Lentera Teratai Tujuh Misteri

Amrullah Ibrahim
Chapter #126

KEHIDUPAN DAMAI DI TEPI DANAU

Matahari pagi menembus celah-celah dedaunan pohon purba di tepi Danau Tujuh Misteri, memancarkan bias cahaya keemasan yang menghangatkan permukaan air yang tenang bagaikan cermin raksasa. Setelah pertempuran panjang melawan sisa-sisa bayangan dimensi dan menuntaskan tugas mengajarkan generasi muda di akademi, Bara Al-Mustafa dan Laras Al-Humaira beserta rekan-rekan mereka sepakat untuk mengambil waktu beristirahat total. Tidak ada lagi desing pedang, mantera sihir darurat, atau ancaman makhluk kegelapan dari dimensi seberang yang mengusik ketenangan hari-hari mereka.

"Udara pagi ini benar-benar menyegarkan," ucap Embun Al-Khansa riang sambil melangkah ringan di atas rumput berembun, membawa keranjang berisi buah-buahan segar yang baru dipetik dari kebun belakang pondok mereka.

"Kau benar, Embun," sahut Mega Nur-Aisyah yang duduk di beranda kayu, sibuk menyortir berbagai jenis daun herbal kering untuk diracik menjadi teh herbal penenang. "Setelah berbulan-bulan dikelilingi bau belerang dan debu pertempuran, aroma tanah basah dan bunga liar ini seperti surga kecil bagi kita."

Bara Al-Mustafa keluar dari dalam pondok mengenakan jubah santai berwarna putih pualam, membawa dua cangkir teh hangat yang baru diseduh. Ia tersenyum menatap pemandangan damai di hadapannya, tempat di mana kedelapan sahabat setianya menikmati pagi tanpa beban.

"Ini teh herbal buatan Mega, minumlah selagi hangat," ujar Bara Al-Mustafa seraya menyerahkan salah satu cangkir kepada Laras Al-Humaira yang sedang merapikan rantai peraknya di kursi bambu.

"Terima kasih, Bara," balas Laras Al-Humaira tersenyum manis, menerima cangkir tersebut dan menyesapnya pelan. "Rasanya sangat menenangkan. Kapan terakhir kali kita bisa duduk santai seperti ini tanpa memikirkan portal dimensi yang terbuka?"

"Entahlah, Laras. Rasanya sudah sangat lama sekali," jawab Bara Al-Mustafa seraya duduk di sebelah Laras, menikmati kesejukan angin pagi Danau Tujuh Misteri.

Di sudut halaman, Banyu Al-Fatih dan Samudra At-Thahira tampak sedang memperbaiki pagar kayu pondok yang sedikit longgar, sementara Bayu Al-Asad dan Zahra Mentari menyiapkan perlengkapan memancing di dermaga kecil tepi danau.

🪷 🪷 🪷

Suasana pagi yang tenang perlahan berganti menjadi kehangatan aktivitas sehari-hari yang penuh keakraban. Di dermaga kayu, Zahra Mentari melemparkan umpan pancing kecil ke permukaan air danau yang jernih, disusul oleh Bayu Al-Asad yang meniupkan angin lembut untuk membantu meluruskan senar pancing agar tidak kusut.

"Fokus, Zahra. Ikan di Danau Tujuh Misteri ini terkenal sangat lincah karena terbiasa berenang di air yang mengandung energi magis," canda Bayu Al-Asad melirik ke arah rekannya.

"Tenang saja, Bayu. Insting memanahku juga bisa digunakan untuk membaca gerakan ikan di dalam air," balas Zahra Mentari tertawa kecil, menikmati detik-detik santai tanpa ketegangan perang.

Tidak jauh dari dermaga, Banyu Al-Fatih dan Samudra At-Thahira menyelesaikan perbaikan pagar kayu dengan ketukan palu yang berirama teratur. Banyu mengangkat papan kayu terakhir, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju.

"Pekerjaan fisik yang ringan seperti ini justru membuat otot kita tetap lentur setelah lama tidak bertempur," kata Banyu Al-Fatih tersenyum lebar kepada Samudra.

"Kau benar, Banyu. Terlalu lama diam di medan sihir membuat tubuh kita merindukan kesederhanaan seperti ini," timpal Samudra At-Thahira seraya meletakkan palunya ke dalam kotak perkakas.

Sementara itu, di dapur terbuka pondok, Mega Nur-Aisyah dan Embun Al-Khansa sedang meracik bahan-bahan makan siang bersama Fajar Nur-Zaman yang membantu memotong sayuran segar. Fajar membuka kitab sucinya sesekali untuk mencatat resep masakan tradisional baru yang diajarkan oleh Embun.

"Catatanku biasanya penuh dengan strategi perang dan mantera pertahanan, tapi resep sup herbal ini sepertinya layak mendapat bab khusus di halaman depan," puji Fajar Nur-Zaman sambil tertawa pelan.

"Tentu saja, Fajar! Makanan yang dimasak dengan ketulusan hati jauh lebih bernilai daripada mantera sihir terkuat manapun," jawab Embun Al-Khansa riang, mengaduk panci sup yang mengeluarkan aroma harum ke seluruh ruangan.

Kedekatan dan keharmonisan di antara kesembilan sahabat itu membuktikan bahwa ikatan yang mereka tempa di medan pertempuran kini telah bertransformasi menjadi keluarga sejati yang saling melengkapi dalam damai.

🪷 🪷 🪷

Menjelang siang hari, matahari naik tepat di atas kepala, memancarkan kehangatan yang menyenangkan ke seluruh sudut lembah Danau Tujuh Misteri. Kesembilan ksatria berkumpul di bawah naungan pohon purba yang rindang, menikmati hidangan makan siang bersama di atas tikar jerami lebar yang dihamparkan di atas rumput.

"Sup buatan Mega dan Embun ini benar-benar lezat!" puji Banyu Al-Fatih semangkuk penuh sambil menikmati makanannya dengan lahap.

"Pelan-pelan, Banyu, makanannya tidak akan lari ke mana-mana," gurau Zahra Mentari disambut gelak tawa dari seluruh rekan yang hadir.

Bara Al-Mustafa dan Laras Al-Humaira duduk berdampingan, menikmati suasana kekeluargaan yang begitu hangat. Namun di balik senyuman tenang di wajah Bara, ada secuil pikiran yang melintas tentang perjalanan panjang yang telah mereka lalui hingga bisa berada di titik ini.

"Pernahkah kalian berpikir... bagaimana jika waktu damai ini berlangsung selamanya?" tanya Bara Al-Mustafa pelan, memecah gelak tawa kecil di antara mereka.

Lihat selengkapnya