Angin kehampaan bertiup kencang di Jantung Kegelapan, membawa serpihan debu hitam yang memantulkan cahaya ungu mengerikan dari dinding-dinding gua purba. Langit di atas dataran akhir itu terbelah menjadi lingkaran pusaran badai energi yang berputar lambat namun mematikan. Di hadapan gerbang benteng utama, Bara Al-Mustafa berdiri tegak dengan napas teratur dan pandangan tajam menusuk kegelapan. Di tangan kanannya, Pedang Perak Al-Mustafa berpendar hebat, memancarkan cahaya keemasan yang seolah menolak tunduk pada tirani malam abadi. Di belakangnya, Laras Al-Humaira memegang busur keperakannya dengan jemari yang kokoh, sementara Banyu Al-Fatih, Guntur Al-Ghazi, Fajar Nur-Zaman, Bayu Al-Asad, Mega Nur-Aisyah, Embun Al-Khansa, Samudra At-Thahira, dan Zahra Mentari merapatkan barisan dalam formasi pertempuran terakhir yang penuh tekad.
"Apakah kalian siap?" tanya Bara dengan suara berat yang menggema menembus desiran angin hampa. "Di balik gerbang itu adalah inti dari seluruh kekacauan ini."
"Kami tidak akan mundur selangkah pun, Bara!" jawab Laras mantap, menarik tali busurnya hingga melengkung sempurna.
"Tunjukkan pada mereka kekuatan aliansi kita!" seru Guntur, mengayunkan kapak besarnya ke udara hingga memercikkan bunga api petir.
Insiden pemicu meletus ketika pintu gerbang raksasa dari batu obsidian di hadapan mereka tiba-tiba meledak berkeping-keping. Dari balik debu tebal, ribuan mata merah menyala menatap tajam, diiringi lolongan mengerikan dari pasukan elit bayangan yang dipimpin langsung oleh panglima tertinggi dunia kegelapan. Udara mendadak membeku, dipenuhi aroma belerang dan debu kosmik yang menyesakkan dada.
"Mereka keluar menyambut kita!" teriak Fajar Nur-Zaman, membaca pola serangan musuh yang bergerak serentak.
"Banyu, Guntur, tahan barisan depan! Jangan biarkan satu pun monster menembus sisi kiri!" perintah Bara tegas.
"Diterima, ketua!" seru Banyu Al-Fatih, menghantamkan perisainya ke tanah hingga menciptakan dinding gelombang air yang membeku menjadi es pelindung.
"Bayu, Samudra, bersihkan jalur udara dari panah bayangan!" seru Zahra Mentari, melemparkan kristal pelindungnya ke atas untuk menerangi langit yang gelap gulita.
Mega Nur-Aisyah dan Embun Al-Khansa merentangkan tangan mereka, menciptakan pendar mawar penyembuh di sekeliling prajurit untuk memastikan stamina pasukan tetap prima menghadapi gelombang musuh pertama yang menerjang bagai air bah.
🪷 🪷 🪷
Pertempuran sengit langsung berkobar di dataran batu obsidian. Titik plot pertama memuncak ketika panglima musuh meluncurkan gelombang kejut energi hitam berukuran raksasa yang memecah barisan tengah aliansi ksatria. Hantaman itu membuat Bayu dan Samudra terdorong mundur belasan meter, sementara Fajar harus bersusah payah mempertahankan lingkaran sihir penangkalnya agar tidak runtuh.
"Tekanan energi mereka jauh melampaui perkiraan kita!" seru Bayu terengah-engah, menyeka darah di sudut bibirnya.
"Jangan beri mereka kesempatan untuk mengatur formasi ulang!" balas Samudra At-Thahira, memutar tongkat airnya untuk menghantam kaki monster bayangan besar yang mencoba menerobos.
Bara melesat bagai kilat keperakan, membelah kerumunan musuh dengan tebasan pedang yang memancarkan cahaya keemasan. Setiap ayunan Pedang Perak Al-Mustafa merontokkan puluhan prajurit bayangan dalam sekejap mata, membuka jalan bagi Laras untuk melepaskan panah-panah cahaya presisi ke arah titik lemah musuh.
"Laras, lindungi sisi kanan! Panglima mereka mulai bergerak ke arahmu!" panggil Fajar memperingatkan.
"Aku melihatnya, Fajar!" sahut Laras tenang, melepaskan anak panah keperakan berturut-turut yang menghantam helm panglima bayangan hingga retak.
"Kalian pikir serangan kecil itu bisa menghentikan kebangkitan malam abadi?!" suara panglima bayangan bergema berat, menggetarkan seluruh lantai gua.
Panglima itu mengayunkan belati raksasanya, memicu badai duri hitam yang meluncur deras ke arah Mega dan Embun.
"Mega, awas!" jerit Embun Al-Khansa, segera merentangkan tongkatnya untuk menciptakan perisai mawar kembar.
"Kita tahan bersama, Embun!" seru Mega Nur-Aisyah, menyalurkan seluruh sisa mananya untuk memperkuat kubah pelindung tersebut dari hantaman duri mematikan.
🪷 🪷 🪷
Di tengah desakan pertempuran, barisan ksatria terdorong semakin dalam memasuki area pelataran inti Jantung Kegelapan. Tekanan gravitasi yang aneh dan aura kehampaan menciptakan Titik Jepit yang membuat pergerakan fisik para ksatria terasa berat, seolah setiap langkah ditarik oleh ribuan tangan tak kasat mata dari dalam tanah.
Czzz!
Lantai obsidian di bawah kaki Guntur mendadak meleleh, mengeluarkan uap beracun yang membakar sepatu bot perangnya. Guntur mengerang kesakitan, namun ia tetap mengayunkan kapaknya untuk menghancurkan monster yang mencengkeram kakinya.