Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #104

KEGELAPAN MERAYAP

Kabut pekat beracun merayap lambat di sepanjang lorong-lorong gua bawah tanah yang basah, mengeluarkan suara desisan halus yang mencengkeram jiwa. Di sebuah sudut reruntuhan batu pirus, Bara Al-Mustafa terbaring tidak berdaya dengan napas yang memburu dan tersengal-sengal. Luka sayatan menganga di sekujur dadanya, mengeluarkan cairan kehitaman yang perlahan membekukan pembuluh darah di sekitarnya. Di sampingnya, Laras Al-Humaira berlutut dengan air mata yang menetes deras, meraba dahi Bara yang panas membara akibat efek balik dari penggunaan teknik tertinggi sebelumnya.

"Bara, bertahanlah! Jangan tutup matamu!" bisik Laras dengan suara bergetar hebat, menekan kain perban di dada Bara untuk membendung darah hitam yang terus merembes.

"Laras... racun itu... sudah merasuk hingga ke inti nadiku," rintih Bara dengan suara parau, jari-jarinya mengepal lemah di atas tanah yang dingin.

"Di mana Mega dan Embun?!" seru Banyu Al-Fatih cemas sambil menahan luka di bahunya dengan perisai besar. "Kita butuh ramuan penyuci secepatnya!"

"Peralatan alkimia mereka hancur di altar sebelumnya, Banyu!" sahut Guntur Al-Ghazi dengan raut wajah geram, mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.

Tiba-tiba, insiden pemicu meletus ketika dinding gua di sebelah kiri mereka mendadak meledak berkeping-keping. Dari balik debu dan reruntuhan batu, puluhan monster bayangan bermata merah menyala merayap keluar dengan suara decitan yang memekakkan telinga. Kabut kegelapan di sekeliling mereka mendadak menebal, menelan sisa-sisa cahaya obor kristal yang dibawa oleh Fajar Nur-Zaman.

"Mereka menemukan persembunyian kita!" teriak Fajar seraya mengayunkan tongkat sihirnya untuk menciptakan dinding api penolak bala.

"Bayu, Samudra! Jaga sisi belakang!" perintah Banyu sigap, mengangkat perisainya untuk menepis lemparan duri beracun dari monster bayangan terdepan.

"Diterima, Banyu!" seru Samudra At-Thahira, menghentakkan tongkat airnya untuk memicu gelombang es yang membekukan kaki puluhan monster bayangan di lorong utama.

"Zahra, lindungi Bara dan Laras dari lemparan batu runtuhan!" seru Zahra Mentari, melemparkan kristal pelindung keemasan yang membentuk kubah mini di atas tubuh Bara yang terluka parah.

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya!" geram Laras penuh tekad, mencabut sisa belatinya dan berdiri di hadapan Bara yang terbaring kaku.

🪷 🪷 🪷

Monster-monster bayangan itu mendesis beringas, memanjat dinding gua dan menyerbu secara serentak dari segala penjuru. Titik plot pertama memuncak ketika gelombang serangan musuh berhasil menerobos garis pertahanan luar yang dijaga oleh Bayu dan Samudra. Bayu terlempar keras menghantam dinding batu akibat hantaman ekor monster bayangan berukuran raksasa, sementara Samudra terpaksa mundur untuk menyelamatkan Fajar yang kehabisan mana.

"Pertahanan kita di sisi utara jebol!" jerit Bayu seraya meludah darah segar dari sudut bibirnya.

"Guntur, bantu Bayu menahan lorong utama!" panggil Fajar dengan napas terengah-engah, mencoba memulihkan lingkaran sihir pelindungnya.

"Serahkan padaku! Hantaman Kapak Pembelah!" teriak Guntur penuh kemarahan, mengayunkan kapak besarnya melingkar dan meremukkan lusinan monster bayangan dalam satu tebasan bertenaga.

Di tengah kecamuk pertempuran yang sengit, kondisi Bara semakin memburuk. Racun kegelapan yang menggerogoti tubuhnya mulai memancarkan pendar ungu di bawah kulit lehernya, menjalar cepat menuju kepala.

"Laras... tinggalkan aku..." bisik Bara lirih, matanya setengah terpejam menahan rasa sakit yang luar biasa. "Racun ini... tidak bisa dihentikan lagi."

"Tidak, Bara! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu di sini!" tangis Laras pecah, menggenggam tangan Bara yang sedingin es. "Kita berjuang bersama sejak awal, dan kita akan keluar dari gua ini bersama!"

"Tapi... tenagaku sudah habis..." gumam Bara lemah, detak jantungnya semakin melambat di balik kubah kristal Zahra.

"Laras, lindungi Bara! Monster-monster itu semakin mendekat ke arah tenda darurat!" panggil Zahra memperingatkan, kewalahan menahan terjangan cakar bayangan yang menghantam kubah pelindungnya.

"Aku di sini, Bara! Jangan menyerah!" seru Laras, menyiapkan busur keperakannya walau tangannya bergetar hebat.

🪷 🪷 🪷

Tekanan pertempuran kian menekan ketika lorong gua mendadak menyempit, menciptakan Titik Jepit yang membuat ruang gerak para ksatria tersisa semakin terbatas. Monster bayangan kini tidak hanya menyerang secara fisik, melainkan memancarkan gelombang suara ultrasonik yang merusak konsentrasi sihir Fajar dan Zahra.

KRAAAKK!

Kubah pelindung kristal Zahra retak dan pecah berkeping-keping akibat hantaman gelombang suara tersebut. Zahra dan Fajar terhuyung mundur, memegang telinga mereka yang mulai mengeluarkan darah segar.

"Sihir suara mereka... melumpuhkan aliran mana kita!" rintih Zahra berlutut di tanah.

"Guntur, Banyu! Mundur ke belakang sekarang!" perintah Fajar dengan suara parau.

Lihat selengkapnya