Lestari:375 Menit

Arif Sufyan
Chapter #2

Jembatan Ambruk

Angin siang menghantam wajah Silvi yang gelisah. Di atas motor bebek Arifin yang melaju kesetanan membelah jalanan dusun yang berbatu, Silvi memeluk erat tubuh Lestari di jok belakang. Sementara itu, potongan kaki anaknya yang terbungkus plastik diletakkan Arifin di sasis bagian tengah motor, tepat di bawah jepitan barang.


Silvi menunduk, menatap wajah Lestari yang matanya terpejam. Napas anak itu pendek-pendek. Air mata Silvi menetes, bercampur dengan sisa lumpur sawah di pipinya. Di tengah raungan mesin motor yang dipaksa berjalan maksimal, pikiran Silvi terlempar ke belakang. Ke beberapa jam lalu, sebelum petaka ini merenggut separuh jiwanya.


Hari ini seharusnya menjadi hari yang biasa. Sebagai janda muda usia 29 tahun yang ditinggal mati suami setahun lalu, Silvi tidak punya pilihan selain membawa Lestari ke sawah tempatnya mengais rezeki sebagai buruh tani harian. Di dusun itu, dia tidak memiliki kerabat kandung, sedangkan untuk menitipkan Lestari kepada tetangga, dia sungkan. 


Sambil menyiangi gulma di galengan sawah yang licin di bawah terik matahari, sesekali Silvi menoleh ke arah Lestari yang asyik bermain keong sawah di dekat gubuk. Sesekali, untuk mengusir sepi dan menanamkan ketenangan di hati putrinya, Silvi melantunkan bait-bait salawat sebagai kebiasaan manis mereka.


"Lestari ... yuk, kita selawatan," ajak Silvi hangat saat itu.


Lestari menoleh dengan mata bulatnya yang berbinar, lalu dengan suara cadelnya yang menggemaskan mulai mengikuti sang ibu melantunkan Salawat Syifa.


"Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin, thibbil quluubi wa dawaa-ihaaa ....

Lihat selengkapnya