Kabut tebal berwarna kehitaman membumbung tinggi di atas permukaan Danau Tujuh Misteri. Udara dingin yang menusuk tulang berembus kencang, membawa aroma belerang dan keputusasaan. Di tengah gelombang air hitam yang berolak liar, mengapung sebuah daun teratai raksasa berdiameter ratusan meter. Permukaannya dilapisi pendar hijau zamrud legam yang memancarkan daya sihir purba.
"Pijakkan kaki kalian dengan kokoh!" teriak Bara Al-Mustafa seraya menancapkan pedang peraknya ke urat daun teratai, menahan hempasan angin badai. "Arena ini tidak stabil!"
"Aura air di bawah kita benar-benar telah terpolusi sihir terlarang," sahut Samudra At-Thahira seraya memegangi Tongkat Kearifan Samudra. "Sangat sulit untuk memanipulasi kerapatan air di sekitar teratai ini!"
"Lihat ke depan!" jerit Laras Al-Humaira seraya mengencangkan genggaman pada rantai gaibnya. "Dia sudah menunggu kita!"
Di pusat daun teratai raksasa, berdiri sosok Raja Kegelapan. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin kencang, memancarkan aura kehancuran yang begitu pekat hingga membuat atmosfer di sekeliling arena membius kesadaran. Mahkota tanduk berukir simbol kiamat melingkari dahinya, dan matanya memancarkan pendar merah menyala.
"Akhirnya, para serangga dari Sumpah Sembilan Bintang berani menginjakkan kaki di arenaku," gema suara Raja Kegelapan, memutar gelombang suara yang menggetarkan Inti Jiwa setiap ksatria.
"Kejahatanmu di Danau Tujuh Misteri berakhir hari ini, Raja Kegelapan!" seru Banyu Al-Fatih menantang seraya mengangkat perisai raksasanya ke depan.
"Berakhir?" gelak Raja Kegelapan dengan senyum meremehkan. "Kalian datang ke sini bukan untuk menghentikanku, melainkan menyerahkan secara sukarela seluruh energi Inti Jiwa kalian sebagai sajian penutup."
"Jangan dengarkan provokasinya!" pangkas Fajar Nur-Zaman seraya membuka kitab catatannya yang bersinar terang. "Jaga formasi melingkar! Arena teratai ini menyerap energi dari pertarungan kita!"
"Serang bersamaan!" perintah Bara Al-Mustafa menggelegar, menghunus pedangnya yang memancarkan pendar fajar. "Jangan beri dia ruang untuk menguasai medan!"
🪷 🪷 🪷
Sembilan ksatria Sumpah Sembilan Bintang bergerak cepat dalam formasi tempur teruji. Bara Al-Mustafa dan Banyu Al-Fatih menerjang di garis depan, membelah udara pagi yang suram di atas permukaan daun teratai raksasa.
"Seni Pedang Fajar Perak: Tebasan Kilat!" teriak Bara seraya melompat tinggi, menebaskan bilah pedangnya lurus ke arah leher Sang Raja Kegelapan.
"Perisai Penghancur!" tambah Banyu seraya menghantamkan perisai raksasanya ke tanah teratai, melepaskan gelombang kejut yang meretakkan pendar zamrud di permukaan daun.
Namun, Raja Kegelapan tidak bergeser seinci pun dari posisinya. Dengan satu gerakan tangan kiri yang sangat santai, ia mengibaskan jubah hitamnya, melepaskan perisai aura kehitaman yang membentur serangan Bara dan Banyu secara bersamaan.
TAK-BOOOM!
Bara dan Banyu terlempar beberapa meter ke belakang, tumpuan kaki mereka terseret keras di atas permukaan tebal daun teratai.
"Serangan fisik biasa tidak akan mempan!" jerit Zahra Mentari dari garis belakang seraya memungut Busur Cahaya Mentari. "Bayu, bantu aku membuka jalur udara!"
"Topan Angin Pemurni!" seru Bayu Al-Asad seraya melepaskan pusaran angin kencang yang membersihkan kabut hitam di sekitar Raja Kegelapan.
Zahra melepaskan tiga anak panah cahaya sekaligus. Tembakan tersebut meluncur secepat kilat, membelah pusaran angin Bayu dan mengincar titik-titik vital di dada Sang Raja Kegelapan.
SRAAAAAASH!
Raja Kegelapan mengacungkan jarinya, menghentikan ketiga anak panah cahaya itu tepat beberapa inci di depan wajahnya sebelum meremasnya hingga hancur menjadi debu halus.
"Apakah ini kekuatan maksimal dari sang pemanah pilihan?" ejek Raja Kegelapan seraya memiringkan kepalanya. "Sungguh mengecewakan."
"Jangan meremehkan kami!" bentak Laras Al-Humaira seraya melempar rantai gaibnya yang melilit lengan kanan sang raja secara mendadak. "Samudra, Embun! Sekarang!"
"Seni Gabungan Air dan Es: Penjara Beku Danau Misteri!" jerit Samudra At-Thahira dan Embun Al-Khansa serempak.
Gelombang air danau naik membubung tinggi, membeku secara instan membungkus seluruh tubuh Raja Kegelapan di atas daun teratai. Es hitam pekat mengunci pergerakan sang raja, menahannya di pusat arena.
"Apakah kita berhasil menguncinya?!" tanya Mega Nur-Aisyah dengan napas tersengal-sengal seraya memegang ramuan penguat sihir.
"Belum!" pangkas Fajar Nur-Zaman dengan raut wajah sangat tegang seraya menunjuk ke arah kristal es yang mulai meretak. "Aura kehitamannya merusak struktur sihir es Embun dari dalam!"
🪷 🪷 🪷
CRACK-BOOOOM!
Kristal es purba penahan meledak berkeping-keping. Raja Kegelapan keluar dari dalam reruntuhan es dengan kobaran aura kehitaman yang sepuluh kali lebih dahsyat. Daun teratai raksasa berguncang hebat, menyerap kejutan sihir hingga kelopak-kelopak bunga teratai di pinggir danau berguguran dan membakar air menjadi uap racun.
"Kalian telah membuang waktu berhargaku," raung Raja Kegelapan dengan mata membara merah. "Terimalah hukuman atas kelancangan kalian!"