Kegelapan hampa yang mencekam menelan seluruh kesadaran para ksatria setelah pusaran lubang hitam Danau Tujuh Misteri menyedot mereka tanpa ampun. Di dalam dimensi dimensi tak berdasar yang dipenuhi kabut abu-abu beracun, sembilan anggota Sumpah Sembilan Bintang terhempas jatuh ke atas lantai batu obsidian yang dingin. Tidak ada satupun pendar cahaya elemen yang mampu menyala; udara terasa sangat berat, seolah menekan dada setiap ksatria hingga remuk.
"Argh... Di mana kita sekarang?" rintih Mega Nur-Aisyah seraya meraba lantai gelap di sekelilingnya dengan jemari yang gemetaran hebat.
"Sihir elemen kita sepenuhnya terkunci," sahut Fajar Nur-Zaman dengan suara serak, berusaha meraba kitab catatannya yang kini berubah dingin tanpa pendar emas. "Tidak ada jalur keluar dari dimensi hampa ini."
Bara Al-Mustafa terbaring tengkurap di atas lantai obsidian, pedang peraknya terlepas dari genggamannya dan tergeletak jauh beberapa meter di depannya. Tubuhnya dipenuhi luka lebam yang belum sembuh dari pertempuran sebelumnya, namun luka di hatinya terasa jauh lebih menyiksa. Kegagalan demi kegagalan yang terus beruntun meruntuhkan sisa-sisa keyakinan dalam jiwanya.
"Kita sudah kalah," bisik Bara Al-Mustafa dengan tatapan kosong menatap lantai hitam legam. Suaranya terdengar hampa, kehilangan seluruh wibawa seorang ketua kelompok. "Segala pengorbanan kita di Istana Gerhana dan Danau Tujuh Misteri... semuanya sia-sia belaka."
"Jangan bicara begitu, Bara!" panggil Samudra At-Thahira seraya merangkak mendekati sang ketua, meskipun napasnya sendiri tersengal-sengal menahan beban tekanan dimensi. "Kita masih bernapas! Sumpah kita belum selesai!"
"Sumpah apa lagi, Samudra?" potong Bara dengan nada putus asa yang menyayat hati. "Ratu Eclipsa telah merenggut segalanya. Pedangku patah, sihir kita mati, dan kita terjebak di tempat tanpa ujung ini. Tidak ada jalan keluar."
Di dekat dinding batu obsidian yang menjulang tinggi, Laras Al-Humaira berdiri perlahan-lahan. Rantai gaib peraknya tergeletak kaku di tanah, namun sorot mata Laras menyala tajam menembus kabut abu-abu. Ia menatap punggung Bara Al-Mustafa yang kini meringkuk dalam keputusasaan total.
"Bangkitlah, Bara," ucap Laras Al-Humaira dengan suara tegas yang bergema di ruang hampa tersebut. "Ketua Sumpah Sembilan Bintang tidak boleh menyerah hanya karena satu kegelapan."
🪷 🪷 🪷
Panggilan tegas dari Laras Al-Humaira tidak langsung mencairkan keputusasaan yang membeku di dalam diri Bara Al-Mustafa. Sang ketua hanya menggelengkan kepalanya perlahan, membiarkan butiran keringat bercampur darah menetes ke lantai obsidian.
"Percuma, Laras," jawab Bara Al-Mustafa parau. "Kau tidak melihat wujud Dewa Kiamat Purba tadi. Kekuatan kita tidak ada apa-apanya di hadapan takdir kehancuran itu."
"Takdir tidak ditentukan oleh seberapa besar musuh kita, Bara, melainkan seberapa kuat kita mempertahankan sumpah yang telah kita ucapkan!" seru Laras Al-Humaira seraya melangkah mantap mendekati Bara.
"Laras benar, Bara," tambah Banyu Al-Fatih yang dibantu berdiri oleh Embun Al-Khansa. "Kami tidak pernah mengikuti dan mempercayaimu karena kau tidak pernah gagal. Kami mengikutimu karena kau selalu bangkit di saat paling gelap."
"Tapi kali ini tidak ada lagi cahaya yang bisa kita harapkan," rintih Mega Nur-Aisyah sambil menunduk lesu. "Bahkan panah Zahra dan sihir Fajar tidak berfungsi di tempat ini."
Laras Al-Humaira berhenti tepat di hadapan Bara Al-Mustafa. Ia berlutut satu kaki di atas lantai dingin, menatap lurus ke dalam mata Bara yang kehilangan arah. Tanpa ragu-ragu, Laras melepas sarung tangan peraknya, lalu menorehkan telapak tangannya sendiri pada ujung tajam pecahan batu obsidian hingga darah segar mengalir deras.
"Apa yang kau lakukan, Laras?!" jerit Zahra Mentari terbelalak kaget melihat tindakan nekat sahabatnya.
"Aku sedang mengingatkan kalian pada sumpah kita," jawab Laras Al-Humaira tenang, meski darah mengucur dari telapak tangannya. Ia menempelkan telapak tangannya yang berdarah ke atas tanah obsidian di hadapan Bara. "Dengarkan sumpahnya, Ksatria!"
"Laras... hentikan, tanganmu terluka parah," cegah Bara Al-Mustafa, suaranya sedikit bergetar melihat darah Laras.
"Aku, Laras Al-Humaira, bersumpah di atas darah dan nyawaku," suara Laras melengking jernih, membelah keheningan dimensi hampa dengan penuh wibawa. "Bahwa selama jantungku masih berdetak dan rantai jiwaku masih terikat, aku tidak akan pernah membiarkan ketua kelompokku menyerah pada keputusasaan!"
Pendar cahaya perak kebiruan mendadak terpancar dari tetesan darah Laras di lantai obsidian, merambat cepat membentuk simbol ikatan Sumpah Sembilan Bintang yang selama ini redup.
🪷 🪷 🪷
Pendar cahaya perak dari sumpah Laras Al-Humaira memicu getaran hebat di seluruh lantai dimensi obsidian. Kabut abu-abu beracun di sekeliling mereka mendadak mendidih dan terpental mundur sejauh beberapa meter, seolah ketakutan oleh kembalinya tekad murni para ksatria.
"Lihat! Pendar sihirnya mulai merespons!" jerit Bayu Al-Asad seraya menunjuk ke arah telapak tangan Laras yang bercahaya terang.
"Sumpah jiwa itu... membersihkan blokade sihir di dimensi ini!" tambah Fajar Nur-Zaman dengan mata terbelalak takjub, merasakan lembaran kitabnya kembali menghangat di dalam genggamannya.
Namun, kebangkitan pendar sihir tersebut memicu reaksi balik yang mengerikan dari kegelapan di atas kepala mereka. Langit dimensi hampa pecah, memuntahkan ribuan bayangan duri hitam bertaring yang meluncur deras menerjang posisi sembilan ksatria.
"Awas! Serangan balik dimensi!" seru Samudra At-Thahira seraya merentangkan tangannya, meskipun tongkatnya belum sepenuhnya pulih.
"Biarkan mereka datang!" pangkas Laras Al-Humaira dengan mata menyala penuh keberanian. Ia bangkit berdiri, merentangkan kedua tangannya tanpa memedulikan darah yang terus menetes dari telapak tangannya. "Seni Rantai Jiwa Pemurni: Perisai Darah Sumpah!"
SRAAAAASH!