Lestari:375 Menit

Arif Sufyan
Chapter #3

Menantang Arus

Geroak lebar jembatan yang runtuh itu menganga layaknya rahang monster yang siap menelan harapan. Puing-puing beton abu-abu telah berjatuhan dari dinding tebing yang terkikis, meninggalkan besi-besi ulir yang bengkok dan berkarat, mencuat tak beraturan. Setelah puluhan tahun, minim perawatan, jembatan itu akhirnya pensiun dari tugasnya.

Di bawahnya, lima belas meter ke dalam palung tebing, arus sungai sedang mengamuk. Airnya yang lebih pekat dari susu bergolak hebat, menghantam tebing berbatu-batu, menciptakan buih dan suara gemuruh.

Arifin mencengkeram stang motor bebeknya erat-erat. Mesin motornya masih berderu, mengeluarkan asap tipis dari knalpot yang kepanasan setelah dipaksa berlari dua puluh kilometer tanpa jeda. Bau sangit karet ban dan oli terbakar menguar di udara yang lembap oleh uap air sungai.

"Jembatannya putus, Fin! Ya Allah ... Gusti ...." Ratapan Silvi kembali pecah di antara gemuruh air. Perempuan itu merosot dari jok belakang, berlutut di atas tanah berkerikil dengan kedua tangan masih mendekap erat tubuh Lestari yang lunglai. Kepala bocah lima tahun itu terkulai di ceruk leher ibunya, bergoyang lemah mengikuti irama isak tangis Silvi.

Arifin mematikan kunci kontak, membuat sunyi mencekam seketika, menyisakan air sungai yang berdebam-debam. Pandangannya langsung tertuju pada sasis tengah motor. Di sana, plastik bening yang membungkus potongan kaki kanan Lestari tampak berembun dari dalam. Titik-titik air liur es merembes di permukaannya, menyamarkan rupa daging dan tulang yang memutih di bagian pangkalnya. Darah yang tersisa di dalam plastik telah mengental menjadi merah kehitaman.

"Mbak Silvi, berdiri! Jangan nangis dulu, tenagamu habis nanti!" Arifin setengah berseru sambil menyambar bungkusan plastik di sasis motor, lalu menyelipkannya dengan hati-hati ke dalam tas ransel lusuh yang menggantung di dadanya. Dia tidak ingin Silvi terus-menerus menatap potongan kaki itu dan kehilangan akal sehatnya.

Dari arah seberang jembatan yang terputus, beberapa orang lelaki paruh baya tampak berlari mendekati tepian tebing. Mereka adalah warga Desa seberang yang sedang memantau kondisi jembatan yang ambruk akibat banjir kiriman semalam.

"Heii! Ada apa di sana?!" teriak salah satu warga seberang, tangannya dicorongkan ke depan mulut agar suaranya mampu menembus gemuruh jeram.

"Darurat, Pak! Anak kecil kecelakaan, kakinya putus! Harus ke Rumah Sakit Kabupaten sekarang!" Arifin balas berteriak sekuat tenaga, hingga urat-urat di lehernya menegang tegang. Dia menunjuk ke arah Lestari yang wajahnya kini sewarna kapur tulis, dengan bercak lumpur sawah yang mulai mengering dan mengelupas di dahinya.

Ketiga warga di seberang saling berpandangan. Salah satu dari mereka, seorang lelaki berbadan gempal langsung melambai-lambaikan tangannya dengan panik.

"Tunggu di situ! Jangan nekat berenang! Arusnya lagi gila! Kami carikan rakit atau perahu ketek di hilir!"

Arifin mengangguk. Segila apa pun dia, sungai di depannya jelas tidak bisa diseberangi dengan berenang. Dia melirik jam digital murah di pergelangan tangannya. Pukul 13.40 WIB. Udara siang terasa gerah dan menekan, seolah-olah langit pun ikut bersekongkol menahan langkah mereka. Setiap detik yang berdetak di atas layar LCD hitam itu terasa seperti tikaman di dada.

Lihat selengkapnya