Langit pagi di atas pelataran Akademi Ksatria Sembilan Bintang membentang luas tanpa noda, memancarkan bias cahaya keemasan yang menghangatkan halaman latihan yang luas. Di sekeliling lapangan batu pualam putih, puluhan anak muda berusia belasan tahun berbaris rapi dengan penuh semangat, mengenakan jubah latihan berwarna abu-abu terang. Setelah perjalanan panjang melintasi dimensi dan menaklukkan berbagai ancaman kuno, Bara Al-Mustafa dan Laras Al-Humaira memutuskan untuk menetap sementara waktu di akademi pusat untuk mewariskan ilmu dan pengalaman mereka kepada generasi penerus.
"Perhatikan posisi kuda-kuda kalian!" seru Banyu Al-Fatih dari sisi lapangan, mengawasi para murid baru yang memegang pedang kayu latihan. "Kekuatan seorang ksatria tidak terletak pada seberapa berat tebasan yang kalian lepaskan, melainkan pada seberapa kokoh pondasi kaki kalian di atas tanah!"
"Banyu benar," sambung Samudra At-Thahira seraya berjalan pelan di antara barisan murid, memegang tongkat kayu pengarah. "Jika tumpuan kalian goyah, maka serangan musuh sekecil apapun akan menjatuhkan kalian dalam sekejap."
Di tengah lapangan utama, Bara Al-Mustafa berdiri tegap dengan pedang latihan bersarung perak di pinggangnya. Matanya menyapu barisan para murid muda dengan tatapan teduh namun penuh wibawa. Di sampingnya, Laras Al-Humaira merapikan rantai latihan peraknya yang bergemerincing lembut tertiup angin pagi.
"Selamat pagi, Ksatria Muda!" sapa Bara Al-Mustafa dengan suara tegas yang bergemerema memenuhi pelataran akademi. "Hari ini kita tidak akan sekadar berlatih menebas pedang atau merapalkan mantera sihir. Kita akan belajar memahami makna terdalam dari sebuah sumpah dan ikatan jiwa."
Seorang murid laki-laki berambut ikal di barisan depan mengangkat tangan kanannya dengan ragu-ragu. "Tuan Bara, apakah benar bahwa Sumpah Sembilan Bintang dulunya mampu meruntuhkan dimensi kegelapan yang paling pekat?"
Bara tersenyum tipis mendengar pertanyaan penuh kagum itu, lalu melirik sekilas ke arah Laras sebelum menjawab. "Sumpah itu bukan sekadar kata-kata magis, Nak. Itu adalah janji hidup untuk saling menjaga di saat-saat paling gelap."
🪷 🪷 🪷
Materi latihan hari itu dimulai dengan pembagian kelompok kecil di bawah bimbingan langsung para anggota senior Sumpah Sembilan Bintang. Fajar Nur-Zaman membuka kitab sucinya di hadapan sekelompok murid yang mencatat setiap teori taktik pertempuran, sementara Mega Nur-Aisyah dan Embun Al-Khansa membimbing para murid jalur pemurni di taman botani akademi.
"Perhatikan cara mencampur ekstrak daun zamrud dan air embun pagi ini," jelas Mega Nur-Aisyah sabar, meneteskan cairan hijau jernih ke dalam tabung reaksi kaca kecil. "Takaran yang tepat akan menyelamatkan nyawa di medan perang, sedangkan kesalahan satu mililiter saja bisa berakibat fatal."
"Apakah cairan ini bisa menetralkan racun dari dimensi cermin obsidian, Kak Mega?" tanya seorang murid perempuan berambut kepang penasaran.
"Tentu saja, jika diracik dengan niat murni untuk melindungi sesama," jawab Embun Al-Khansa tersenyum lembut, membantu menata botol-botol ramuan di rak kayu.
Sementara itu, di lapangan utama, Laras Al-Humaira mengambil posisi di hadapan para murid tingkat lanjut yang bersiap mempelajari dasar-dasar Seni Rantai Jiwa. Laras melepas sarung tangan peraknya, memperlihatkan telapak tangannya yang kini mulus tanpa bekas luka masa lalu.
"Rantai bukan sekadar alat untuk mengikat musuh," terang Laras Al-Humaira tegas seraya melemparkan rantai peraknya berputar di udara membentuk lingkaran pelindung yang berkilau. "Rantai adalah perpanjangan dari rasa percaya kalian kepada rekan satu tim. Jika kalian ragu pada sahabat di sebelah kalian, rantai ini akan terputus dengan sendirinya."
Seorang murid perempuan maju ke depan, mencoba mengayunkan rantai latihannya meniru gerakan Laras. Namun, kurangnya sinkronisasi membuat rantai tersebut melilit tubuhnya sendiri hingga ia hampir terjatuh ke tanah.
"Jangan terburu-buru menggunakan tenaga fisik," bimbing Laras Al-Humaira sabar, merangkul pundak murid tersebut dan menuntun pergelangan tangannya. "Rasakan alirannya dari dalam dada, bukan dari otot tangan."
Bara Al-Mustafa mengawasi dari dekat dengan senyuman bangga di wajahnya. Ia melihat betapa telatennya Laras membimbing generasi muda tersebut, menunjukkan dedikasi yang sama besarnya seperti saat mereka bertarung bersama di medan perang.
"Mereka memiliki potensi yang luar biasa, Laras," bisik Bara saat Laras berjalan melewatinya setelah sesi latihan singkat.
"Potensi saja tidak cukup, Bara," balas Laras tersenyum tipis. "Mereka butuh bimbingan dan teladan yang benar agar tidak tersesat oleh ambisi kekuasaan."
🪷 🪷 🪷
Sesi latihan siang hari berjalan dengan intensitas yang semakin meningkat. Zahra Mentari dan Bayu Al-Asad mengambil alih lapangan uji ketangkasan jarak jauh, melatih para murid dalam membaca arah angin dan membidik target bergerak di atas tebing bukit akademi.
"Angin di lembah ini selalu berputar arah menjelang tengah hari!" seru Bayu Al-Asad memberikan instruksi kepada para pemanah muda. "Kalian harus memperhitungkan kecepatan embusan sebelum melepaskan anak panah!"
Zahra Mentari menarik tali busurnya, melepaskan satu anak panah latihan yang meluncur mulus tepat menembus lingkaran target kayu di kejauhan. "Lihat? Fokus dan ketenangan adalah kunci utama sebelum busur ditarik."
Namun, di tengah kesibukan latihan para murid, atmosfer di sekitar pelataran akademi mendadak berubah drastis. Langit cerah siang itu tiba-tiba bergeser menjadi kelabu pekat, dan embusan angin dingin yang membawa aroma belerang berhembus kencang melintasi halaman akademi.
"Ada apa ini? Mengapa cuaca berubah begitu cepat?" tanya Banyu Al-Fatih cemas, menghentikan latihan pedang para murid dan meraba gagang perisainya.
"Tekanan sihir asing..." ucap Samudra At-Thahira tajam, menancapkan tongkatnya ke tanah pualam yang mendadak bergetar halus. "Energi ini... mirip dengan sisa jejak cermin obsidian yang kita musnahkan di Danau Tujuh Misteri!"
Para murid akademi mulai panik berhamburan, berlindung di balik pilar-pilar batu bangunan utama. Bara Al-Mustafa dan Laras Al-Humaira segera berlari ke tengah lapangan, berdiri di garda terdepan melindungi para murid muda.