Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #118

PESTA KEMENANGAN DANAU

Permukaan Danau Tujuh Misteri memantulkan pendaran cahaya keemasan dari ribuan lentera terapung yang menghiasi malam kedamaian. Air danau yang dulu sempat membeku menjadi es hitam kini kembali mengalir jernih, membiaskan bayangan langit malam yang bertabur bintang tanpa ada lagi selubung awan jelaga atau kabut racun penyesatan. Di tepian dermaga batu putih, para ksatria Aliansi Teratai Purba bersama warga dari berbagai klan Benua Barat berkumpul membentuk lingkaran besar di sekeliling unggun api unggun raksasa yang menyala hangat.

"Aku masih tidak percaya kita bisa berdiri di tempat ini tanpa mendengar deru meriam tulang musuh, Banyu," ucap Laras Al-Humaira pelan, mengenakan jubah putih bersulam benang perak dengan mahkota teratai di kepalanya yang memancarkan pendaran lembut.

Banyu Al-Fatih tersenyum lebar, meletakkan cangkir kayu berisi air segar di atas meja batu dan merangkul bahu Laras dengan akrab. "Semua berkat pengorbanan kawan-kawan kita yang telah berpulang, Laras. Tanpa mereka, kedamaian ini hanyalah angan-angan kosong."

"Benar kata Banyu," sahut Bayu Al-Asad yang baru saja mendarat perlahan dengan sisa-sisa embusan angin sepoi-sepoi di jubah birunya. "Malam ini kita tidak sedang membahas taktik perang atau strategi garis depan. Ini adalah malam kemenangan mutlak bagi seluruh Benua Barat."

Bara Al-Mustafa duduk bersila di atas batu besar menghadap langsung ke arah air danau, memegang Pedang Perak yang kini beristirahat tenang di dalam sarung kulitnya tanpa memancarkan getaran permusuhan. Di sampingnya, Embun Al-Khansa membagikan ramuan pemulihan herbal kepada para ksatria yang mengalami luka ringan.

"Bara, kau melamun terlalu lama," tegur Embun Al-Khansa lembut seraya menyerahkan semangkuk sup hangat kepada sang pemimpin aliansi. "Nikmati pesta ini. Kau telah bekerja melampaui batas kemampuan seorang manusia biasa."

Bara Al-Mustafa menerima mangkuk tersebut, menatap bayangan wajahnya sendiri di permukaan sup sebelum mengarahkan pandangannya ke tengah danau. "Aku tidak melamun, Embun. Aku hanya sedang mengenang Fajar, Guntur, Zahra, dan Tetua Samudra. Bayangan mereka masih terasa begitu nyata di setiap embusan angin malam ini."

"Mereka tidak pergi ke mana-mana, Bara," potong Laras Al-Humaira yang berjalan mendekat, menepuk pundak Bara dengan penuh kehangatan. "Mereka hidup di dalam kedamaian yang kita hirup saat ini."

Suasana malam di tepian Danau Tujuh Misteri mendadak diisi oleh alunan petikan kecapi purba yang dimainkan oleh para tetua Klan Air dari sudut dermaga. Dentingan nada yang merdu mendamaikan hati siapa saja yang mendengarnya, menghapus sisa-sisa trauma pertempuran panjang yang melelahkan.

🪷 🪷 🪷

Alunan kecapi purba kian menghanyutkan suasana hati para ksatria yang duduk melingkar di sekitar api unggun. Raja Dravos dari Klan Api, yang sebelumnya terkenal dengan temperamen panasnya, kini tampak tertawa terbahak-bahak sembari mengangkat cangkir madu fermentasi bersama para pimpinan Klan Tanah dan Klan Utara.

"Siapa sangka kita bisa duduk bersama menikmati madu manis setelah melalui neraka di bawah benteng kemarin!" seru Raja Dravos dengan suara menggelegar, mengangkat cangkirnya tinggi-tinggi. "Untuk Aliansi Teratai Purba! Dan untuk perdamaian abadi Benua Barat!"

"Untuk perdamaian!" seru ratusan ksatria yang hadir secara serentak, mengangkat cangkir mereka ke udara hingga memantulkan cahaya dari kobaran api unggun.

Bara Al-Mustafa bangkit berdiri dari batu tempat duduknya, melangkah perlahan ke tengah-tengah lapangan rumput di hadapan para raja dan ksatria. Keheningan seketika tercipta; seluruh mata tertuju pada sosok pemuda berambut perak yang memimpin mereka melewati masa-masa paling gelap dalam sejarah benua.

"Para Raja, Penguasa Klan, dan seluruh ksatria aliansi yang gagah berani," ucap Bara Al-Mustafa dengan suara tenang namun berwibawa yang meresap ke setiap hati yang mendengarkan. "Malam ini, darah dan air mata yang tumpah di atas tanah ini terbayar sudah."

"Bara! Kau adalah pahlawan sejati kami!" teriak seorang prajurit muda dari barisan depan, memancing riuh tepuk tangan dan sorak-sorak penuh kekaguman dari seluruh penjuru lapangan.

Bara mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat agar suasana kembali tenang. "Kemenangan ini bukan milikku seorang. Kemenangan ini milik Fajar yang menyusun setiap langkah taktik, milik Guntur yang membentengi barisan depan, milik Zahra yang membuka langit, dan milik Tetua Samudra yang menenangkan jiwa kita."

"Mereka adalah pahlawan abadi kita!" sahut Laras Al-Humaira dengan mata berkaca-kaca penuh haru, berdiri di samping Bara.

"Oleh karena itu," lanjut Bara Al-Mustafa, menatap luruh wajah kawan-kawannya satu per satu. "Mulai malam ini, Aliansi Teratai Purba resmi dibubarkan. Kita bukan lagi ksatria yang disatukan oleh ancaman perang dan ketakutan."

Pernyataan itu seketika memicu gelombang bisik-bisik terkejut di antara para pemimpin klan. Raja Dravos membelalakkan mata, sementara Banyu Al-Fatih menatap Bara dengan kernyitan di dahi.

"Dibubarkan, Bara?!" seru Raja Dravos bingung. "Lantas siapa yang akan menjaga benua ini jika ancaman lain muncul di masa depan?"

🪷 🪷 🪷

Ketegangan kecil sempat merayap di udara malam ketika kata pembubaran aliansi meluncur dari bibir Bara Al-Mustafa. Para penguasa klan saling bertukar pandang dengan perasaan cemas dan tidak menentu.

"Benar, Raja Dravos," sahut Bara Al-Mustafa dengan senyuman hangat yang segera meredakan ketegangan tersebut. "Kita membubarkan aliansi militer karena perang telah berakhir. Sebagai gantinya, kita mendirikan Dewan Persahabatan Tujuh Klan."

"Dewan Persahabatan?" ulang Tetua Agung pengganti Klan Air dengan nada penasaran.

"Ya," sambung Fajar Nur-Zaman—yang bayangan kenangannya tetap hidup di hati mereka—tampak seolah diwakili oleh semangat persatuan yang tertuang dalam piagam kayu ukir. "Aliansi dibentuk untuk menghancurkan musuh, tetapi Dewan dibentuk untuk membangun kembali peradaban yang hancur."

Lihat selengkapnya