Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #102

BENTROKAN PERTAMA PEDANG PERAK

Kabut gelap bercampur aura kehampaan menggantung pekat di atas Altar Gerhana Abadi. Keheningan mencekam menyelimuti dataran batu pirus yang meretak, tempat sembilan ksatria berdiri dalam formasi siap tempur. Laras Al-Humaira memegang erat busur keperakannya dengan jemari yang gemetar halus, sementara Banyu Al-Fatih dan Guntur Al-Ghazi memagari barisan depan dengan perisai dan kapak besar mereka. Di sisi mereka, Fajar Nur-Zaman, Bayu Al-Asad, Mega Nur-Aisyah, Embun Al-Khansa, Samudra At-Thahira, dan Zahra Mentari mengunci tatapan ke arah puncak tangga altar.

"Apakah kalian merasakan aura ini, Fajar?" bisik Samudra seraya menggenggam erat tongkat air murninya.

"Ya, Samudra. Ini bukan sekadar sihir kegelapan biasa," jawab Fajar dengan suara amat pelan namun tegang. "Ini adalah aura pekat yang mengikat jiwa."

"Di mana Bara?" tanya Laras penuh kecemasan, matanya menyisir pilar-pilar batu yang menghitam. "Panglima Gerhana membawa tubuh dan pedangnya ke tempat ini!"

"Tenanglah, Laras," tegar Banyu seraya menancapkan pedang besarnya ke tanah. "Kita tidak boleh goyah sebelum bertatap muka dengannya."

Tiba-tiba, insiden pemicu meletus dengan benturan energi yang memecahkan keheningan. Sebuah pilar cahaya hitam-keemasan membumbung tinggi dari puncak Altar Gerhana Abadi. Dari balik gulungan asap sihir yang tebal, sosok yang sangat mereka kenal melangkah turun perlahan. Bara Al-Mustafa berdiri di sana, namun sepasang matanya tak lagi berpendar keemasan hangat, melainkan menyala merah dingin di bawah pengaruh sihir kendali jiwa Panglima Gerhana. Di tangan kanannya, Pedang Perak Al-Mustafa berpendar keperakan pekat berhias ukiran mantra kegelapan.

"Bara!" jerit Laras histeris seraya melangkah maju satu tindak. "Bara, ini kami! Sadarlah!"

Bara tidak menjawab. Ia mengangkat Pedang Perak Al-Mustafa tegak lurus di hadapan dadanya, mengarahkan bilah tajamnya lurus ke arah Laras dan kawan-kawannya.

"Dia tidak lagi mengenali kalian," suara Panglima Gerhana bergema dari atas takhta batu altar. "Ksatria Al-Mustafa kalian kini telah menjadi pedang terkuat milik bangsa Gerhana!"

"Panglima biadab! Apa yang telah kau lakukan pada ketua kami?!" bentak Guntur murka, mengacungkan kapak besarnya ke udara.

"Aku hanya melepaskan potensi sejati dari Pedang Perak itu," jawab Panglima Gerhana seraya terkekeh dingin. "Bara, musnahkan para pengganggu ini!"

"Bara, tahan!" seru Banyu seraya mengangkat perisainya. "Jangan biarkan kegelapan menguasai kehendakmu!"

Bara menghentakkan kakinya ke lantai batu pirus. Dalam sekejap mata, tubuhnya melesat bagai kilat keperakan yang menebar aura pembunuh mendalam.

🪷 🪷 🪷

Dentuman hebat meletus saat bilah Pedang Perak Bara menghantam perisai raksasa Banyu. Benturan tersebut memicu gelombang kejut yang meruntuhkan tiga pilar batu di sekeliling altar. Banyu terdorong mundur belasan meter, menahan perisainya yang meretak rapat dengan gigi terkatuk keras. Titik plot pertama memuncak ketika Bara melancarkan serangan bertubi-tubi tanpa belas kasihan terhadap sahabat-sahabat senasibnya.

"Guntur, bantu Banyu!" teriak Fajar seraya membaca alur serangan Bara yang teramat cepat.

"Diterima! *Hantaman Petir Purba!*" seru Guntur seraya melompat, menghantamkan kapaknya ke arah lantai di depan kaki Bara.

Bara melompat ke udara secara akrobatik, menghindari gelombang petir Guntur. Di udara, ia memutar tubuhnya dan menebaskan Pedang Perak secara mendatar, melepaskan tebasan pendar keperakan beracun yang mengincar garis belakang.

"Mega, Embun! Pasang benteng pelindung!" jerit Zahra seraya melemparkan tiga kristal pelindung ke udara.

"*Sihir Mawar Pengobat: Benteng Abadi!*" seru Mega dan Embun bersamaan.

Kubah cahaya hijau dan merah muda mekar seketika, menahan tebasan tajam Bara. Mawar-mawar cahaya meliuk menahan laju tebasan keperakan, namun daya hancur energi Bara membuat benteng tersebut retak seribu.

"Kekuatan tebasannya jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya!" desah Embun dengan peluh dingin membasahi dahinya.

"Itu karena sihir kegelapan menghapus batas aman penggunaan mana pada tubuhnya!" jelas Fajar penuh keprihatinan. "Jika ini terus berlanjut, tubuh Bara sendiri akan hancur oleh energinya!"

"Bara! Hentikan ini!" panggil Laras seraya melompat menyejajari posisi Bara di udara. Ia melepaskan panah keperakan yang mengincar gagang pedang Bara. "*Panah Pembelah Langit!*"

Anak panah Laras meluncur presisi. Namun, dengan refleks yang sangat mengerikan, Bara mengayunkan pedangnya membelah anak panah Laras menjadi dua bagian sebelum meledak di udara.

"Laras, mundur!" teriak Bayu seraya menciptakan pusaran angin pembalik untuk menarik Laras kembali ke barisan pertahanan.

"Aku tidak bisa mundur, Bayu!" seru Laras dengan air mata menetes. "Aku harus menjangkau jiwanya!"

Bara mendarat di atas batu melayang, menatap Laras dengan pandangan hampa tanpa emosi. "Siapa pun yang menghalangi jalan Gerhana... akan dimusnahkan," bisik Bara dengan suara ganda yang menakutkan.

🪷 🪷 🪷

Bara kembali menerjang dengan kecepatan supersonik, memicu tekanan Titik Jepit yang teramat sangat bagi sembilan ksatria yang enggan membalas dengan serangan mematikan. Pilihan sulit membayangi mereka: bertarung penuh dan melukai Bara, atau terus bertahan hingga energi mereka terkuras habis.

"Kita tidak bisa bertarung seseparuh hati seperti ini!" seru Banyu seraya menahan tebasan bawah Bara. "Dia menyerang untuk membunuh, sementara kita hanya menahan!"

"Tapi kita tidak boleh melukainya, Banyu!" balas Laras seraya mendarat di samping Banyu. "Sihir kendali itu mengikat inti jantungnya!"

"Samudra, apakah ada cara menetralkan sihir kendali dari jarak dekat?" tanya Zahra terengah-engah.

"Ada! Tapi seseorang harus menahan pergerakan Pedang Perak itu secara langsung!" sahut Samudra seraya memutar tongkat airnya untuk mengunci kaki Bara dengan es murni.

Lihat selengkapnya