungmu tidak akan sanggup menahannya!"

Lihat selengkapnya