Let Me Be A Star For You During The Day

Aijin Isbatikah
Chapter #1

#1 Asia's (un)Lucky

Asia masih terpaku menatap layar laptopnya. Ia tidak menyangka bahwa keberuntungan sedang tidak berada di pihaknya. Tentu saja, gadis itu selalu merasa keberuntungan tidak pernah berada disisinya. Apa yang dia harapkan tidak pernah terwujud begitu saja. Gadis itu merasa jika ia selalu harus berusaha keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Berbanding terbalik dengan nasib teman-temannya yang menurutnya selalu beruntung dalam segala hal.

Salah satu dari sekian banyak ketidakberuntungan yang terjadi di dalam kehidupan seorang Asia Hardjono adalah saat ia masih duduk di bangku SMA. Asia bersaing dengan salah satu temannya untuk meraih jabatan sebagai ketua OSIS. Gadis itu merasa lebih unggul dan optimis bahwa dialah yang akan terpilih karena sudah pasti jurusan IPA lebih baik daripada pesaingnya yang notabene dari kelas IPS. Namun takdir berkata lain. Asia kalah telak. Pemilihan suara terbanyak didapatkan oleh temannya itu. Ia yakin jika temannya hanya iseng saat mengikuti pemilihan ketua osis. Ia merasa bahwa temannya tidak pantas terpilih menjadi ketua OSIS karena dalam sudut pandang Asia temannya itu tidak serius dan lebih banyak bercanda saat rapat OSIS berlangsung. Asia merasa bahwa dunia tidak adil padanya.

Kini ia harus menerima kenyataan pahit bahwa untuk kesekian kalinya ia kembali gagal meraih mimpinya menjadi seorang calon mahasiswa di universitas negeri. Tidak, bukan hanya impiannya, tetapi juga impian ibunya. Sejak Asia duduk di bangku kelas sepuluh, ibunya selalu mengingatkannya untuk terus meningkatkan prestasi belajarnya agar dia bisa berpartisipasi melalui Jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Asia selalu menuruti perkataan ibunya. Ia tahu bahwa ibunya selalu memintanya untuk ini dan itu hanya untuk masa depannya yang cemerlang.

Sedari Asia duduk di bangku sekolah dasar, ibunya sudah mengajarinya membuat skema belajar agar kegiatannya dapat berjalan secara runtut. Apabila mereka berada di sebuah kapal yang sama, ibunya adalah nahkoda yang selalu berusaha mengendalikan kapal agar selalu seimbang saat terapung di atas air dan Asia adalah kapal tersebut. Apabila Asia selalu terlihat berusaha keras dalam meraih keinginannya, maka ibunyalah yang lebih banyak berjuang agar Asia berhasil meraih mimpinya itu. Ibunya yang membiayai Asia untuk mengikuti bimbingan belajar di luar. Namun hal itu masih belum cukup bagi ibunya. Beliau juga memanggil guru privat untuk Asia setelah pulang dari bimbingan belajar. Ibunya juga menginisiasi ibu-ibu para siswa di sekolah Asia untuk membentuk kelompok belajar anak-anak mereka yang berprestasi.

Awalnya saat itu, Asia merasakan keberuntungan kecil sedang berada di pihaknya ketika ia membaca bahwa namanya masuk ke dalam jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Ibunya merancang jurusan yang harus dipilih Asia adalah jurusan kedokteran dari kedua universitas negeri yang bergengsi di Surabaya. Asia pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang jarang hadir di dalam hidupnya. Sambil menunggu pengumuman, dia menghabiskan waktu untuk belajar terkait materi perkuliahan kedokteran di perpustakaan. Sampai pada akhirnya pengumuman itu tiba.

“Asia, aku diterima di universitas negeri impianku!” seru Valeria, salah satu teman terdekatnya sekaligus siswa yang berprestasi di bidang olahraga. Dipeluknya Asia sambil kegirangan. Sementara Asta, teman terdekatnya yang lain juga berhasil lolos masuk ke universitas impiannya. Giliran Asia yang mencari barisan namanya sambil memicingkan matanya.

“Ketemu!” ujung jarinya mengarahkan namanya sampai ke arah pojok kanan. Disana dia menemukan dua kata yang bertuliskan ‘TIDAK LOLOS’ dan membuat kepalanya tiba-tiba terasa pening. “Ini nggak mungkin! Seharusnya aku lolos! Nilai dan prestasiku juga nggak main-main!” dia berseru di depan teman-temannya. Valeria dan Asta mencoba menenangkannya dan membawanya menjauh dari kerumunan.

“Sabar, Asia. Masih ada jalur seleksi lain kok. Jalur undangan bukan satu-satunya jalan. Kamu pasti masih bisa mengejar universitas impianmu,” hibur Valeria. Gadis itu memeluk Asia yang masih tampak tegang. Sementara Asta tampak memikirkan sesuatu di dalam benaknya.

“Asia, jangan marah ya? Aku ingin mengatakan apa yang seharusnya ingin aku katakan sejak lama,” Asta mulai berbicara. “Bukankah kita sudah berkonsultasi dengan guru BK sebelumnya? Beliau kan juga menyarankan pilihan yang sebenarnya baik untukmu. Tetapi waktu itu kamu bersikukuh memilih jurusan kedokteran, di universitas bergengsi lagi.”

Asia melepaskan pelukan Valeria dan langsung berdiri tegak dengan nafas tak beraturan. Ia tampak begitu emosional.

“Jurusan kedokteran di universitas bergengsi itu pilihan dari ibuku. Pilihan terbaik untukku! Seharusnya aku bisa masuk disitu. Ini pasti ada siswa yang merebut kursi-ku. Dia pasti diterima karena menggunakan orang dalam!” tuduhnya. Kedua sahabatnya saling melihat satu sama lain. Valeria meminta Asia untuk kembali duduk disampingnya dan membantunya menarik nafas panjang agar menjadi tenang. Asta menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa kamu? Nggak setuju sama fakta yang aku tahu?!” tanya Asia agak tersinggung melihat lelaki yang kini melihatnya dengan tatapan heran.

“Itu bukan fakta, Asia! Itu hanya opini dan imajinasi kamu! Terimalah kenyataan yang ada. Kamu tidak lolos. Tetapi bukan berarti dunia akan berakhir. Seperti apa yang dikatakan oleh Valeria, kamu masih bisa mengejar universitas pilihanmu itu melalui jalur lain,” pernyataan Asta membuat Asia tercenung. Gadis itu berusaha menenangkan dirinya dan kembali pada akal sehatnya. Air matanya menetes, tetapi dirinya masih diam membisu. Tanpa suara. Jelas sekali kedua sahabatnya terlihat mengkhawatirkan keadaan Asia. Valeria memberikan pelukan hangat padanya. Asta menepuk bahu Asia perlahan, “Tenang saja, Asia. Apapun pilihanmu dan dimana pada akhirnya kamu berkuliah, kami berdua akan tetap mendukungmu. Walaupun kami berdua tidak berada di kampus yang sama denganmu, tetapi kami janji akan tetap berhubungan baik denganmu.”

“Jangan menyerah ya, Asia,” tambah Valeria. Ketiganya saling mengaitkan jari mereka satu sama lain. Namun janji hanyalah janji. Pinky promise yang tanpa mereka sadari akan terlupakan begitu saja di masa mendatang.

“Bagaimana hasilnya, nak?” pertanyaan ibunya kembali menyadarkannya dari lamunan. Ia melirik ke arah ibunya yang duduk di hadapannya dengan menunjukkan wajah penuh harapan. Kedua tangan Asia menjadi gemetaran. Ia tidak sanggup membuka mulutnya. Ibunya langsung bergegas melihat layar laptop milik anaknya. Huruf tebal yang bertuliskan ‘TIDAK LOLOS’ terpampang jelas di layar monitor. Ibunya terduduk lemas di lantai. Sedangkan Asia masih menatap lurus tulisan dibawahnya yang bertuliskan ‘Jangan patah semangat’. Ibunya menggelengkan kepala tidak percaya, “Ibu maklumi kamu yang tidak bisa menembus jalur undangan. Demi mempersiapkan masa depanmu yang cerah itu, ibu sampai memanggil guru privat yang merupakan lulusan dari universitas bergengsi khusus mengajarimu agar kamu bisa lolos SNBT dengan nilai cemerlang. Memang nilai kamu bagus, tapi kamu masih saja tidak bisa lolos di universitas itu. Meskipun rasa malu masih menyelimuti ibu, tetapi ibu tetap mengijinkanmu untuk mengikuti jalur seleksi mandiri demi perguruan tinggi negeri bergengsi itu. Tapi apa hasilnya sekarang?! NIHIL!”

Ibunya terus saja mengeluarkan segala uneg-unegnya. Anak gadisnya hanya diam membisu. Kedua matanya masih menatap lurus layar laptop tanpa bereaksi apapun. “Ibu sudah menjadi orang tua yang gagal. Memang semenjak ayah kamu meninggalkan kita berdua, ibu sudah menjadi orang tua yang gagal mempertahankan rumah tangga ini. Bahkan sekarang ibu gagal membesarkanmu menjadi anak yang bisa dibanggakan di depan banyak orang. Apa kata keluarga besarmu nanti? Bagaimana juga pandangan para orang tua dari teman-temanmu yang sebelumnya memandang ibu dengan hormat?! Mereka semua akan memandang rendah ibu. Memandang rendah dirimu yang gagal dan akan segera menjadi seorang pengangguran!” segala keluh kesah diteriakkan dengan nyaring di depan Asia.

“Tidak, bu. Ini bukan akhir dari segalanya,” tiba-tiba saja Asia mulai bersuara. Ibunya terpaku melihat anaknya yang meletakkan laptop di atas meja dan berdiri menghadap ibunya. Asia kembali mengulang perkataannya, “Ini bukanlah akhir dari segalanya. Aku yakin segala masalah pasti akan ada jalan keluarnya. Ada satu jalan pintas, bu.”

Asia tersenyum canggung. Kali ini dia memberanikan diri untuk mengutarakan pendapatnya. Selama ini Asia selalu menuruti dan mengikuti segala aturan dari ibunya hingga ia lupa bahwa seharusnya ia juga berhak memiliki suara untuk dirinya sendiri. Asia sangat berharap agar ibunya menyetujui pendapatnya untuk pertama kalinya. Asia mencoba mengutarakannya dengan penuh kehati-hatian, “Universitas swasta disini juga tidak begitu buruk. Bahkan disana juga ada tes seleksi. Di universitas swasta itu juga ada jurusan yang disarankan oleh guru BK kepadaku. Kata beliau, jurusan itu cocok dengan tes peminatan yang aku lakukan sebelumnya di sekolah. Ibu tidak perlu malu lagi karenaku.”

“Universitas swasta, katamu?!” tiba-tiba saja wajah ibunya semakin menjadi merah padam. Kedua matanya melotot seraya jari telunjuknya menunjuk-nunjuk pundak anaknya. Ibunya berseru, “Dengarkan ibu, kampus negeri lebih menjanjikan. Disana tersedia spektrum jurusan yang lebih luas daripada kampus swasta. Banyak siswa pintar yang tersaring di kampus negeri daripada swasta. Coba bayangkan seandainya kamu lulusan dari universitas negeri, kamu akan dipermudah dalam mencari pekerjaan. Privilage yang akan kamu dapatkan lebih besar dan masa depanmu akan terjamin. Lagipula jurusan yang disarankan oleh gurumu itu bukanlah kedokteran! Asia, kenapa logikamu semakin menyusut?! Sudahlah, terserah kamu mau ngapain. Ibu sudah merasa gagal untuk kedua kalinya.”

Asia langsung merengkuh ibunya yang baru saja hendak berbalik meninggalkannya. Ibunya mencoba melepaskan pelukan darinya, tetapi Asia terus saja mempererat pelukannya. Sembari terisak, Asia berkata, “Jika Asia diterima di kampus swasta, aku berjanji akan lebih serius belajar dan aktif berorganisasi. Akan aku tunjukkan pada semua orang kalau ibu tidak gagal membesarkanku. Aku akan berhasil disana. Aku akan lulus sarjana dengan predikat lulusan terbaik. Tunggu aku, bu. Aku akan membuktikannya kepada ibu!”

Ibunya melepaskan pelukan Asia secara perlahan. Tanpa berbalik, ibunya mengucapkan sepatah kata yang membuat hati Asia cukup teriris, “Silakan lakukan sesuai keinginanmu. Tetapi jangan harap ibu mendukung pilihanmu itu. Kalau kamu tetap bersikukuh masuk di kampus konyol itu, biarkan ayahmu itu yang membiayaimu. Ibu sudah capek melihat kelakuanmu itu.”

Dengan terpaksa, Asia membiarkan ibunya melangkah gontai menuju ke kamar. Gadis itu berusaha untuk tetap berdiri tegak di depan ibunya. Setelah ibunya masuk ke dalam kamar, barulah Asia terduduk lemas di lantai. Asia menyesali perkataannya.

‘Bagaimana bisa aku begitu berani melontarkan pendapatku di depan ibu? Padahal selama ini ibu sudah bersusah payah mendukungku. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menelepon ayah yang tidak pernah menemuiku selama sepuluh tahun lamanya?’

Lihat selengkapnya