Deru mesin minibus pinjaman itu mengerang tinggi saat Arifin mengoper gigi empat di lintasan aspal jalur lingkar luar. Jarum spedometer bergoyang di angka sembilan puluh kilometer per jam. Angka yang gila untuk jalanan kabupaten yang bergelombang dan penuh semen perbaikan tambal sulam. Pohon-pohon randu dan hamparan ladang jagung di kanan-kiri jalan tampak seperti bayangan hijau yang berkelebat buram, tersamar oleh kecepatan yang dipaksakan.
Di dalam kabin yang sejuk oleh sapuan AC, aroma darah justru menguar kian pekat, berebut ruang dengan harum parfum rasa jeruk yang menggantung di spion tengah.
"Mbak Silvi, cek perbannya. Masih rembes banyak?" suara Arifin terdengar serak. Kedua tangannya mencengkeram setir kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, menetes ke kerah kaos robeknya yang mulai mengering dan kaku oleh noda darah.
Di kursi samping, Silvi tidak menyahut. Lidahnya kelu. Dia hanya menggeleng lemah sambil terus menekan robekan kain di paha Lestari yang kini sudah sewarna hati ayam—basah kuyup dan berlendir oleh cairan tubuh. Wajah bocah lima tahun itu kian kehilangan rona hidup. Kulit pipinya yang biasanya merona kemerahan kini berubah kelabu, sedingin porselen. Hanya denyut halus di lehernya dan bisik rintihan yang menandakan jiwa kecil itu masih bertahan di balik raga yang separuh lumpuh.
Ransel hitam di dada Arifin terasa berat dan dingin. Di dalamnya, potongan kaki kanan Lestari yang terbungkus plastik kian mencair embunnya. Arifin tahu, setiap menit yang lewat di dasbor mobil adalah hantaman godam pada peluang kesembuhan bocah itu. Jarum jam digital menunjuk pukul 14.35 WIB. Sudah satu setengah jam sejak petaka di sawah terjadi. Periode emas mereka sedang terkikis di atas jalanan yang panas.
Mobil melesat melewati tugu perbatasan kota yang megah bercat kuning gading. Arifin mulai memasuki kawasan urban. Jalanan yang tadinya lengang kini berubah padat oleh deretan ruko, angkutan kota yang berhenti sembarangan, dan sepeda motor yang saling mendahului. Arifin terpaksa mempermainkan pedal rem dan kopling secara kasar, membuat mobil beberapa kali tersentak maju.
"Sedikit lagi, Lestari ... bertahan, Nak. Rumah sakit sudah dekat," bisik Silvi lirih. Suaranya pecah, nyaris tenggelam oleh suara klakson kendaraan di luar.