Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #116

MENYEMBUHKAN DUNIA

Bayangan berjubah perak yang mencengkeram leher Bara Al-Mustafa tiba-tiba membeku menjadi kristal ungu dan hancur berkeping-keping ditiup angin, meninggalkan sang ketua kelompok terengah-engah di atas batuan altar Danau Tujuh Misteri. Sisa-sisa energi cermin obsidian musnah tanpa sisa, meninggalkan ketenangan semu yang amat pekat di udara. Langit sore kembali bersih, namun tanah di sekitar danau dan daratan luas benua masih menghitam, ditandai oleh rekahan-rekahan beracun akibat sisa sihir kiamat yang belum sepenuhnya terurai.

"Bara! Kau baik-baik saja?!" jerit Laras Al-Humaira panik, segera berlalu menghampiri Bara dan memegang kedua pundaknya.

"Aku... aku baik-baik saja, Laras," jawab Bara Al-Mustafa parau, menyeka keringat dingin di dahinya seraya menatap hamparan tanah legam di sekeliling danau. "Tapi lihatlah keadaan daratan kita. Sisa racun cermin obsidian itu merusak inti kesuburan tanah."

Mega Nur-Aisyah melangkah maju perlahan, berlutut di atas tanah yang menghitam dan mengambil segenggam debu beracun. Ia merasakannya dengan ujung jarinya, lalu menghela napas berat. Debu tersebut terasa sangat panas dan mematikan bagi kehidupan tanaman di sekitarnya.

"Tanah ini kehilangan seluruh unsur hara alaminya," ucap Mega Nur-Aisyah dengan nada prihatin. "Jika kita tidak segera membersihkannya, dalam waktu kurang dari sebulan seluruh vegetasi di benua ini akan mati total."

"Apakah ramuan penawar yang biasa kau buat sanggup menanganinya, Mega?" tanya Samudra At-Thahira serius, memegang tongkatnya yang kini meredup tenang.

"Tidak, skala kerusakan ini terlalu besar untuk sekadar botol-botol ramuan kimia biasa," geleng Mega Nur-Aisyah pelan. "Kita membutuhkan kombinasi sihir pemurni tingkat tinggi yang menyatu langsung dengan alam."

Embun Al-Khansa dan Zahra Mentari saling bertukar pandang penuh keyakinan. Embun maju merapatkan barisan ke sisi Mega, sementara Zahra membentangkan busurnya yang kini memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat.

"Kalau begitu, biarkan kami bertiga yang mengambil alih tugas ini," ucap Embun Al-Khansa dengan senyuman lembut. "Tanah ini butuh kesejukan air, embun kehidupan, dan pancaran cahaya mentari penyubur."

"Tepat sekali, Embun," tambah Zahra Mentari seraya mengangguk mantap. "Sumpah Sembilan Bintang bukan hanya tentang menghancurkan kegelapan, melainkan juga merawat dan menyembuhkan kehidupan yang tersisa."

"Lakukan apa yang kalian yakini, Ksatria!" seru Bara Al-Mustafa memberi restu, berdiri tegak dengan pedang peraknya.

🪷 🪷 🪷

Mega Nur-Aisyah, Embun Al-Khansa, dan Zahra Mentari bergerak serentak menuju titik terdalam lembah Danau Tujuh Misteri yang mengalami kerusakan paling parah. Di tempat itu, tanah retak mengeluarkan uap belerang ungu yang menyesakkan dada, dan pepohonan purba di sekitarnya telah membatu menjadi arang hitam.

"Kita mulai dari titik pusat rekahan ini," instruksi Mega Nur-Aisyah seraya mengeluarkan kantong kain berisi biji-biji kristal pemurni dari dalam jubahnya.

Mega menaburkan biji-biji kristal tersebut secara melingkar di atas tanah yang menghitam, lalu menuangkan cairan hijau pekat dari botol khusus racikannya ke setiap celah rekahan. Cairan tersebut mendesis begitu menyentuh tanah, memperlambat penyebaran racun ungu dengan efektif.

"Seni Pemurni Alam: Embunan Kehidupan Abadi!" seru Embun Al-Khansa seraya menancapkan kedua tangannya langsung ke atas tanah legam.

Gelombang sihir es yang lembut dan sejuk terpancar dari tangan Embun, merambat cepat menyelimuti seluruh akar pohon yang membatu. Kristal-kristal es air murni mencair perlahan-lahan, meresap ke dalam pori-pori tanah dan membawa kelembapan yang sudah lama hilang dari daratan tersebut.

"Zahra, arahkan cahaya mentarimu untuk mempercepat proses fotosintesis darurat!" seru Embun kepada rekannya.

"Serahkan padaku!" jawab Zahra Mentari penuh semangat. Ia menarik tali busurnya ke udara, melepaskan anak panah cahaya yang mekar bagaikan bunga matahari raksasa di atas langit lembah.

SRAAAAASH!

Pendar cahaya keemasan yang hangat menghujani seluruh permukaan tanah lembah, berpadu sempurna dengan kelembapan air es Embun dan cairan pemurni Mega. Kombinasi tiga elemen tersebut menciptakan reaksi magis yang menakjubkan—rekahan hitam di tanah perlahan-lahan menutup, berganti warna menjadi cokelat subur yang kaya akan unsur hara.

"Lihat! Rumput-rumput hijau mulai tumbuh kembali dari celah batuan!" jerit Banyu Al-Fatih takjub dari kejauhan, menyaksikan keajaiban pemulihan yang sedang terjadi.

"Kerja bagus, Mega, Embun, Zahra!" puji Fajar Nur-Zaman seraya membuka kitab sucinya untuk mencatat fenomena alam pemulihan tersebut. "Kombinasi sihir kalian benar-benar menyelaraskan kembali ekosistem benua!"

Namun, di balik keberhasilan awal tersebut, tanah di ujung timur lembah mendadak bergetar keras. Sisa-sisa energi racun cermin obsidian berkumpul membentuk dinding kabut ungu pekat yang menolak proses pemurnian mereka!

🪷 🪷 🪷

RUMBLE-BOOOM!

Dinding kabut ungu pekat di ujung timur lembah melesat liar, menyapu bersih tunas-tunas hijau yang baru saja tumbuh dan mengubah kembali tanah subur itu menjadi arang hitam dalam sekejap. Mega, Embun, dan Zahra terdorong mundur beberapa meter akibat hantaman gelombang kejut racun tersebut.

"Sial! Sisa energi cermin itu membentuk perisai penolak sihir pemurni di sektor timur!" jerit Mega Nur-Aisyah panik, menahan batuk akibat menghirup sisa uap beracun.

"Perisai racun itu terlalu padat!" tambah Embun Al-Khansa seraya mengelap keringat di dahinya yang mulai basah. "Setiap kali kita menyucikan tanah, energi hitam itu langsung merusaknya kembali dari bawah tanah!"

"Kita tidak boleh membiarkan racun itu menyebar lebih luas ke perkampungan warga di luar lembah!" seru Zahra Mentari seraya menarik kembali busurnya, melepaskan rentetan panah cahaya ke arah dinding kabut.

Lihat selengkapnya