Setelah kelas mata kuliah Filsafat berakhir, para mahasiswa berbondong-bondong keluar dari ruangan kelas. Hanya ada kelompok Asia yang masih berada disana. Gadis itu memasukkan kedua buku diktatnya satu-persatu ke dalam tas ransel. Setelah memastikan buku-bukunya sudah tersusun rapi di dalamnya, dia mulai memegang pulpen dan binder, lalu memindah kursinya ke sebelah kiri sehingga menghadap Mayu dan teman-temannya secara langsung. Asia mencoba mengawali pembicaraan terkait tugas kelompok.
“Guys, dengarkan aku sekarang. Minggu ini kita memiliki dua tugas kelompok yaitu mata kuliah Psikologi Perkembangan dan Filsafat. Kita harus mengerjakannya minggu ini agar minggu depan kita nggak keteteran,” ujarnya bersemangat. Marella dan Satria menyetujuinya juga.
“Minggu ini aku nggak bisa. Harus pergi ke rumah saudara yang berada di luar kota,” ucap Mayu yang merasa keberatan jika harus kerja kelompok minggu ini. Asia manggut-manggut mengerti.
Lantas dia mulai menulis sesuatu di bindernya seraya berkata, “Nggak masalah. Mayu bisa mengerjakan bagian ppt-nya. Biar nanti kami berempat yang membuat makalahnya. Tapi hari ini kamu bisa kan ikut mencari buku-buku Filsafat dan Psikologi Perkembangan di perpustakaan?”
Terlihat kecemasan di wajah Mayu. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. “Duh, gimana ya? Bisa sih. Tapi nggak lama aku tinggal nggak apa-apa ya?”
Asia mengerutkan keningnya. Dia melihat Mayu yang seolah-olah seperti berusaha melontarkan seribu alasan untuk menghindari tanggung jawabnya.
“Kalau ada yang nggak bisa, mendingan minggu depan saja ngerjainnya. Lebih baik mengerjakan bareng nggak sih. Jangan egois dong, masa kerja kelompok kok pada mencar-mencar sendiri. Lagipula hari ini aku juga nggak bisa ikut ke perpustakaan,” perkataan Aria dengan gaya santainya sambil ongkang-ongkang kaki itu membuat Asia semakin naik darah.
“Kalian berdua itu sebenarnya niat nggak sih mengerjakan tugas ini? Oke, aku tahu kalau Mayu nggak bisa mengerjakan bareng tugas kelompok ini. Aku kasih jalan keluarnya. Tapi masa mencari buku untuk referensi saja tidak bisa juga? Dan kamu, Aria, aku nggak egois ya! Kerja kelompok juga nggak harus kumpul bareng. Yang terpenting kita bisa mengerjakan dan menyelesaikan tugas itu dengan baik. Kalau minggu depan bakalan keteteran!”
Aria malah terkekeh mendengarnya. Wajah Asia semakin mengeras karena merasa Aria tidak menganggap serius tugas kuliahnya. Bahkan cowok itu malah menertawainya. Aria berbicara lagi, “Apanya yang keteteran? Minggu depan masih ada waktu juga kok. Santai dikit lah. Nggak usah terlalu rajin begitu. Toh, aku yakin kita bisa selesai tepat waktu. Yang terpenting suka duka bersama.”
Asia bangkit dari duduknya. Marella berusaha menahan Asia untuk tidak berbuat hal yang lebih jauh. Namun Aria tidak gentar dari duduknya yang selengekan.
“Duh, takut. Sepertinya aku ganggu macan yang lagi tidur,” ledeknya sambil tak henti-hentinya tertawa. Mayu memberinya isyarat untuk diam. Tetapi cowok itu tetap tertawa.
Satria juga berusaha menengahi mereka berdua, “Stop! Kalian berdua. Nggak perlu sampai begini dong. Asia, turunkan kemarahanmu. Harus lebih sabar. Aria juga. Kamu nggak perlu memantik api ke dalam minyak yang panas.”
Aria semakin meledek penuh sarkasme, “Mungkin memang ada minyak panas di atas kepalanya. Buktinya saja ada asap tuh yang keluar dari atas kepalanya. Hahahaa..,”
“Aria, STOP!” melihat sorot mata Satria langsung membuat mulut Aria terkatup rapat.
Dia mengangkat kedua tangannya seraya berkata, “Oke. Oke. Candaanku keterlaluan. Maaf, ya.”
Namun terlambat, Asia sudah terlanjur kecewa dengan perilaku Aria. Gadis itu hampir saja menangis. Tetapi dia tetap bertahan demi harga dirinya sebagai seorang wanita yang kuat. “Kamu ngobat ya? Menertawakan segala hal yang terjadi seolah-olah semua hal itu pantas ditertawakan. Kalau memang itulah dirimu yang sebenarnya. Aku sarankan kamu untuk memperbaiki kepribadianmu itu.”
Mayu menyentuh lengannya dan berkata, “Tenang, Asia. Aria cuma bercanda kok. Lagipula dia sudah meminta maaf.”
“Mayu, kamu terlalu memakluminya. Andai kalian tahu. Aku sudah memperhitungkan segalanya. Minggu depan kita ada tugas-tugas mandiri dari mata kuliah lain dan dua tugas kelompok yang harus dipresentasikan. Makalah juga harus segera dikumpulkan. Mulai dari mencari dan membaca buku maupun browsing untuk referensi, menyalinnya, lalu ke tempat jasa print untuk makalahnya. Belum lagi membuat ppt-nya dan kita juga harus membagi tugas untuk bergantian melakukan presentasi itu. Keteteran nggak menurut kalian? Bisa tepat waktu?!!”
Hening. Baik Mayu, Marella, dan Satria berpikir sejenak dan memilih untuk diam. Suara ketikan dari handphone terdengar. Asia dan teman-temannya langsung menengok ke arah sumber suara. Aria malah sibuk mengetik handphone-nya. Asia berusaha menenangkan diri agar tidak terlalu terbawa emosi. Lantas dia mengakhiri pembicaraannya, “Terserah mau kalian apa sekarang. Aku nggak peduli lagi dengan tugas kelompok ini!”
Asia pergi meninggalkan teman-temannya. Dia sama sekali tidak menghentikan langkahnya maupun berbalik saat Mayu dan Marella memanggil namanya. Asia benar-benar merasa kecewa dengan teman-teman kelompoknya, terutama Aria. Asia benar-benar tidak bisa mengatur cowok yang memiliki kepribadian yang berbanding terbalik dengannya. Aria selalu terlihat santai dan sering bercanda. Bahkan Asia yakin jika Aria juga tidak pernah memikirkan target hidupnya. Bagi Asia, Aria adalah ancaman bagi ketertiban hidupnya.
Asia menghentikan langkahnya saat hampir saja melewati pintu perpustakaan fakultas. Dia berkata dengan marah, “Kalau Aria ingin gagal, silakan. Tetapi aku nggak ingin merusak masa depanku hanya karena dia!”
Asia memutuskan masuk ke dalam perpustakaan itu. Tak lama kemudian Mayu, Marella, Satria, dan Aria keluar dari dalam ruang kelas. Mereka berjalan melewati perpustakaan fakultas hingga menuruni tangga.
Setelah berhenti di depan pintu perpustakaan universitas, Satria memaksanya untuk masuk ke dalam perpustakaan. Namun Aria menggelengkan kepalanya.
“Aku beneran ada acara setelah ini. Jadi aku nggak bisa ikut kerja kelompok bersama dengan kalian.”
Mayu juga berkata hal yang sama. “Aku juga harus berangkat bersama keluargaku sekarang. Aku harap Asia bisa mengerti. Tolong sampaikan maafku padanya.”
Keduanya pergi meninggalkan Marella dan Satria yang masih berdiri di depan pintu perpustakaan universitas. Marella menengok ke arah Satria, “Nggak apa-apa nih cuma kita berdua yang ikut kerja kelompok bareng Asia?”
“Sepertinya nggak apa-apa deh. Kata Asia tadi kan yang penting kita ada niat dan kemauan. Ya sudah yuk, kita susul Asia di dalam. Sepertinya dia sudah mencari buku-buku untuk referensi di dalam.”
Mereka berdua pun segera masuk ke dalam perpustakaan universitas. Niat dan kemauan memang merupakan hal yang penting. Tetapi kalau takdir turut campur ke dalam hidup mereka seperti ini ya.. cukup sulit.
***
Setiap hari minggu, seperti biasa Asia membantu ibunya membuat adonan roti untuk dijual di depan rumah. Ibunya memakai sarung tangan untuk mengeluarkan nampan berisi beberapa croissant dari dalam oven. Setelah itu diletakkannya di atas meja.
“Nak! Kalau croissant-nya sudah tidak panas, segera masukkan ke dalam plastik opp ya. Kalau sudah, tata rotinya di depan sana ya,” ucap ibunya sambil memasukkan nampan berisi roti melon ke dalam oven.
“Siap, bu!” jawab Asia yang masih tetap fokus mengangkat donat-donat yang berada di serok penggorengan. Setelah mematikan kompor, dia beralih menghias donat yang sebelumnya sudah tidak terlalu panas. Asia menghias dengan penuh kehati-hatian. Dia sudah terbiasa menghias donat dengan menaburkan gula halus, cokelat yang sudah dilelehkan, kacang-kacangan, glaze, dan lainnya.
Sikutnya tidak sengaja menyenggol kotak berisi sprinkle warna-warni yang kini tampak miring baginya. Asia melepaskan sarung tangannya yang terbuat dari plastik. Ia meletakkan kotak itu di rak dalam keadaan lurus sehingga tulisan ‘sprinkle warna-warni' terlihat jelas menempel di kotak itu. Kemudian Asia melanjutkan kembali menghias donat.
Kegiatannya sangat padat hari itu. Saat pagi, dia membantu ibunya membuat adonan roti. Setelah matang, Asia juga menunggu di depan rumah untuk menjajakan roti-roti tersebut. Dia sudah membantu ibunya berjualan sejak sekolah dasar. Tetapi untuk terjun membuat adonan sudah diajarkan oleh ibunya sejak duduk di kelas menengah pertama.
Hari ini Asia menjual roti sambil mengerjakan tugas kuliahnya. Tak lama dia berhenti mengetik dan menghela nafas panjang. Semenjak pertengkaran mereka kemarin, Asia mengira kalau teman-temannya akan menyusulnya di perpustakaan fakultas. Tetapi mereka sama sekali tidak datang menghampirinya. Jadilah Asia semakin merasa kesal dan mencari buku-buku diktat sendirian.
Sesampainya di rumah, dia mendapati beberapa panggilan tidak terjawab dari Marella. Asia tidak tahu ada telepon dari temannya karena sebelumnya handphone-nya dalam mode diam. Gadis itu menimbang-nimbang langkah apa yang seharusnya ia lakukan. Menelepon Marella atau malah mengabaikannya. Sebenarnya Asia juga sedikit penasaran kenapa Marella menghubunginya beberapa kali.
Terbayang wajah Aria yang tertawa terbahak-bahak membuatnya merasa kesal kembali. Dia memutuskan untuk tidak menelepon Marella kembali sampai mood jeleknya mereda.
Namun kini Asia merasa bersalah karena sudah mengabaikan panggilan telepon dari temannya itu. “Kenapa dia nggak mengirimkan chat padaku saja sih? Kenapa harus telepon?” katanya sembari menekan tombol panggilan.
Tidak butuh waktu lama, Marella mengangkat telepon darinya. “Halo, Asia. Kenapa baru telepon sekarang sih? Kemarin kami mencari-cari kamu di perpus nggak ada tahu!”
Asia mendadak cengok. Sepengetahuannya kemarin dia hanya sendirian ditemani dengan petugas di perpustakaan fakultas. Tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka.
“Bohong nih! Kemarin itu cuma aku sama kak Ajeng disana. Kalian nyari aku dimana? Di perpustakaan daerah?” tanyanya setengah bercanda.