Arifin melangkah keluar dari kabin mobil dengan kedua lutut yang terasa goyah seperti pelatuk senapan tua. Panas aspal kota langsung memanggang telapak kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit yang tipis dan kekecilan.
Dengan tubuh gemetar dan pakaian yang kotor oleh sisa lumpur sawah yang mengering, dia berdiri tegak di hadapan polisi berwajah garang itu.
"Selamat siang, Pak ...." Suara Arifin tercekat di tenggorokan, nyaris kalah oleh deru knalpot angkutan kota yang melintas di samping mereka.
Polisi bernama Agung—terbaca di nametag seragamnya—itu tidak memedulikan rona pucat di wajah Arifin. Tangan kanannya yang mengenakan sarung tangan kulit hitam sudah bersiap mencabut pulpen dari saku rompi. Di kepalanya, skenario tilang dengan denda maksimal sudah tersusun rapi. Pelanggaran jalur satu arah ditambah parkir sembarangan di bawah rambu larangan—ini adalah sasaran empuk untuk menutup setoran siang.
"Selamat siang!" balasnya.
"Tolong kami, Pak." Arifin coba segera menjelaskan, tetapi langsung dipotong.
"Jangan banyak alasan kamu! Kamu tahu ini jam padat? Sudah melanggar marka, malah berhenti di tempat terlarang! Mana surat-surat?!" hardik Agung, suaranya sengaja dikeraskan agar didengar oleh pengendara lain yang melintas. Matanya menatap tajam, mengintimidasi pemuda dusun di depannya.
"Surat mobilnya tidak ada pada saya, Pak. Ini mobil pinjaman—"
"Nah, kan! Sudah duga saya! Mobil curian ya kamu?!" Agung memangkas alasan Arifin dengan cepat, satu langkah kakinya maju ke depan, membuat jarak di antara mereka begitu dekat hingga aroma rokok dari napas penegak hukum itu tercium oleh Arifin.
"Bukan, Pak! Sumpah demi Allah bukan!" Arifin setengah berteriak, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, membelah debu dan lumpur yang mengerikan di pipinya. "Ada anak kecil di dalam, Pak. Kakinya putus kena mesin traktor di sawah. Kami mengejar waktu ke rumah sakit kabupaten!"
Agung tertegun. Kata "kakinya putus" menghantam gendang telinganya seperti letusan senjata. Arogansi yang tadinya membubung tinggi di dada polisi berusia tiga puluh tahun itu perlahan surut satu inci. Namun, rasa skeptis sebagai aparat yang biasa menghadapi seribu satu tipu daya pengemudi membuatnya tidak langsung percaya.
"Jangan main-main kamu! Mana ada ...."
Agung tidak melanjutkan kalimatnya. Dia melangkah maju, lalu mencondongkan badannya untuk mengintip ke dalam kaca depan minibus yang transparan.
Seketika itu juga, dunia di sekitar Agung seolah-olah berhenti berputar.