Let Me Be A Star For You During The Day

Aijin Isbatikah
Chapter #2

#2 Tertata dengan Sempurna

Hari pertama acara orientasi mahasiswa di kampus. Asia sangat bersemangat mencatat segala hal yang disampaikan oleh rektor hari ini. Dia juga aktif bertanya seputar visi dan misi dari Universitas, beasiswa mahasiswa, hingga seputar program kreativitas mahasiswa. Para mahasiswa sampai tercengang melihat Asia yang mengangkat tangannya berkali-kali untuk bertanya dan memenuhi seluruh catatannya dengan tulisan.

“Kamu nggak capek terlalu banyak menulis?” tanya seorang gadis disebelahnya. Gadis itu juga memakai seragam putih dan rok hitam seperti mahasiswa lainnya. Asia melirik ke arah halaman buku gadis disampingnya. Gadis itu menyadarinya, “Ah, aku baru mengisi beberapa kalimat saja. Kamu hebat sekali sudah menulis sampai berlembar-lembar.”

“Iya kan memang tugas hari ini adalah mencatat pidato rektor. Setelah ini akan dikumpulkan ke kakak fasilitator,” jawab Asia sambil terus mencatat.

“Tapi kan nggak perlu seserius itu. Lagipula tidak akan dinilai,” kata gadis itu lagi. Diam-diam Asia merasa gemas dengan gadis disebelahnya. Ia menengok ke arah gadis itu. Asia bisa melihat bahwa gadis itu terlihat cantik secara fisik. Memiliki tubuh yang ideal, rambutnya tergerai panjang, warna lipstik di bibirnya yang bahkan tidak terlalu menonjol bisa membuatnya semakin menarik, dan struktur wajahnya yang kecil membuatnya terlihat semakin imut.

‘Anak ini sepertinya tidak serius belajar. Terlihat banget dia dandan hari ini. Jikalau dia single, mungkin beberapa hari ke depan dia sudah bisa menggaet pria dan menjadikannya seorang pacar,’ suara hati Asia mulai berbicara. Gadis itu tampak canggung karena Asia mengamatinya dalam waktu yang lama.

“Eh, kenapa?” tanya gadis itu. Asia menyunggingkan senyumannya.

Lantas ia berucap, “Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan nanti. Menurutku tidak ada salahnya untuk serius. Selama keseriusan itu tidak berdampak merugikan orang lain.”

Gadis itu tertawa kecil. “Oke.. Oke.. Aku harus mencatat dengan serius sekarang. Eh, ya. Perkenalkan namaku Mayu dari jurusan psikologi. Kamu?”

Mereka saling bersalaman.

“Panggil saja aku Asia. Jurusan kita sama. Mungkin nanti kita sekelas. Karena mahasiswa dari jurusan kita hanya sedikit,” ungkapnya dengan tenang. Gadis bernama Mayu itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kok kamu tahu jumlah mahasiswa baru di jurusan kita sedikit?”

Asia memutar matanya dengan kesal.

“Come on, tadi kan rektor sudah menjelaskan tentang hal itu.”

Mayu hanya tersenyum malu. Asia melanjutkan menulis catatannya. Tak lama kemudian, kakak-kakak fasilitator meminta catatan yang sudah ditulis oleh para mahasiswa. “Sekalian yaa, kumpulkan juga tugas menulis essay di kertas portofolio bergaris. Nanti kami yang akan mendatangi kalian satu-persatu,” ucapan kakak-kakak fasilitator membuat masing-masing mahasiswa segera mengambil kertas essay dari dalam tasnya. Sedangkan Asia sudah mempersiapkannya sebelumnya di balik buku tulisnya.

“Hee.. Tugas apa itu maksudnya?” tanya Mayu dengan wajah kebingungan. Gadis itu menoleh ke arahnya lagi.

“Tugas essay tentang empat peran penting mahasiswa dalam masyarakat. Kamu belum menulisnya sama sekali?” tanya Asia keheranan. Mayu menggelengkan kepalanya. Dengan cepat, ia segera menyobek kertas kosong di bagian tengah bukunya. Mayu menulis nama dan jurusan. Asia sendiri pun tidak habis pikir ada juga ternyata orang yang menggampangkan segala hal seperti Mayu. Entah dia lupa atau memang sengaja mengabaikan.

Mayu menoleh ke arahnya lagi, “Empat peran penting mahasiswa itu apa saja?”

Asia hampir saja menepuk jidatnya. Tetapi dia tidak tega membiarkan Mayu yang tampak kebingungan. Dia tahu bahwa apa yang dilakukan Mayu hanyalah sia-sia. ‘Bagaimana dia harus menjabarkan keempat-empatnya dalam waktu sesempit ini? Bahkan dia saja tidak tahu tentang empat peran penting mahasiswa dalam masyarakat,’ pikirnya.

“Agen perubahan atau disebut juga agent of change. Kontrol sosial atau social control. Kekuatan moral atau moral force. Yang terakhir stok besi atau iron stock,” perkataan Asia membuat Mayu langsung bersemangat untuk menyalin kata-katanya di kertas. Setelah itu, Mayu berhenti menulis lagi.

“Stok besi? Iron stock? Apa ada hubungannya dengan setrika?” tanyanya. Kening Asia langsung berkerut. Wajahnya bengong tidak terkontrol.

‘Waduh, nih anak setiap hari makan apa sih? Makan nasi kan? Nggak mungkin makan alat kosmetik.’

“Nah, hayo. Kalian yang mengobrol. Mana tugas-tugasnya?” tanya Ajeng, fasilitator yang bertanggungjawab di kelompok Asia dan Mayu. Setelah menyerahkan buku tulis dan kertas essay-nya, Asia melirik ke arah Mayu yang menunjukkan kepercayaan dirinya saat mengumpulkan tugas. Ajeng agak sedikit kaget melihat kertas essay yang Mayu kumpulkan.

“Ini kertas portofolio bergaris sudah bisa berkamuflase menjadi kertas dari buku tulis ya?” tanyanya sedikit bercanda. Mayu malah tertawa. Asia langsung berpura-pura tidak tahu. ‘Aku tidak lihat. Aku tidak lihat,’ katanya.

“Maaf, kak. Tadi saya lupa tidak membeli kertas portofolio bergaris. Jadi saya tulis di kertas itu saja. Tidak apa-apa kan, kak?” tanyanya menunjukkan wajah memelas.

Ajeng lebih terkejut lagi saat membaca isi dari kertas itu. Lantas dia tersenyum lagi seraya berkata, “Ya tidak apa-apa sih. Selagi isinya juga berbobot ya.”

Setelah itu Ajeng mengambil kertas dari mahasiswa lainnya. Asia melirik ke arah Mayu lagi. ‘What?! Dia malah tersenyum lega! Sepertinya mama benar. Persaingan antar mahasiswa disini tidak lebih kuat daripada di universitas negeri. Aku tidak tahu harus merasa senang atau malah bersedih. Tetapi hanya satu yang aku tahu, sepertinya jalan yang aku lalui akan semakin mudah.’

Asia mencentang rencana harian yang ia tulis di buku jurnalnya. Ia mencentang sembari bergumam, “Tugas menulis pidato rektor, check. Mencari tahu tentang universitas, check. Tugas essay, check.”

Setelah itu, hari kedua orientasi kampus mahasiswa baru pun dimulai. Mereka harus bermalam di Mojokerto. Mobil truk untuk mengangkut para mahasiswa sudah terparkir di depan kampus. Asia menyeret tas koper miliknya hingga sampai di bagian belakang mobil truk.

Terlihat Ajeng dan kedua kakak fasilitator yang lain membantu para mahasiswa baru naik ke dalam truk dan membantu mengangkat tas mereka. Tangan Ajeng terhenti saat Asia menyerahkan tas kopernya. “Seriusan, dek. Kamu bawa koper sebesar itu? Yang lainnya cuma bawa tas ransel loh. Ada juga beberapa dari mereka yang membawa tas travel bag. Kita hanya menginap semalaman saja loh, ” tuturnya. Asia menurunkan koper yang sebelumnya sudah diangkatnya ke atas.

“Oh jadi begitu, kak. Padahal barang-barang yang saya bawa juga berkaitan dengan kegiatan saya disana loh kak. Kalau begitu biarkan saya pulang dulu untuk mengganti tasnya,” mendengar perkataan Asia membuat Ajeng berpikir ulang.

Lihat selengkapnya