Runtuhnya Istana Teratai Hitam memicu getaran purba yang merembes hingga ke dasar lembah. Di tepi Danau Tujuh Misteri, air telaga yang tadinya mulai menjernih mendadak bergolak hebat, memuntahkan gelembung-gelembung hitam pekat beracun yang mengancam kehidupan di sekitarnya. Di tengah reruntuhan menara utama yang tersisa, sosok Penguasa Teratai Hitam berdiri dengan napas memburu dan topeng besi yang hancur separuh.
"Kalian... kalian benar-benar telah menghancurkan kerja atorku selama ribuan tahun!" geram Penguasa Teratai Hitam dengan suara serak penuh keputusasaan yang melengking.
Bara Al-Mustafa melangkah mantap di atas pecahan batu marmer, mengacungkan pedang peraknya yang memancarkan pendar putih keemasan tanpa celah. "Kekuasaanmu yang dibangun atas penderitaan dan tipu daya telah runtuh, Penguasa Teratai. Menyerahlah!"
"Menyerah?!" bentak sang musuh utama diiringi tawa histeris yang mengguncang tebing-tebing curam Lembah Kelam. "Lebih baik aku menghancurkan seluruh danau ini dan mengubur kalian semua ke dalam kehampaan abadi daripada harus melihat kemenangan kalian!"
"Jangan biarkan dia mencapai pusat telaga!" seru Laras Al-Humaira dari samping Bara, langsung menarik tali busur kayu cendananya dan membidikkan anak panah cahaya tepat ke arah tangan musuh.
"Sudah terlambat, ksatria bodoh!" raung Penguasa Teratai Hitam sambil menghunjamkan telapak tangannya yang bernoda hitam langsung ke dalam retakan tanah yang terhubung ke sumber mata air Danau Tujuh Misteri.
Seketika itu juga, air di ketujuh titik telaga berubah warna menjadi merah darah menyala. Gelombang kejut gaib menyebar dengan kecepatan tinggi, meretakkan fondasi tanah di seluruh pesisir danau dan melepaskan sihir pemusnah massal yang siap meratakan seluruh wilayah dalam sekejap.
"Dia mencoba meledakkan mata air inti Danau Tujuh Misteri!" pekik Samudra At-Thahira panik, menancapkan tongkat airnya ke tanah untuk menahan getaran awal.
"Jika pusat telaga itu meledak, seluruh lembah ini akan lenyap dari peta!" tambah Fajar Nur-Zaman dengan wajah pucat pasi.
🪷 🪷 🪷
Getaran dahsyat dari dasar danau membuat sepuluh ksatria lainnya nyaris kehilangan keseimbangan. Banyu Al-Fatih segera menancapkan perisai intannya untuk melindungi barisan belakang, sementara Guntur dan Bayu berjuang menahan runtuhnya batu-batu besar dari tebing atas.
"Bara! Apa yang harus kita lakukan?!" tanya Banyu Al-Fatih setengah berteriak menembus deru air telaga yang mulai meluap ke daratan.
"Kita harus memutus aliran sihir pemusnah yang dia salurkan ke dalam mata air inti!" jawab Bara Al-Mustafa dengan mata menyala penuh ketegasan. "Laras, Fajar, berikan aku jalur tembak langsung ke titik pusat pusaran merah itu!"
"Diterima, Kapten!" seru Laras Al-Humaira dan Fajar Nur-Zaman serempak.
Laras menarik busurnya maksimal, sementara Fajar mengibaskan gulungan anginnya untuk meniup kabut darah di atas permukaan air danau. Namun, Penguasa Teratai Hitam menyadari niat mereka. Dengan sisa tenaga penghabisannya, ia memanggil ribuan pilar bayangan berduri yang mencuat dari dalam air untuk menghalangi jalan.
"Kalian tidak akan pernah bisa mencapai inti telaga!" murka Penguasa Teratai Hitam. "Kalian semua akan mati bersama runtuhnya danau ini!"
"Panah Cendana Tiga Arah: Pembelah Pilar!" teriak Laras Al-Humaira melepaskan tembakannya dengan presisi luar biasa.
SWOOSH! STRIKE!
Anak panah Laras menghancurkan pilar-pilar bayangan terdepan, membuka celah sempit yang langsung dimanfaatkan oleh Fajar untuk meniupkan taufan angin pembersih jalur.
"Masuk, Bara!" panggil Laras Al-Humaira memberi aba-aba.
Bara Al-Mustafa melesat bagaikan kilat keemasan menembus celah sempit tersebut, mengincar posisi Penguasa Teratai Hitam yang masih menancapkan tangannya di tanah sumber air.
"Matilah di sini, Bara!" geram sang musuh, melepaskan gelombang kejut energi hitam langsung ke arah dada Bara secara mendadak.
BOOM!
Bara berhasil menangkisnya dengan pedang perak, namun gelombang kejut tersebut telak melontarkannya hingga terhempas jatuh ke atas batu karang tepi telaga.
"Kapten!" jerit Zahra Mentari dan Embun Al-Khansa cemas melihat Bara terjatuh.
🪷 🪷 🪷
Bara Al-Mustafa bangkit perlahan, menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya. Pendar putih di bilah pedangnya sempat meredup sejenak akibat hantaman telak energi hitam, namun tekad di dalam matanya tidak sedikit pun padam.
"Kekuatan putus asa tidak akan pernah bisa mengalahkan tekad murni, Penguasa Teratai!" tandas Bara Al-Mustafa dengan suara menggelegar.
"Sombong!" murka Penguasa Teratai Hitam, semakin mempercepat aliran sihir penghancurnya hingga air Danau Tujuh Misteri mulai mendidih dan memuntahkan api hitam ke udara.