Angin malam berdesir di atas permukaan Danau Tujuh Misteri, mengoyak kabut tipis yang menyelimuti ribuan kelopak bunga teratai. Di tengah danau, di atas selembar daun teratai yang mengapung kokoh, berdiri seorang pemuda bernama Bara Al-Mustafa. Dengan tubuh tegak, jubah putih yang berkibar, dan sebilah pedang perak di pinggangnya, Bara menatap jauh ke cakrawala, menanti takdir besar yang siap menguji keberaniannya. Di sisinya, Laras Al-Humaira berdiri dengan tatapan tajam, menggenggam belati bercahaya yang memantulkan pendar biru dari air danau.
"Energi hitam itu semakin pekat, Bara. Singgasana kelam di dasar danau sedang bersiap melepaskan gelombang terakhirnya," ucap Laras, suaranya tenang namun menyayat kesunyian malam.
Bara mengangguk perlahan, tangannya menyentuh gagang pedang perak. "Kita tidak boleh mundur, Laras. Semua pengorbanan rekan-rekan kita membimbing kita sampai ke titik ini."
🪷 🪷 🪷
Permukaan air danau tiba-tiba bergemuruh hebat, memunculkan gelembung-gelembung hitam pekat yang berbau belerang. Dari kedalaman air, pusaran raksasa mulai terbentuk, meretakkan fondasi daun teratai raksasa tempat mereka berdiri. Bayangan-bayangan mengerikan melesat dari dalam air, mencoba menarik mereka ke dasar jurang kegelapan.
"Bara, waspadai sisi kiri!" seru Banyu Al-Fatih yang melompat dari perahu kayu bersama Guntur Al-Ghazi, menghunus tombak kembar mereka untuk menepis hantaman gelombang hitam.
"Kami lindungi jalur ini!" teriak Guntur, menghentakkan kakinya hingga tercipta perisai energi air yang membendung terjangan makhluk bayangan.
Bara melompat gesit ke udara, pedang peraknya memancarkan kilau menyilaukan yang membelah kegelapan malam. "Fajar, Bayu, bagaimana situasi formasi penyokong?" tanya Bara di tengah deru angin.
"Segel utama di sisi utara mulai bergetar, Bara! Kita butuh dorongan energi dari garis belakang!" balas Fajar Nur-Zaman sambil mengatur napasnya, mengarahkan panah angin ke pusat pusaran.
Bayu Al-Asad mengibaskan jubah hijaunya, menciptakan pusaran angin kecil untuk menstabilkan posisi rekan-rekan mereka. "Arus bawah danau berbalik melawan kita. Energi jahat dari singgasana itu merusak keseimbangan alam!"
Laras Al-Humaira memutar tubuhnya, melemparkan serangkaian jimat cahaya ke arah air yang bergejolak. "Jangan biarkan mereka menembus batas pertahanan! Mega, Embun, bersiaplah menyalurkan pemulihan!"
Mega Nur-Aisyah dan Embun Al-Khansa segera mengangkat tangan mereka, merapal doa pelindung yang berpendar lembut di antara hiruk-pikuk pertempuran. "Cahaya kehidupan, pulihkan tenaga mereka yang lelah!" seru Mega, sementara Embun menaburkan serbuk cahaya hijau ke sekeliling kelompok.
Samudra At-Thahira dan Zahra Mentari berdiri di haluan perahu paling belakang, membaca gulungan kuno untuk memetakan titik terlemah dari singgasana kelam tersebut. "Titik nadir energi mereka berada tepat di bawah pilar batu ketiga!" tandas Samudra.
"Ayo kita hancurkan bersama-sama!" sahut Zahra dengan senyum penuh keyakinan di tengah kecamuk badai.
🪷 🪷 🪷
Pusaran air mendadak membeku sesaat, lalu pecah menjadi serpihan es hitam yang menghujani area danau. Dari dalam pusaran itu, sesosok entitas berjubah bayangan raksasa muncul, memegang gada berduri yang memancarkan aura kematian. Makhluk itu adalah Penguasa Singgasana Kelam, penjaga terakhir inti kegelapan Danau Tujuh Misteri.
"Kalian manusia fana berani mengusik singgasanaku!" suara makhluk itu menggema, menggetarkan dada setiap orang yang mendengarnya.
Bara Al-Mustafa melangkah maju, berdiri di barisan paling depan. "Kekuasaanmu telah merusak kedamaian negeri ini terlalu lama. Hari ini, riwayat singgasana kelam ini akan berakhir!"
"Sombong sekali!" geram makhluk bayangan itu, mengayunkan gadanya dengan kecepatan kilat ke arah Bara.
Laras berteriak memperingatkan, "Bara, awas!"
Bara menepis hantaman tersebut dengan pedang peraknya, tetapi gelombang kejut dari benturan itu melemparkannya beberapa meter ke belakang. Kakinya mencengkeram erat permukaan daun teratai untuk menjaga keseimbangan. "Tenaga yang luar biasa," gumam Bara sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
Banyu dan Guntur segera melesat maju menggantikan posisi Bara di garis depan. "Kau tidak akan bisa menyentuhnya selama kami berdiri di sini!" teriak Banyu, menghunjamkan tombaknya tepat ke dada makhluk bayangan itu.
Makhluk itu menepis tombak Banyu dengan mudah, namun Guntur memanfaatkan celah tersebut untuk melompat dan menghantamkan palu petirnya ke bahu sang penjaga. "Rasakan ini!" bentak Guntur.
Ledakan petir memecah keheningan malam, menerangi wajah-wajah tegang di sekeliling danau. Makhluk bayangan itu meraung kesakitan, namun luka tersebut langsung tertutup oleh kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya.
"Pemulihan mereka sangat cepat!" seru Fajar dari posisinya. "Kita harus memutus sumber energi yang mengalir dari dasar danau!"
Bayu Al-Asad mengangguk cepat. "Fajar, lindungi aku. Aku akan membuka jalur angin langsung ke dasar danau agar Samudra dan Zahra bisa menanamkan segel pemurni."
"Lakukan sekarang!" balas Fajar, melepaskan rentetan panah angin untuk membersihkan rintangan di depan Bayu.
🪷 🪷 🪷