
Dinding basal lantai keseratus berderak hebat saat guncangan gempa magma menyentak dari rongga bumi terdalam. Debu obsidian beterbangan menutupi pandangan rombongan ksatria yang tersengal menahan lelah dan luka pertempuran. Di ujung lorong kehampaan itu, berdirilah Gerbang Nirwastu setinggi tiga puluh tombak berukir seribu naga dengan urat-urat darah beku yang berkedip ungu menyeramkan. Hawa dingin kematian langsung menyelimuti sukma mereka seketika.
"Berhenti di sini! Rapatkan barisan dan pasang kuda-kuda bertahan sekarang juga!" seru Danu seraya menghentakkan perisai waja hitamnya ke atas lantai batu yang retak seribu. Dadanya naik-turun memburu dengan mata menatap liar ke sekeliling pilar yang berguncang tak beraturan. "Pijakan ini sangat rapuh, kita semua bisa terperosok ke dalam kawah lahar sebelum sempat melihat wujud Sang Raja Kegelapan!"
"Danu benar, aliran prana dalam tubuhku kacau balau akibat gelombang hawa iblis ini," timpal Kirana pucat pasi sambil merapatkan busurnya ke dada. Keringat dingin mengalir deras membasahi pelipisnya saat ia memandang retakan lantai yang menyemburkan racun. "Bara, apakah ini batas akhir perjalanan berdarah kita yang diramalkan oleh leluhurmu tempo hari?"
Bara melangkah dua depa ke depan, jemari kekarnya menggenggam hulu pedang Surya Karang. Bilah berapinya berdengung rendah seolah mengenali musuh bebuyutannya. "Tepat di depan kita, Kirana. Pedangku merespons detak jantung mengerikan di balik pintu terkutuk ini." Ia menoleh ke arah gadis bertudung sutra di sampingnya. "Laras, pusatkan mata batinmu ke altar itu sekarang. Apakah segel purba masih tertidur lelap?"
Laras memejamkan mata perlahan, membiarkan pendaran suci Teratai Perak di dadanya berdenyut menembus kabut pekat. Sekonyong-konyong tubuhnya tersentak kejang, matanya membelalak dipenuhi kengerian luar biasa. "Bara, Danu, lekas menjauh dari altar batu itu sekarang! Segelnya tidak tertidur, ia justru sedang kelaparan menanti kedatangan kita!"
"Apa maksudmu kelaparan?!" sambar Seta tegang seraya mengangkat gada bajranya tinggi-tinggi dengan kilatan petir biru yang bergemeretak liar. "Jangan membuat kami bingung, Laras! Katakan dengan tegas apa yang kaulihat!"
"Altar itu menuntut tumbal darah segar untuk mencairkan segel lapis pertama!" pekik Laras panik ketika ratusan sulur hitam berduri mendadak melesat cepat dari rekahan lantai batu. "Awas di bawah kakimu, Bara!"
"Jangan cemas, aku melindungimu!" jerit Bara seraya mengayunkan pedangnya membelah sulur gaib yang hendak melilit kaki Laras. Percikan api nirwana membakar habis sulur tersebut hingga mendesis memekakkan telinga. "Danu, amankan Kirana dan Seta di belakang perisaimu!"
"Tenang saja, biar kuhancurkan makhluk-makhluk busuk ini dengan perisaiku!" geram Danu seraya menghantamkan tameng bajanya memecahkan sulur yang merayap. "Bara, sulur-sulur ini semakin liar bermunculan dari rekahan lantai batu!"
"Tetap dalam formasi melingkar, jangan ada yang terpencar sejengkal pun!" komando Bara lantang menembus deru gempa. "Kita pertaruhkan nyawa bersama di sini sampai titik darah penghabisan!"
"Darah fana kalian sangat manis untuk membangkitkan keabadianku yang lapar..." dengung bisikan altar yang mendidih rakus, menyulut kepanikan dahsyat di antara mereka berlima yang kini terkepung sangat rapat.
🪷 🪷 🪷
"Minggir kalian semua! Biar kuhancurkan gerbang pembual ini dengan amukan guntur tertinggi!" raung Seta tak sabar lagi melihat rekan-rekannya tertekan oleh sulur-sulur berduri. Pendekar petir perkasa itu melompat tinggi ke udara, mengumpulkan seluruh prana tubuhnya ke ujung gada raksasa. Kilat biru membelah kegelapan gua bawah tanah dengan gemuruh dahsyat. "Hancurlah kau menjadi puing nir-arti, pintu neraka terkutuk!"
"Seta, hentikan tindakan cerobohmu sekarang! Jangan sentuh ukirannya secara langsung dengan serangan fisik!" teriak Laras memperingatkan dengan lantang sekuat tenaga, namun suaranya tenggelam oleh dentuman ledakan yang membutakan mata.
Brakkk! Benturan dahsyat meledak di muka gerbang. Gelombang kejut membalikkan badai petir seketika, melemparkan tubuh kekar Seta sejauh dua puluh depa hingga menghantam pilar batu obsidian. Darah segar menyembur deras dari mulutnya, jubah perangnya koyak berkeping-keping. Senjata gada bajranya terbelah dua di atas lantai batu.
"Seta! Bertahanlah, kumohon!" jerit Kirana histeris seraya meluncur menembus kepulan asap pekat untuk mendekap kepala rekannya yang lunglai tak sadarkan diri. Jemari lentiknya segera memancarkan pendaran cahaya hijau penyembuh sukma. "Napasnya terputus-putus, tulang rusuknya remuk semua akibat pantulan kekuatannya sendiri!"
"Kekuatan kasar tidak akan pernah bisa melukai gerbang purba ini," desis Bara geram sambil berdiri membentengi Kirana dan Seta dengan kibasan mantel apinya. Matanya menyalang menatap daun pintu yang sama sekali tak tergores oleh amukan petir. "Altar terkutuk ini justru menelan energi serangan kita."
Tepat saat itu, ukiran di atas kusen gerbang mendadak menyala benderang dengan pendaran aksara darah kuno Swastika Hitam yang menggeliat hidup di permukaan batu.
"Danu, kau menguasai bahasa aksara Kawi Kuno peninggalan resi, bacakan artinya sekarang!" pinta Bara tanpa melepaskan tatapan waspadanya.
"Artinya sangat terkutuk dan tak masuk akal, Bara," sahut Danu dengan rahang mengeras dan kedua lutut gemetar hebat menahan getaran lantai. Ia mengeja lambat baris aksara berapi itu. "'Pintu keabadian hanya terbuka bagi dua sukma yang terikat sumpah api dan bunga teratai... Jiwa lain yang melangkah lancang akan lebur menjadi debu abu seketika.'"
"Sumpah api dan bunga teratai?" bisik Kirana dengan tatapan hampa menatap Bara dan Laras secara bergantian. Air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh jelaga. "Bukankah itu artinya... hanya kalian berdua yang diizinkan lewat oleh takdir ini?"
"Omong kosong macam apa ini?!" bentak Danu seraya meninju dinding batu hingga retak. "Kita bersumpah menumbangkan Raja Kegelapan bersama-sama sejak dari desa lembah! Mana mungkin kami membiarkan kalian berdua melangkah masuk ke sarang pembantaian itu sendirian tanpa perlindungan perisai kami?!"
"Takdir tidak pernah meminta persetujuan dari air mata kita, Danu," ucap Laras pelan penuh kepedihan mendalam, melangkah mendekat ke sisi Bara. "Ini jalan yang digariskan untuk kami berdua sejak awal penciptaan, dan kami harus menerimanya demi keselamatan kalian semua di tempat ini."
"Aku sungguh tidak rela membiarkan kalian berkorban sendirian tanpa kami!" ratap Kirana pilu sambil memeluk erat tubuh Seta yang tak berdaya.
🪷 🪷 🪷
Belum sempat mereka meredakan kepedihan batin atas takdir kejam itu, raungan parau bergetar hebat dari dinding-dinding lava beku di belakang mereka. Bebatuan hitam pecah berhamburan saat dua sosok raksasa setinggi lima meter merangkak keluar dari jurang kehampaan. Makhluk itu berwujud Golem Raksa Abadi, tersusun dari lelehan magma hitam mendidih dan serpihan tengkorak ribuan prajurit masa lampau yang terperangkap kutukan abadi.
"Penyusup altar harus dimusnahkan tanpa sisa! Jangan biarkan setetes pun darah fana menodai ambang pintu Raja kami!" geram salah satu golem dengan suara parau menggelegar bak longsoran gunung batu.
"Mereka memotong jalan mundur kita ke lantai bawah!" seru Danu seraya mengangkat tamengnya kembali dengan sisa tenaga penghabisan, berdiri kokoh melindungi tubuh Seta yang terbujur kaku. "Bara, gerbang sialan ini menjebak kita tepat di antara kematian dan kepunahan mutlak!"
"Kirana, segera bawa Seta merapat ke ceruk pilar di belakang perisai Danu!" perintah Bara cepat seraya mengalirkan kobaran api nirwana ke sekujur bilah Surya Karang. Keringat bercampur jelaga mengalir di dahinya yang berkerut tegang. "Laras, pusatkan seluruh perhatianmu pada mekanisme kunci pintu! Abaikan monster-monster bebatuan ini sekarang!"
"Aku tidak bisa membiarkan kalian dibantai sendirian!" bantah Laras dengan napas memburu. Ia menarik tali busur saktinya kuat-kuat, melepaskan tiga anak panah cahaya perak yang melesat membelah udara kelam tepat menghujam mata sang golem. Ledakan cahaya suci membutakan raksasa itu sekejap, namun lapisan batunya segera merekat kembali terbungkus lelehan lava baru. "Sihir pemulihan mereka terlalu cepat untuk dihadapi!"