Hawa dingin yang menusuk tulang melingkupi ruang takhta utama Istana Teratai Hitam pasca ledakan gerbang besar. Dua kubus kristal hitam melayang di udara, mengurung tubuh Bara Al-Mustafa dan Bayu Al-Asad dalam kekosongan hampa udara yang menguras napas perlahan-lahan. Di hadapan mereka, sosok Penguasa Teratai Hitam berdiri menjulang dengan jubah kebesarannya yang berkibar dihantam angin kematian.
"Bara! Bayu!" teriak Laras Al-Humaira tertahan, matanya membelalak lebar menatap kapten dan sahabatnya yang mulai kehilangan kesadaran di dalam perangkap kristal.
"Jangan mendekat, Laras!" seru Samudra At-Thahira setengah berteriak, menahan tubuh Banyu Al-Fatih yang masih batuk darah di lantai batu. "Kubus hampa itu dirancang untuk menyerap setiap alur mana yang mendekat!"
"Kita tidak bisa hanya diam menonton mereka mati tercekik di sana, Samudra!" balas Laras Al-Humaira dengan suara bergetar amarah, jemarinya mencengkeram erat hulu busur kayu cendananya.
Penguasa Teratai Hitam melirik remeh ke arah delapan ksatria garis belakang yang kini tersisa. Senyum sinis terukir di balik topeng besi kelamnya. "Kalian kira kemenangan kecil di lorong bawah tanah membuat kalian setara dengan dewa kegelapan? Kapten kalian yang sombong itu kini tak lebih dari patung es yang menunggu hancur."
"Tutup mulut busukmu!" raung Guntur Al-Ghazi, mencoba bangkit meski kapak petirnya masih retak dan mengeluarkan percikan api lemah.
"Guntur, simpan tenagamu!" tegur Mega Nur-Aisyah sambil melilitkan selendang penyembuh di lengan Guntur yang terluka parah. "Manamu belum pulih sepenuhnya dari pertempuran sebelumnya."
Laras Al-Humaira mengambil tiga langkah ke depan, berdiri tepat di garis paling depan benteng pertahanan ksatria yang tersisa. Napasnya teratur, membuang jauh-jauh rasa gentar yang sempat mencubit hatinya. Ia menarik tali busur kayu cendananya hingga melengkung maksimal, mengarahkan mata panah tepat ke dahi Penguasa Teratai Hitam.
"Aku tidak peduli seberapa kuat dewa kegelapan yang kau sembah," ucap Laras Al-Humaira dengan nada dingin dan penuh wibawa yang memecah keheningan ruang takhta. "Di hadapan keteguhan dua belas ksatria, tidak ada kubus yang tidak bisa ditembus!"
"Anak panah kecil yang sombong," ejek Penguasa Teratai Hitam sambil melambaikan tangan kanannya dengan santai. "Mari kita lihat apakah panahmu sanggup menembus kejutan kecilku."
🪷 🪷 🪷
Seketika setelah lambaian tangan Penguasa Teratai Hitam, lantai batu di bawah kaki Laras Al-Humaira pecah berkeping-keping. Dari dalam celah lantai tersebut, puluhan bilah bayangan tajam meluncur vertikal dengan kecepatan kilat, mengincar sekujur tubuh Laras tanpa peringatan.
"Awas, Laras!" teriak Embun Al-Khansa dan Zahra Mentari serempak.
Laras tidak panik. Insting bertempurnya sebagai pemanah ulung bergerak lebih cepat dari refleks biasa. Dengan lompatan ke belakang yang anggun, ia menghindari gelombang pertama bilah bayangan yang mencuat dari lantai.
SWOOSH!
Tiga bilah bayangan berhasil merobek ujung jubah hijaunya, namun Laras berhasil mendarat sempurna di atas pilar batu yang runtuh. Tanpa membuang waktu sepersekian detik pun, ia melepaskan anak panah cahaya pertamanya ke arah Penguasa Teratai Hitam.
"Panah Cendana Pertama: Pembelah Bayangan!" seru Laras Al-Humaira.
Anak panah berbalut pendar keemasan meluncur tajam, namun sebelumm mencapai sasaran, sesosok bayangan pekat menjelma di udara dan menepis panah tersebut hingga hancur berkeping-keping di tengah jalan.
"Permainan yang lumayan cepat," puji Penguasa Teratai Hitam tanpa sedikit pun bergeser dari posisinya di atas takhta. "Tapi seranganmu terlalu mudah dibaca."
"Jangan senang dulu, kegelapan!" seru Fajar Nur-Zaman yang langsung menyusul ke sisi Laras, mengibaskan gulungan anginnya untuk menyapu kabut bayangan yang mencoba mengurung mereka.
"Terima kasih, Fajar," ucap Laras tanpa mengalihkan pandangannya dari sang Penguasa. "Musuh ini menggunakan ilusi gravitasi. Setiap kali kita melepaskan serangan jarak jauh, arahnya dibiaskan oleh medan magnet istana."
"Kalau begitu kita harus memperpendek jarak atau menggabungkan elemen angin dan air untuk menetralkan medan magnet itu," usul Samudra At-Thahira yang ikut merangsek maju, menancapkan tongkat airnya ke lantai untuk menciptakan pijakan stabil.
"Biar aku bantu menopang fokus bidikanmu, Laras!" seru Zahra Mentari, mengangkat pecahan Cermin Surya yang masih memantulkan pendar cahaya tipis ke arah busur Laras.
"Zahra benar, Laras. Kami berdelapan ada di belakangmu untuk memastikan setiap tarikan busurmu tidak goyah," tambah Mega Nur-Aisyah menyalurkan pendar biru pemulih ke punggung Laras.
Laras merasakan aliran energi hangat meresap ke sekujur lengannya, menghilangkan rasa lelah akibat pertempuran panjang di lembah. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Baiklah. Jika mereka ingin bermain kejutan, kita berikan kejutan yang jauh lebih besar."
🪷 🪷 🪷
Tiba-tiba, udara di dalam ruang takhta berubah menjadi sangat pekat dan berat. Kubus kristal hitam yang mengurung Bara Al-Mustafa dan Bayu Al-Asad mendadak berputar kencang, memancarkan gelombang kejut elektromagnetik yang mendorong delapan ksatria terpental mundur beberapa langkah.
"Ugh! Tekanan gravitasinya meningkat drastis!" ringis Guntur Al-Ghazi, menahan berat tubuhnya dengan menancapkan kapak birunya ke tanah.
"Bara dan Bayu dalam bahaya besar!" seru Banyu Al-Fatih yang memaksakan diri berdiri meski napasnya masih memburu. "Jika putaran kubus itu mencapai batas maksimum, alur mana mereka akan hancur permanen!"
"Kita harus memecahkan kubus itu sekarang juga!" desak Fajar Nur-Zaman, mencoba melepaskan badai angin ke arah kubus, namun pendar anginnya langsung terserap habis oleh dinding kristal hitam.
"Tidak bisa, Fajar!" cegah Laras Al-Humaira dengan suara tegas. "Serangan membabi buta hanya akan mempercepat hancurnya alur mana Bara dan Bayu di dalam sana! Kita harus melumpuhkan sumber pengendali gravitasinya terlebih dahulu!"
"Dan sumber itu berada tepat di tangan Penguasa Teratai Hitam!" tambah Samudra At-Thahira menunjuk sosok musuh yang kini mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
Penguasa Teratai Hitam tertawa dingin. Gelap pekat berkumpul di telapak tangannya, membentuk bola energi berukuran besar yang siap dilemparkan ke arah kelompok Laras. "Kalian kira bisa merencanakan strategi di hadapanku? Rasakan kehancuran ini!"