Kabut keunguan yang pekat membubung tinggi dari dalam cermin obsidian, memancarkan gelombang tekanan sihir yang membekukan aliran air di sekeliling Danau Tujuh Misteri. Sembilan ksatria Sumpah Sembilan Bintang terpaku di tempat, menatap bayangan misterius berjubah perak yang tersenyum dingin dari balik permukaan cermin. Waktu di sekitar mereka seolah terhenti, menyisakan detak jantung yang berdegup kencang di dalam dada masing-masing ksatria.
"Tekanan sihir ini... sama sekali berbeda dari Ratu Eclipsa maupun Raja Kegelapan!" seru Fajar Nur-Zaman dengan suara bergetar, jemarinya mencengkeram erat kitab sucinya yang kini diselimuti embun es ungu.
"Siapa sebenarnya figur di balik cermin itu?!" bentak Bara Al-Mustafa seraya menghunuskan kembali pedang peraknya dengan genggaman yang sangat kuat. "Tunjukkan wujudmu yang sesungguhnya!"
Figur berjubah perak di dalam cermin perlahan-lahan mengangkat tangannya, memancarkan pendar cahaya ungu yang menyilaukan mata. Bayangan itu tidak menjawab pertanyaan Bara, melainkan melirik ke arah Laras Al-Humaira yang berdiri siaga di samping sang ketua kelompok.
"Kalian mengira telah mencapai puncak dari Sumpah Sembilan Bintang," bisik suara misterius itu langsung menggema di dalam benak kesembilan ksatria. "Padahal, rantai takdir kalian hanyalah bidak kecil yang kususun untuk membuka gerbang dimensi utama."
"Jangan dengarkan provokasinya!" seru Laras Al-Humaira seraya merentangkan rantai gaibnya yang kini memancarkan pendar perak murni. "Dia sedang mencoba memecah konsentrasi kita!"
"Laras benar," pangkas Samudra At-Thahira seraya mengangkat tongkatnya untuk menstabilkan barisan pertahanan. "Kita tidak boleh membiarkan rasa takut menguasai diri kita lagi."
Namun, sebelum ada di antara mereka yang sempat melangkah maju, cermin obsidian itu melepaskan gelombang kejut sonik yang memecah permukaan es danau menjadi ribuan serpihan tajam. Bayangan berjubah perak itu lenyap dalam sekejap, meninggalkan retakan dimensi terbuka lebar di hadapan para ksatria, memuntahkan pasukan bayangan lapis baja baru yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Pasukan musuh baru muncul dari celah dimensi!" teriak Banyu Al-Fatih seraya menancapkan perisai raksasanya ke tanah. "Bersiap di posisi tempur!"
"Bara, kita membutuhkan gerakan kombinasi yang belum pernah ada untuk menembus pertahanan mereka!" seru Laras Al-Humaira menatap tajam ke arah Bara.
🪷 🪷 🪷
Puluhan prajurit bayangan lapis baja perak melompat keluar dari celah dimensi, mengacungkan tombak-tombak bermata dua yang memancarkan api ungu. Serangan mereka begitu cepat dan terkoordinasi, langsung menghantam barisan pertahanan Sumpah Sembilan Bintang tanpa memberi waktu bernapas.
"Tahan sisi kiri, Banyu!" perintah Bara Al-Mustafa seraya melompat maju memotong jalur tiga prajurit bayangan yang mengincar posisi Fajar dan Mega.
"Seni Perisai Besi: Benteng Danau!" raung Banyu Al-Fatih seraya menghantamkan perisainya ke tanah, memicu dinding perak tebal yang menahan hantaman tombak api ungu musuh.
"Bayu, Zahra! Bersihkan angkasa dari pemanah bayangan!" seru Samudra At-Thahira seraya melepaskan naga air untuk melindungi posisi belakang.
Zahra Mentari menarik tali busurnya hingga maksimal, melepaskan anak panah bercabang tiga yang meluncur secepat kilat merontokkan para pemanah bayangan di atas tebing. Di sampingnya, Bayu Al-Asad meniupkan topan angin puting beliung yang menyapu bersih sisa-sisa pasukan musuh di sayap kanan.
Namun, prajurit bayangan berlapis perak itu memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa. Setiap kali tubuh mereka terbelah oleh tebasan pedang para ksatria, serpihan baja tersebut langsung menyatu kembali dalam hitungan detik.
"Senjata biasa tidak bisa melukai mereka secara permanen!" jerit Fajar Nur-Zaman panik seraya membolak-balik halaman kitabnya yang kini menyala terang. "Struktur zirah mereka terikat langsung oleh sihir dimensi cermin!"
"Kalau begitu kita harus menghancurkan sumber energi dimensi itu dari akarnya!" balas Laras Al-Humaira seraya mengayunkan rantai gaibnya untuk melilit leher lima prajurit sekaligus. "Bara, ikuti aba-abaku! Kita gunakan taktik sinkronisasi jiwa!"
Bara Al-Mustafa menoleh sekilas ke arah Laras, menangkap sinyal penuh keyakinan dari mata sahabat setianya. Sejak peristiwa di dimensi hampa, ikatan batin di antara Bara dan Laras telah mencapai tingkat penyelarasan mutlak yang belum pernah mereka capai sebelumnya.
"Aku siap, Laras!" seru Bara Al-Mustafa dengan mata menyala terang. "Tunjukkan jalannya!"
🪷 🪷 🪷
Gelombang serangan pasukan bayangan perak semakin menjadi-jadi. Ratusan tombak api ungu menghujani posisi sembilan ksatria, memaksa mereka mundur perlahan ke dekat reruntuhan altar Danau Tujuh Misteri. Tekanan sihir dari celah dimensi yang terbuka di atas kepala mereka terasa semakin berat, menekan pundak setiap ksatria hingga napas mereka mulai tersengal-sengal.
"Bara, Laras! Pertahanan kita di sisi tengah mulai terdesak!" jerit Embun Al-Khansa seraya menyalurkan sihir es untuk membekukan kaki musuh yang menerobos masuk.
"Jangan beri mereka celah untuk menutup lingkaran!" perintah Bara Al-Mustafa seraya berputar cepat, menebas tiga prajurit bayangan dengan pendar fajar peraknya.
Laras Al-Humaira melompat ke atas batuan pualam, merentangkan rantai peraknya membentuk pola lingkaran besar yang mengelilingi seluruh anggota Sumpah Sembilan Bintang. Darah segar kembali menetes dari telapak tangannya, namun Laras mengabaikan rasa sakit itu demi menjaga kestabilan energi kelompok.
"Fajar, salurkan energi kitabmu ke dalam pola rantaiku sekarang!" seru Laras Al-Humaira dengan napas tersengal.
"Diterima!" balas Fajar Nur-Zaman seraya mengarahkan lembaran kitab sucinya tepat ke arah pusat rantai Laras.
BOOM!