Angin malam berdesir lembut di atas permukaan Danau Tujuh Misteri, mengoyak kabut tipis yang menyelimuti ribuan kelopak bunga teratai. Di tengah danau, di atas selembar daun teratai yang mengapung kokoh, berdiri seorang pemuda bernama Bara Al-Mustafa. Dengan tubuh tegak, jubah putih yang berkibar, dan sebilah pedang perak di pinggangnya, Bara menatap jauh ke cakrawala, menanti takdir besar yang siap menguji keberaniannya.
Bara tidak berjuang sendirian. Di sisinya, hadir Laras Al-Humaira, seorang perempuan berjiwa tangguh yang menjadi pelita sekaligus penyeimbang dalam setiap pertempuran dan keputusan sulit yang mereka hadapi. Perjalanan mereka mengarungi marabahaya didampingi oleh rekan-rekan setia dengan keahlian luar biasa: Banyu Al-Fatih dan Guntur Al-Ghazi, dua ksatria pelindung yang siap menerjang garis depan pertempuran; Fajar Nur-Zaman dan Bayu Al-Asad, penyusun strategi tangkas yang menguasai pergerakan angin dan taktik peperangan; Mega Nur-Aisyah serta Embun Al-Khansa, penyembuh dan penjaga kedamaian yang selalu memulihkan semangat di kala pertempuran meredup; Samudra At-Thahira dan Zahra Mentari, sosok bijak yang memberikan petunjuk serta keceriaan di tengah kelamnya misteri Danau Tujuh Misteri.
Setelah badai pasukan kelelawar api dari Gunung Berapi Abadi berhasil dipukul mundur, suasana di pulau pusat Danau Tujuh Misteri berangsur-angsur tenang. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama ketika seekor burung rajawali berbulu perak keemasan melesat menembus cakrawala malam, membawa sebuah gulungan surat bersegel lilin merah tua.
"Perhatikan rajawali itu! Ia terbang membawa atribut kerajaan dari negeri seberang lautan," seru Fajar Nur-Zaman sambil menunjuk ke langit malam yang mulai jernih.
"Surat bersegel merah tua... Atribut itu hanya digunakan untuk urusan diplomasi tingkat tinggi antarbenua," tambah Bayu Al-Asad dengan mata menyipit tajam, mengamati jalur terbang sang rajawali.
Bara Al-Mustafa melangkah maju menyambut burung tersebut, membiarkan rajawali perak itu hinggap dengan tenang di lengan jubahnya. Ia melepaskan gulungan surat dari kaki sang burung, sementara Laras Al-Humaira mendekat dengan rasa penasaran yang besar.
"Buka surat itu, Bara. Kita harus tahu apa lagi yang dikehendaki dunia luar setelah dewan aliansi kita terbentuk," ujar Laras Al-Humaira serius, menatap segel lilin berukir lambang mahkota asing pada gulungan tersebut.
🪷 🪷 🪷
Bara Al-Mustafa mematahkan segel lilin merah tua pada gulungan perkamen tersebut dan membukanya perlahan di bawah pendar cahaya bunga teratai abadi. Seluruh anggota aliansi—Banyu, Guntur, Fajar, Bayu, Mega, Embun, Samudra, dan Zahra—langsung merapat membentuk lingkaran, menanti isi surat dibacakan.
"Apa isi suratnya, Bara? Dari kerajaan mana utusan bersayap perak itu datang?" tanya Guntur Al-Ghazi tidak sabar, melipat tangan di dadanya.
Bara membaca baris demi baris tulisan tangan bertinta emas itu dengan suara yang tenang namun tegas. "Surat ini datang dari Permaisuri Ayana dari Negeri Samudera Seberang. Mereka mengundang Dewan Aliansi Nusantara untuk mengirimkan perwakilan dalam Konferensi Agung Antarbenua."
"Konferensi Agung Antarbenua? Bukankah negeri seberang itu telah menutup diri dari dunia luar selama ribuan tahun?" seru Fajar Nur-Zaman kaget, menatap Bayu Al-Asad yang sama terperanjatnya.
"Benar, Fajar. Konon, negeri mereka menyimpan pecahan kedua dari artefak purba yang berkaitan erat dengan asal-usul pedang perak ini," jelas Samudra At-Thahira bijak, mengelus janggut putihnya sambil merenung dalam.
Laras Al-Humaira mengangguk pelan, memahami implikasi besar dari undangan tersebut. "Ini bukan sekadar kunjungan kehormatan diplomasi, melainkan panggilan takdir yang menuntut kita untuk menyatukan kembali kepingan kekuatan dunia yang terpecah."
"Kalau begitu, kita harus segera berangkat ke negeri seberang!" seru Banyu Al-Fatih mantap, memegang erat hulu trisulanya. "Bagaimana pun, ancaman dari bayangan bertopeng emas tempo hari pasti memiliki hubungan dengan artefak di negeri tersebut."
Mega Nur-Aisyah dan Embun Al-Khansa saling bertukar pandang sejenak, lalu menyatakan kesiapannya. "Kami akan menyiapkan perbekalan medis perjalanan laut yang cukup panjang, mengingat pelayaran ke sana melewati lautan badai abadi," kata Embun lembut.
Zahra Mentari tersenyum riang mencairkan ketegangan. "Wah, pelayaran antarbenua! Ini pasti akan menjadi petualangan yang sangat seru sekaligus menantang!"
🪷 🪷 🪷
Meskipun sebagian besar anggota aliansi menyambut undangan tersebut dengan antusiasme tinggi, Fajar Nur-Zaman dan Bayu Al-Asad mengajukan catatan peringatan yang sangat serius mengenai risiko geopolitik dari pelayaran jauh ini.
"Undangan ini terdengar sangat mulia, tetapi kita harus tetap waspada terhadap kemungkinan jebakan politik," ujar Fajar Nur-Zaman mengingatkan sambil membentangkan peta maritim dunia di atas meja altar batu.
"Fajar benar. Negeri Samudera Seberang dikenal sangat tertutup dan memiliki hukum adat pelayaran yang mematikan bagi orang asing yang datang tanpa izin resmi," timpal Bayu Al-Asad menimpali dengan nada penuh perhitungan taktis.
Bara Al-Mustafa mengangguk setuju, menghargai kehati-hatian rekan strateginya. "Kita tidak boleh ceroboh. Undangan dari Permaisuri Ayana bisa jadi merupakan ujian tulus, atau justru siasat tersembunyi dari faksi musuh yang ingin memancing kita keluar dari wilayah teratai."
"Lalu, apa langkah taktis yang harus kita ambil, Bara?" tanya Laras Al-Humaira, menatap lekat ke dalam mata Bara dengan pandangan penuh dukungan.