Dinding lorong bawah tanah Istana Teratai Hitam bergetar hebat di bawah tekanan gempuran sihir purba. Di garis depan pertempuran utama, Bara Al-Mustafa, Banyu Al-Fatih, Guntur Al-Ghazi, dan Bayu Al-Asad sedang membuka paksa gerbang ruang takhta abadi. Namun, kegelapan istana memuntahkan ribuan monster racun gergasi—makhluk-makhluk amorf berlendir hitam yang merayap cepat memutari barisan depan untuk mengepung delapan ksatria garis belakang.
"Mereka mengincar tim penyembuh dan penunjang sihir!" jerit Embun Al-Khansa seraya membentangkan selendang hijaunya yang memancarkan pendar perlindungan.
"Garis depan tidak boleh terganggu saat menembus gerbang takhta!" seru Laras Al-Humaira seraya menarik tali busur kayu cendananya dengan cepat. "Tugas kita malam ini adalah memastikan tidak ada satu pun monster racun yang menyentuh punggung Bara dan Banyu!"
"Tapi jumlah mereka terlalu banyak, Laras!" balas Zahra Mentari panik, memegangi Cermin Surya Teratai yang meletupkan pendar keemasan tak stabil. "Garis perlindungan luar kita mulai terkikis lendir asam!"
"Tetap pada formasi lingkar penunjang!" perintah Samudra At-Thahira menggelegar, menancapkan tongkat airnya ke lantai batu hingga memicu dinding air melingkar. "Delapan pendukung, kunci posisi kalian!"
monster racun gergasi melompat tinggi dari atap gua, meneteskan cairan asam yang melelehkan batu lantai. Bau busuk belerang menusuk hidung, mengancam konsentrasi alur mana seluruh ksatria garis belakang.
"Zahra, Mega! Jaga garis tengah!" teriak Fajar Nur-Zaman seraya mengibaskan gulungan anginnya untuk menepis gumpalan asam di udara.
"Kami mengerti, Fajar!" sahut Mega Nur-Aisyah seraya membuka manuskrip sucinya di bawah lindungan dinding air Samudra. "Sihir pemulih dan penunjang mana siap disalurkan!"
"Jangan biarkan pertahanan ini jebol!" seru Bayu Al-Asad yang sempat melirik sebentar dari jauh sebelum kembali memusatkan anginnya ke gerbang.
"Fokus pada pertempuranmu, Bayu!" tumpas Laras Al-Humaira mantap, melepas tiga anak panah cahaya sekaligus. STRIKE! STRIKE! STRIKE! "Garis belakang berada di tangan delapan ksatria terbaik ini!"
"Hancurkan mereka sebelum racun menyebar!" raung gelombang monster racun dengan suara bergema dari balik kegelapan lorong.
🪷 🪷 🪷
Gelombang monster racun merangsek makin ganas, membentuk dinding lendir bergerak yang mengurung delapan ksatria pendukung dalam lingkaran sempit. Samudra At-Thahira mengambil alih komando penuh di garis belakang, matanya bergerak cepat menganalisis alur serangan musuh.
"Laras! Fajar! Kalian adalah pasokan daya tembak jarak jauh kita!" panggil Samudra At-Thahira tegas. "Gunakan kombinasi angin dan cahaya untuk memecahkan inti kristal di dalam lendir mereka!"
"Diterima, Samudra!" sahut Laras Al-Humaira seraya membidik inti merah di dalam tubuh monster terdepan. "Fajar, gabungkan putaran anginmu dengan anak panahku!"
"Pusaran Angin Pemotong: Pemicu Cahaya!" seru Fajar Nur-Zaman mengibaskan gulungan anginnya.
SWOOSH-BANG!
Anak panah cahaya Laras meluncur menunggangi taufan angin Fajar, berputar tajam menembus sepuluh monster racun berturut-turut hingga inti kristal mereka hancur berkeping-keping.
"Bagus sekali!" puji Embun Al-Khansa seraya memercikkan air embun murni untuk menetralkan cairan asam yang tersisa di udara. "Sihir Embun Penyuci: Penetral Asam!"
"Mega! Bagaimana pasokan mana untuk Laras dan Fajar?" tanya Samudra seraya memutar tongkat airnya untuk menahan gempuran dari sayap kanan.
"Manuskrip Suci: Aliran Sumber Abadi!" lantun Mega Nur-Aisyah seraya menyentuhkan jemarinya ke punggung Laras dan Fajar. Pendar cahaya biru muda mengalir deras, memulihkan energi sihir mereka secara instan. "Mana kalian telah terisi penuh kembali!"
"Terima kasih, Mega!" seru Fajar merasakan kesegaran luar biasa mengalir di nadinya.
"Zahra! Gunakan Cermin Surya untuk menyilaukan monster di sayap kiri!" perintah Samudra lagi.
"Sihir Cermin Surya: Kilatan Pemecah Fokus!" jerit Zahra Mentari mengangkat cermin emasnya tinggi-tinggi.
Pendar keemasan membakar mata ratusan monster racun di sayap kiri, membuat gerakan merayap mereka terhenti mendadak dalam kebingungan.
"Kerjasama yang sangat presisi!" puji Laras Al-Humaira seraya menarik kembali tali busurnya. "Tiga monster di sisi kiri, Fajar!"
"Siap, Laras!" sahut Fajar melompat ke udara, memuntahkan bilah-bilah angin pemotong yang merobek musuh teraniaya.
Delapan ksatria pendukung berdiri saling membelakangi, bergerak bagaikan satu mesin tempur yang sempurna tanpa ada satu celah pun yang luput dari penjagaan.
🪷 🪷 🪷
Meskipun kombinasi awal delapan ksatria berhasil menahan gempuran, lantai Istana Teratai Hitam mendadak terbelah menjadi delapan retakan besar. Dari dalam retakan tersebut, mencuat keluar monster racun berukuran induk gergasi dengan delapan tentakel lendir yang meneteskan racun korosif tingkat tinggi.
"Awas! Serangan dari bawah tanah!" jerit Embun Al-Khansa menolak dua ksatria di sampingnya ke belakang.
BAM!
Tentakel lendir gergasi menghantam pertahanan air Samudra hingga pecah berhamburan. Gelombang udara beracun berhembus kencang, memercikkan lendir asam yang membakar jubah penyembuh milik Mega dan Embun.
"Ugh!" ringis Mega Nur-Aisyah terhuyung mundur, memegangi lengannya yang terkena percikan asam.
"Mega!" seru Zahra Mentari panik, mencoba melindungi Mega dengan cerminnya.
"Jangan panik, Zahra!" bentak Laras Al-Humaira seraya melompat menembus asap racun, menebas tentakel musuh dengan pisau cahaya di tangannya. "Embun! Obati luka Mega sekarang!"