Desa Karang Mulyo yang terletak di lembah barat Danau Tujuh Misteri tampak begitu asri di bawah pendaran cahaya matahari pagi yang hangat. Aroma tanah basah dan dedaunan hijau berpadu dengan harumnya bunga teratai putih yang mulai mekar di sepanjang saluran air desa, menghapus sepenuhnya jejak kelam abu vulkanik dan sisa-sisa pertempuran besar yang sempat meluluhlantakkan kawasan tersebut beberapa waktu lalu. Anak-anak desa berlarian riang di jalan setapak berbatu, menertawakan kupu-kupu warna-warni yang berterbangan di atas rumput segar.
Di hadapan balai desa yang terbuat dari kayu jati tua, Zahra Mentari berdiri tersenyum lebar sembari mengenakan jubah putih bersih berhiaskan sulaman benang emas bergambar busur panah di bagian pundaknya. Di sampingnya, Embun Al-Khansa sibuk menata keranjang-keranjang rotan berisi bibit tanaman obat dan ramuan pemurni air murni yang siap dibagikan kepada para kepala keluarga desa.
"Zahra, lihatlah hasil panen pertama di kebun samping balai desa!" seru seorang anak perempuan bernama Runi, berlari mendekat dengan membawa seikat gandum segar yang berkilau keemasan. "Tanahnya sudah tidak beracun lagi! Kami bisa menanam padi dan gandum dengan subur!"
Zahra Mentari berlutut menyamakan tinggi tubuhnya dengan Runi, menerima seikat gandum itu dengan mata berbinar-binar penuh kebahagiaan. "Ini luar biasa, Runi. Ini adalah bukti bahwa kerja keras kalian merawat tanah ini tidak pernah sia-sia."
"Semua ini berkat bantuanmu dan para ksatria aliansi yang membawa benih kehidupan kembali ke desa kami," sahut Kepala Desa Karang Mulyo, Pak Wirya, yang berjalan mendekat dengan tongkat kayu di tangannya seraya tersenyum ramah. "Desa kami yang tadinya hampir mati kini hidup kembali."
Embun Al-Khansa menghentikan aktivitasnya sejenak, menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan sembari menatap sekeliling desa yang dipenuhi tawa warga. "Melihat senyuman mereka membuat segala keletihan kita terbayar lunas, Zahra."
"Benar, Embun," jawab Zahra Mentari lembut, menatap busur kayu baru yang tersampir di punggungnya. Busur itu tidak lagi memancarkan api surya yang mematikan, melainkan pendaran cahaya hijau muda yang menyejukkan. "Tugas kita bukanlah lagi mengangkat senjata untuk berperang, melainkan merajut kembali kehidupan yang sempat terputus."
Namun, di tengah suasana penuh kegembiraan itu, angin pagi yang berhembus dari arah perbukitan timur mendadak membawa hawa dingin yang tidak biasa, membuat bulu kuduk Zahra meremang seketika.
🪷 🪷 🪷
Hawa dingin yang melintas sejenak itu langsung ditepis oleh suara tawa riang para warga yang kembali berdengung di telinga Zahra Mentari. Ia menggelengkan kepala pelan, menganggapnya sebagai sisa-sisa angin pegunungan biasa. Bersama Embun Al-Khansa dan Pak Wirya, Zahra berjalan menyusuri jalan utama desa untuk membagikan bibit tanaman obat kepada para petani yang telah berkumpul di halaman lumbung padi.
"Bibit-bibit ini khusus kami bawa dari kebun raya Aliansi Teratai Purba," jelas Zahra Mentari kepada para petani yang duduk melingkar di atas rumput. "Jika ditanam di dekat sumber air jernih, tanaman ini akan menghasilkan daun penawar racun alami yang dapat melindungi keluarga kalian dari penyakit musim dingin."
"Terima kasih banyak, Nona Zahra," ucap seorang petani paruh baya berambut kelabu dengan suara bergetar haru. "Dulu kami mengira desa ini akan terkutuk selamanya menjadi tanah mati. Kehadiranmu benar-benar membawa fajar baru bagi kami."
"Jangan panggil aku Nona, Pak Tua. Panggil saja Zahra," balas Zahra Mentari tersenyum hangat, menyerahkan kantung bibit terakhir kepada petani tersebut.
"Zahra, perhatikan ini!" panggil Embun Al-Khansa dari arah sumur desa, menunjukkan air sumur yang kini jernih berkilau kebiruan. "Sihir pemurnian yang kau tebarkan minggu lalu telah meresap sempurna ke dalam seluruh cadangan air bawah tanah desa ini."
"Puji alam semesta," ucap Zahra lega, menghampiri sumur bersama Pak Wirya. "Dengan begini, warga tidak perlu lagi berjalan jauh ke kaki gunung hanya untuk mencari air minum yang aman."
Pak Wirya mengangguk khidmat, namun kerutan di keningnya tiba-tiba mengisyaratkan suatu kekhawatiran yang tersimpan. "Meskipun Desa Karang Mulyo telah pulih sepenuhnya, Zahra... aku mendengar kabar dari para pedagang keliling yang datang dari perbatasan utara."
Zahra Mentari menghentikan langkahnya, menoleh menatap Pak Wirya dengan tatapan serius. "Kabar apa yang kau dengar dari utara, Pak Wirya?"
"Mereka bilang, hutan kabut di perbatasan utara mendadak tertutup tirai hitam pekat sejak tiga malam yang lalu," bisik Pak Wirya cemas. "Tidak ada satupun pedagang yang berani melewati jalur itu karena mereka mendengar suara lolongan aneh dan bayangan hitam yang berkelebat di balik pepohonan."
🪷 🪷 🪷
Informasi yang disampaikan oleh Pak Wirya seketika mengubah suasana hati Zahra Mentari dan Embun Al-Khansa. Senyuman ceria di wajah mereka memudar, digantikan oleh kewaspadaan seorang ksatria yang terlatih menghadapi bahaya.
"Tirai hitam di hutan perbatasan utara?" ulang Embun Al-Khansa mengerutkan kening, meletakkan keranjang ramuannya ke atas tanah. "Bukankah wilayah itu sudah dibersihkan sepenuhnya oleh pasukan Bara dan Laras setelah pertempuran besar di danau?"
"Seharusnya memang begitu, Embun," sahut Zahra Mentari dengan suara pelan namun penuh selidik. "Kecuali jika ada sisa-sisa kekuatan kegelapan yang berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di dalam lebatnya hutan kabut."
"Apa yang harus kami lakukan, Zahra?" tanya Pak Wirya dengan cemas, mencengkeram erat tongkat kayunya. "Apakah kutukan itu akan kembali merembes ke desa kami?"
"Jangan takut, Pak Wirya," jawab Zahra Mentari mantap, menyentuh pundak sang kepala desa untuk menenangkannya. "Kami tidak akan membiarkan kegelapan merusak kedamaian yang baru saja kalian miliki. Embun dan aku akan pergi menyelidiki hutan perbatasan utara hari ini juga."