Fajar menyingsing di atas Danau Tujuh Misteri, menyapu sisa-sisa kelam Lembah Kelam dengan pendar jingga keemasan yang menenangkan. Di tepi dermaga kayu yang telah dipugar, dua belas ksatria berdiri berdampingan dalam balutan jubah upacara berwarna putih bersih. Suasana pagi itu terasa begitu syahdu, diringi deru angin danau yang membawa aroma wangi kelopak bunga teratai segar dari dasar telaga. Namun, di balik ketenangan tersebut, udara di sekitar dermaga diselimuti rasa duka yang amat mendalam. Di atas permukaan air, sepuluh perahu kecil berukir lambang elemen teratai terapung berdampingan, mengusung nisan kayu cendana milik para ksatria dan pejuang rakyat yang gugur dalam pertempuran besar melawan Penguasa Teratai Hitam.
"Air telaga hari ini begitu tenang, seolah ikut merasakan kedamaian jiwa mereka yang telah berpulang," bisik Embun Al-Khansa pelan, menyeka air mata di sudut matanya dengan selendang hijaunya yang kini tidak lagi bernoda darah.
Bara Al-Mustafa menoleh ke arah Embun, lalu mengangguk perlahan dengan tatapan penuh rasa hormat. "Mereka telah berjuang hingga titik darah penghabisan untuk memastikan Danau Tujuh Misteri dan masa depan lembah ini tetap ada, Embun."
"Tanpa pengorbanan mereka di garis depan maupun garis belakang, kita tidak akan pernah bisa berdiri di sini menyaksikan matahari terbit ini," tambah Laras Al-Humaira, merapikan ikatan busur kayu cendananya yang kini dihiasi pita putih berkabung.
Mega Nur-Aisyah membuka manuskrip sucinya perlahan. Lembaran-lembaran kertas suci itu terbuka sendiri, menampilkan nama-nama para pahlawan yang gugur dengan tulisan pendar keemasan lembut. "Semua nama telah tercatat abadi di dalam lembaran sejarah suci Danau Tujuh Misteri. Nama mereka tidak akan pernah pudar dimakan waktu."
"Saatnya kita memulai upacara pelepasan teratai suci," ucap Samudra At-Thahira dengan suara berat penuh wibawa, memegang tongkat airnya yang kini memancarkan pendar biru damai.
Seluruh ksatria menundukkan kepala sejenak, merapatkan tangan di dada untuk memanjatkan doa terakhir bagi rekan-rekan seperjuangan mereka yang telah bersemayam di alam abadi.
🪷 🪷 🪷
Prosesi upacara pelepasan teratai suci dimulai dengan alunan melodi harpa air yang dimainkan perlahan oleh Samudra At-Thahira dan Embun Al-Khansa. Getaran melodi tersebut menciptakan riak air lembut yang mendorong sepuluh perahu nisan kayu cendana bergerak perlahan ke tengah pusaran Danau Tujuh Misteri.
"Bara, pimpinlah penghormatan terakhir," bisik Laras Al-Humaira menatap kaptennya dengan penuh dukungan.
Bara Al-Mustafa melangkah maju ke ujung dermaga paling depan. Ia menghunus pedang peraknya, mengarahkannya ke langit pagi, lalu membiarkan pendar cahaya putih keemasan dari pedang tersebut membasahi permukaan air danau hingga menyala terang benderang.
"Wahai para ksatria dan saudara-saudara kami yang gugur..." suara Bara Al-Mustafa menggelegar lembut, memecah kesunyian pagi di atas telaga. "...tugas kalian di dunia fana telah selesai dengan sempurna. Kembalilah ke pangkuan semesta dengan damai."
Seketika setelah ucapan Bara, ribuan kelopak bunga teratai putih yang tumbuh di dasar danau mekar bersamaan secara serentak. Kelopak-kelopak bunga tersebut terbang terbawa angin lembut, menutupi perahu-perahu nisan kayu cendana hingga tampak bagaikan pulau kecil yang suci di tengah telaga.
"Lihat itu," seru Zahra Mentari kagum, menunjuk ke arah perahu-perahu yang perlahan memancarkan pendar cahaya keemasan ke udara. "Jiwa mereka menyatu dengan keindahan teratai suci."
"Itu adalah tanda bahwa alam merestui perjalanan akhir mereka," sahut Fajar Nur-Zaman tersenyum tipis, mengibaskan gulungan anginnya untuk memperhalus tiupan angin yang membawa kelopak teratai ke angkasa.
"Tidak ada kematian yang sia-sia di tempat ini," tambah Guntur Al-Ghazi, mengepalkan tangan di dadanya sebagai bentuk penghormatan militer tertinggi. "Semangat mereka akan terus mengalir di dalam aliran mana kita setiap kali kita melindungi rakyat."
"Dan kita berjanji untuk selalu menjaga kedamaian ini sampai kapan pun," sambung Bayu Al-Asad menimpali dengan suara mantap.
Sepuluh perahu nisan tersebut perlahan-lahan larut dalam pendar cahaya keemasan, tenggelam secara damai ke dalam kedalaman air jernih Danau Tujuh Misteri, menyisakan ketenangan mutlak di seluruh permukaan telaga.
🪷 🪷 🪷
Namun, di tengah khidmatnya prosesi pelepasan teratai suci, pendar cahaya keemasan yang tadinya menerangi telaga tiba-tiba berkedip redup. Air di pusat danau yang semula jernih mendadak bergolak pelan, membentuk pusaran air kecil berwarna keunguan yang memancarkan hawa dingin tidak biasa.
"Tunggu... ada yang tidak beres dengan aliran mana di pusat telaga!" seru Mega Nur-Aisyah, matanya membelalak kaget saat melihat lembaran manuskrip sucinya mendadak ternoda garis hitam tipis.
"Pusaran air keunguan itu..." desis Samudra At-Thahira, mempererat genggaman pada tongkat airnya. "Bukankah itu sisa energi dari segel ujung lembah yang sempat dibicarakan oleh roh penjaga tempo hari?"
Bara Al-Mustafa langsung menurunkan pedangnya, ketenangannya berubah menjadi kewaspadaan tinggi. "Semua ksatria, bersiap! Upacara ini telah menarik perhatian sesuatu dari kedalaman segel purba!"
"Bagaimana mungkin? Bukankah Penguasa Teratai Hitam telah musnah?!" seru Zahra Mentari cemas, meraba cermin barunya yang mulai bergetar.