Let Me Be A Star For You During The Day

Aijin Isbatikah
Chapter #3

#3 Tidak Sesuai Rencana

Kelompok Immanuel Kant duduk melingkar di lantai atas yang letaknya tidak jauh dari kamar para mahasiswi. Mereka lebih memilih berdiskusi disana karena suasananya lebih tenang daripada di lantai bawah. Kelompok mahasiswa baru yang lainnya berdiskusi di lantai bawah. Namun ada juga beberapa dari mereka yang juga berada di lantai atas.

“Nah, sekarang kita akan menentukan siapa ketua kelompok kita,” Mayu mulai berbicara. Dengan penuh percaya diri, Asia hendak mengangkat tangannya untuk mengajukan diri menjadi ketua kelompok. “Bagaimana kalau Aria saja yang menjadi ketuanya?” tanya Mayu kemudian.

Asia tidak jadi mengangkat tangannya. Dia terkejut saat Mayu menunjuk seorang cowok yang sedang duduk selonjoran sambil mengorek telinganya untuk menjadi ketua kelompok mereka. Teman-teman lainnya masih menunggu reaksi Aria.

“Tunggu dulu! Kenapa kamu memilih dia?” Asia meminta penjelasan kepada Mayu. Ia tidak habis pikir kenapa Mayu lebih memilih orang yang lebih suka mencari perhatian, norak, dan tidak bisa serius sama sekali itu menjadi ketua. “Kenapa kamu nggak memilih Marella, Satria, atau bahkan dirimu sendiri?” ungkapnya lagi dengan menggebu-gebu. ‘Atau aku yang kamu pilih karena aku bisa menjadi pemimpin yang lebih baik daripada kalian semua,’ sambungnya dalam hati.

Mayu terkekeh sambil berkata, “Aria kelihatan lebih sans dan enjoy gitu. Mungkin kalau dia yang jadi ketuanya, penampilan kita bakalan lebih seru gitu.”

“Gimana menurutmu, Aria?” tanya Satria. Teman-teman yang menunggu jawaban Aria yang masih sibuk mengorek telinganya.

Aria melihat kotoran telinga yang berada di ujung jarinya. Asia bergidik saat melihatnya mengusap kotoran telinga itu di bajunya. Aria ikut menanggapi, “Yakin nih aku yang jadi ketuanya? Bukannya nggak mau nih, tapi jangan salahkan aku nanti kalau kelompok kita yang paling lemot. Aku saja belum kepikiran nanti kita bakalan menampilkan apa.”

‘Sadar diri tuh anak,’ pikir Asia. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung mengangkat tangannya. “Aku punya ide. Jangan khawatir. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Semua peralatan ada di dalam tas ini,” ungkapnya. Asia menunjukkan travel bag miliknya. Dia membuka tas itu di tengah-tengah lingkaran kelompok.

Mayu dan teman lainnya dibuat takjub dengan isi di dalam tas itu. Asia mengeluarkan semua benda itu satu-persatu. Ada lima mahkota yang terbuat dari kertas Buffalo dan memiliki berbagai warna. Lalu ada ukulele. Tidak hanya itu saja, ada pernak-pernik buatan tangan yang bisa dijadikan kalung dan gelang dengan corak warna yang terang. Asia juga mengeluarkan lima sarung.

“Ini semua sudah kamu siapkan sebelumnya?” tanya Marella hampir tidak percaya. Asia mengangguk senang.

“Ya dong! Sebelumnya aku sudah melihat daftar nama kelompok kita. Lalu aku mencari tahu di browser, apa saja yang biasanya dilakukan maba saat acara masa orientasi jaman sekarang. Jadi aku menyiapkan semua bahan yang ada. Ini bisa menjadi nilai plus untuk penampilan musikalisasi puisi kita.”

Mayu langsung memeluk Asia dengan erat. “Waah, makasih banyak Asia. Ini semua sudah lebih dari cukup. Kalau begitu kamu saja yang menjadi ketua kelompok Immanuel Kant!” serunya.

“Iya, nih. Aku setuju saja. Aku rasa tidak masalah. Asia, kami mengandalkanmu ya,” tambah Satria. Marella ikut mengangguk.

“Siap!” Asia merasa lega karena pada akhirnya dia bisa menjadi ketua kelompok. Tanpa sadar, ukulele yang berada ditangannya langsung diambil alih oleh Aria. Kening gadis itu berkerut menunjukkan seberapa kesalnya dia dengan kelakuan Aria.

Sambil fokus memainkan ukulele, Aria berkata, “Ya jangan hanya mengandalkan satu orang dong. Apa gunanya berkelompok kalau yang kerja hanya satu orang.”

Asia merasa tersindir. Lantas dia membalas perkataan Aria dengan nyinyir, “Oh ya? Kata-kata seperti itu seharusnya dikatakan oleh seseorang yang bisa memberi ide dan tidak hanya asal nyablak saja.”

Aria berhenti memetik senar ukulele. Lalu dia tersenyum lebar sembari berkata, “Why so serious?”

“Iya, Asia. Jangan terlalu serius ah. Aria cuma bercanda. Tapi memang benar sih sudah seharusnya sebagai satu kelompok kita harus saling gotong royong,” ucap Mayu berusaha mencairkan suasana.

“Hawanya kerasa tegang banget yaa hahaa..,” Satria ikut menimpali dengan tawa canggung. Melihat teman-teman satu kelompoknya seperti lebih membela Aria membuat Asia seperti menjadi pemeran si antagonis.

Pandangan Asia beralih ke arah Aria yang masih tersenyum sambil memetik ukulele membuat Asia semakin kesal. ‘Ada apa dengan senyumannya itu? Kenapa dia selalu saja tersenyum dan tertawa seperti nggak ada beban. Senyumannya sama sekali tidak tulus bagiku,’ pekiknya dalam hati.

Asia terkejut ketika Aria melihat ke arahnya kembali. “Aku yang memainkan ukulele nya ya. Aku bisa kok memainkannya. Boleh ya?” ijinnya.

“Nggak bisa. Aku saja yang memainkan ukulelenya. Lagipula aku tidak yakin kalau kamu bisa bermain lebih baik dariku,” kata Asia dengan ketus. Tetapi melihat ekspresi teman-temannya yang penuh prasangka membuat Asia merasa ada yang salah dengan perkataannya. Dia pun meralat kata-katanya dengan tertawa canggung, “Maksudku.. Kamu boleh memainkannya kalau kamu suka. Biar kami yang bagian membaca puisi.”

“Oke, deh. Makasih, ibu ketua,” melihat senyuman Aria membuat gadis itu merasa jengkel yang luar biasa.

Kemudian mereka berdiskusi menulis jargon untuk penampilan nanti malam.

“Aku rasa kok jargonnya agak kurang ya?” tanya Satria saat mereka berhasil memoles jargon untuk kelompoknya.

“Kelihatan kaku?” tanya Marella. Satria mengangguk. Mayu dan Asia mencoba membacanya dengan seksama. Asia yang meneriakkan jargon sebagai pemimpin dan Mayu yang akan berperan menjadi anggota.

“Siapa kita?” teriak Asia.

Giliran Mayu yang berseru, “KANT-kreatif! KANT-kritis! KANT-tangguh!”

Asia berteriak lagi, “Kita berpikir..,”

“Maka kita melangkah!”

Lantas keduanya berseru secara bersamaan, “IMMANUEL KANT! SATU NALAR, SATU LANGKAH!”

Marella bertepuk tangan. Sementara Satria masih terlihat sedang berpikir keras.

“Menurutku sudah bagus kok,” kata Asia.

“Memang agak kaku. Tinggal kita ajah yang harus lebih kompak,” perkataan Mayu membuat Marella ikut setuju dengan pendapatnya. Satria melihat Aria sedang menulis di kertas sambil sesekali memetik ukulele.

“Nulis apaan, bro?” tanyanya. Ia langsung menyabet kertas yang berada di depan Aria. Lantas Satria membacanya sambil tersenyum. Marella dan Mayu juga ikut membacanya.

Aria tersenyum malu-malu. “Ah, itu cuma iseng. Masih lebih bagus jargon kita yang tadi,” ucapnya. Asia ikut penasaran dan membaca kertas tersebut. Satria dan kedua temannya bertepuk tangan.

“Bravo! Kita pakai jargon ini saja! Lebih menarik!”

Asia menghempaskan kertasnya di lantai. Kali ini dia kembali merasakan ketidakadilan di dalam kelompoknya. ‘Lagi-lagi Aria! Sudahlah, aku nggak berharap lebih dengan kelompok ini.’

Asia pun menyahut, “Biarkan Aria yang memimpin jargon.”

Lihat selengkapnya