Let Me Be A Star For You During The Day

Aijin Isbatikah
Chapter #5

#5 | Frazzled

Beberapa hari ini Aria tidak lagi datang kuliah. Semenjak presentasi hari itu, dia sama sekali tidak ada kabar. Asia dan teman-teman satu kelompoknya berusaha meneleponnya. Namun panggilan telepon mereka tidak pernah dijawab olehnya. Asia mencoba mengirim chat untuk mengajak cowok itu mengerjakan tugas kelompok Filsafat, tetapi tetap saja tidak ada balasan darinya.

Siang itu Satria menelepon Aria berkali-kali. Namun hasilnya tetap nihil. Satria meletakkan handphone-nya di atas meja dengan rasa kesal.

Marella berhenti mengetik keyboard laptop dan melihat ke arah Satria. Asia dan Mayu juga melihat ke arah cowok yang kini sedang mengelus dadanya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Sudah satu jam kita berada disini untuk mengerjakan tugas kelompok sekaligus menunggu kedatangannya. Tetapi dia tetap tidak mengangkat telepon. Asia, kamu sudah mengirim pesan kepadanya kan tadi?” Asia menganggukkan kepala saat Aria bertanya padanya.

“Aku sudah chat dia kalau kita menunggunya di perpustakaan fakultas.”

Marella ikut angkat bicara, “Sudahlah. Lebih baik kita fokus mengerjakan tugas ini sampai selesai daripada menguras tenaga karena hal yang tidak perlu.”

“Hal yang tidak perlu?” pertanyaan Mayu membuat ketiga temannya menoleh ke arahnya. Gadis itu mengernyitkan dahi dan suaranya terdengar sedikit bergetar seperti menahan amarah, “Marella, hal yang menurutmu tidak perlu itu adalah menunggu kehadiran Aria, teman kita. Dia bukan sekedar anggota kelompok kita, tetapi juga teman yang akrab dengan kita. Apa kamu tidak mengkhawatirkannya sedikitpun? Dia sudah tidak masuk beberapa hari ini loh!”

Laptop yang semula berada di pangkuannya, kini diletakkannya di atas meja. Marella melipat kakinya dan berusaha duduk senyaman mungkin. Ia bersiap untuk mengatakan segala uneg-unegnya.

“Kamu salah paham, Mayu. Maksudku tidak begitu. Aku juga tahu kalau Aria itu teman terdekat kita. Tetapi bukankah lebih baik kita tetap mengerjakan tugas filsafat ini sampai selesai? Presentasinya besok pagi loh! Tetapi sekarang kita masih stagnan di makalah. Ppt juga sama sekali belum dibuat. Kamu mikir nggak sih kalau tugas Filsafat kita lebih penting daripada mikirin Aria yang entah sekarang berada dimana.”

Mayu berdiri dengan kilatan api amarah yang terlihat dimatanya, “Kamu sama sekali tidak mencemaskan Aria. Kamu hanya mementingkan tugas kelar terus dapat nilai bagus daripada kebersamaan kita berlima. Seharusnya yang Aria sebut egois itu bukan Asia, tetapi kamu!”

Asia kaget sekali ketika namanya juga dikaitkan dengan pertengkaran di antara kedua temannya. Satria memberinya isyarat agar Asia mau untuk menengahi keduanya.

Asia ikut berdiri. Ia bingung bagaimana cara menengahi pertikaian di antara kedua temannya tanpa harus terlihat memihak salah satunya. “Ehmm ... Aduh, sudah jangan bertengkar. Pakai sebut-sebut namaku lagi. Eeng ... Ingat, kita masih di perpus loh. Nanti suara kita terdengar dari luar kan nggak enak. Aria juga pasti datang kok sebentar lagi,” ucapnya dengan terbata-bata.

Akhirnya keduanya terdiam. Asia bernafas lega. Ia kembali duduk di atas karpet. Namun ternyata Marella mengambil tas ranselnya dan beranjak dari duduknya seraya berkata, “Asia, Satria! Aku pulang! Capek banget meladeni orang yang kelihatan cinta mati sama Aria!”

Mayu semakin marah mendengar perkataan Marella. Dia hampir saja menjambak rambut Marella, tetapi Satria dengan sigap menahan kedua tangan temannya yang diliputi kemarahan itu. Asia segera bangkit dari duduknya juga dengan perasaan campur aduk.

“Stop! Jangan biarkan kemarahan itu menguasaimu, May,” ujar Satria. Sementara Marella berbalik sebentar melihat Mayu yang masih memberontak dan berjalan pergi.

“Kenapa ... ?! Kalian juga nggak peduli kan sama Aria ... ?! Teman macam apa kalian ... ?!” seru Mayu seperti kesetanan. Mendengar hal itu membuat Asia muak seketika. Dia memisahkan Satria dari Mayu dan mengguncang-guncang tubuh Mayu dengan kasar.

“SADAR, KAMU! SADAR!” teriaknya kemudian. Satria terkejut mendengar Asia juga ikut berteriak. Ajeng yang menjaga ruang perpustakaan fakultas sampai masuk kembali ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa.

“Hey, kalian kenapa kok berisik? Suara kalian terdengar sampai dari luar loh!” tanyanya bingung. Satria pun tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghentikan kedua temannya.

Asia tidak memedulikan panggilan Satria. Dia tetap menatap mata Mayu yang masih diliputi kemarahan. “Dengar, Mayu! Aria memang teman kita! Tapi Marella juga teman kita! Kamu nggak sadar kalau sudah menyakiti hatinya? Apa yang dikatakan Marella itu benar! Besok kita sudah harus presentasi. Tapi kerjaan kita masih setengah jalan. Coba kamu pikir, kalau seandainya saja Aria datang sekarang, apa tugas Filsafat kita bisa kelar begitu saja? Seperti yang kamu tahu, kadar keseriusan Aria setiap mengerjakan tugas bersama cuma dua puluh lima persen! Dan itu nggak sebanding dengan usaha tujuh puluh lima persen yang sama sekali tidak dikeluarkannya!”

Mayu semakin melihat Asia dengan sinis, “Oh, jadi ini wujud sebenarnya dari seorang Asia, si paling egois! Sekarang aku tahu kalau sebenarnya kamu juga lebih mementingkan kuliahmu dan menyepelekan hubungan pertemanan kita kan. Kamu pasti tidak sadar kan kalau diam-diam aku menyadari setiap tujuan yang ingin kamu gapai dan merasakan setiap ambisi besar dari dirimu! Isi otakmu itu nggak jauh beda seperti buku jurnal harianmu itu!”

Ucapan Mayu seakan-akan menimbulkan suara petir di dalam ruangan itu. Setiap perkataannya seperti sebilah pisau yang menghujam jantungnya sampai dalam. Tanpa sadar Asia menampar pipi gadis itu.

“Asia! Hei, jangan begitu!” seru Satria kemudian. Dengan langkah cepat, Ajeng langsung memisahkan keduanya. Asia pun membelalakkan matanya kala menyadari apa yang baru saja dilakukannya kepada Mayu.

“Cukup ya kalian membuat keributan. Sebaiknya selesaikan permasalahan dengan berkomunikasi yang baik. Bukan dengan teriak-teriak, apalagi dengan kekerasan,” tegas Ajeng. Asia merasa malu dengan perbuatannya. Ia hanya diam dengan kepala tertunduk.

Sementara Mayu mulai menangis dan mengambil tas ranselnya. Dia melihat Asia sekilas dan memutuskan untuk pergi. Satria juga mengambil tas ranselnya.

Sebelum pergi, dia berkata kepada Asia dengan wajah sedih, “Maaf, aku harus mengejar Mayu. Seharusnya kamu tidak sekasar itu padanya.”

Setelah Satria juga pergi meninggalkan ruangan, tengkuk kaki Asia bergetar hingga terduduk di atas karpet. Air matanya mulai menetes. Asia pun menangis sesenggukkan. Ajeng menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengusap-usap punggung Asia pelan.

“Heran sama kalian. Terkadang paling kompak, terkadang juga paling chaos. Ampun deh!”

***

Pagi itu seharusnya kelompok satu sudah harus mempresentasikan materi Filsafat tentang Pragmatisme. Tetapi anggota kelompok itu kebingungan karena mereka sama sekali tidak memiliki soft file makalah yang belum terselesaikan kemarin.

Satria meminta keringanan kepada dosennya agar kelompoknya bisa maju ke depan paling terakhir dikarenakan ada dua anggotanya yang masih belum datang. Sementara Marella masih berusaha menelepon Asia yang masih belum hadir. Mayu terkejut saat melihat Aria memasuki ruangan kelas.

“Sori datang telat. Hari ini ada presentasi?” tanyanya pada Mayu. Gadis itu hendak menjawab, tetapi Marella sudah menyahut duluan.

“Kebangetan sih. Baru muncul saat presentasi.”

Mayu menyindir balik temannya itu, “Jangan dengarkan dia. Marella sudah ketularan virus hyperfocused seperti Asia.”

“Ya kamu itu ngapain selalu belain dia? Eh, wajar sih! Si paling perhatian.. Si paling peduli!”

Mendengar duel antara Mayu dan Marella membuat Aria semakin bingung. Satria mendatangi mereka setelah berbicara dengan dosen, “Sudah ya! Nggak perlu drama lagi disini. Dosen memberikan kesempatan kita untuk maju paling terakhir. Harapan kita sekarang cuma Asia.”

Lantas Satria menyadari bahwa Aria masih belum tahu tentang kejadian kemarin. “Ceritanya panjang. Nanti aku ceritain. Intinya sekarang Marella dan Mayu musuhan. Kami bertiga juga melalaikan tugas Filsafat hari ini karena pertengkaran kemarin. Soft file-nya ada di laptop Asia. Dia juga masih belum ada kabar,” jelasnya. Aria hendak bertanya, tetapi Satria menyuruhnya untuk diam.

“Lebih baik kamu juga telepon atau chat Asia,” kata Satria lagi. Aria pun menurut. Dia segera menelepon Asia. Satria mendekati Marella dan Mayu yang masih beradu pandang dengan sengit.

“Guys, kita harus punya plan B. Marella, ikut aku sekarang ke perpus fakultas. Kita ambil beberapa buku Filsafat kemarin,” ajaknya. Lalu dia beralih melihat ke arah Mayu, “Dan kamu, tugas kamu sekarang buka laptop dan rangkum beberapa blog atau website untuk referensi. Sekalian susun makalahnya buat jaga-jaga.”

Lihat selengkapnya