Let Me Be A Star For You During The Day

Aijin Isbatikah
Chapter #6

#6 | Berdusta

Lima bulan berlalu begitu cepat. Asia sudah mulai terbiasa berinteraksi dengan teman-temannya di kelas. Tidak butuh waktu lama untuk mereka saling mengenal. Mungkin dikarenakan jumlah mahasiswa yang jumlahnya tidak terlalu banyak dan banyaknya waktu saling berdiskusi tentang materi perkuliahan menjadi penyebab kedekatan mereka sekelas.

Asia juga bergabung organisasi di Himpunan Mahasiswa Psikologi (Himapsi). Disana dia mengenal struktur keanggotaan yang tidak jauh berbeda dengan struktur OSIS di sekolahnya dulu seperti adanya ketua himpunan, wakil ketua, sekretaris dan bendahara, serta beberapa divisi. Departemen atau divisi yang ada disana juga cukup beragam seperti divisi keilmuan dan akademik, divisi pengabdian masyarakat, divisi kewirausahaan, divisi hubungan masyarakat, divisi internal, serta divisi minat-bakat.

Asia berada di dalam divisi pengabdian masyarakat. Kegiatan yang dilakukannya juga cukup padat. Mereka yang berada di dalam divisi tersebut menjalani program Psikoedukasi ke berbagai sekolah dan panti asuhan, menjalani bakti sosial, serta kampanye kesehatan mental.

Awalnya Asia merasa rasa takut saat berada di dalam divisi ini. Takut tidak bisa sejalan dengan hati nuraninya. Tetapi entah kenapa rasa penasaran terus tergelitik di dalam dirinya. Dia pun menghapus rasa takut dan belajar untuk nekat menjalani hari-hari di divisi tersebut.

Pernah suatu hari Asia dan timnya membuat program pengabdian masyarakat berupa sesi psikoedukasi dan menciptakan sesi curahan hati di sebuah sekolah menengah pertama. Mereka mengangkat tema ‘Mengelola Emosi di Masa Remaja' dan memberi ruang aman bagi para siswa untuk bercerita tentang segala hal.

Sebagai bagian dari koordinator lapangan, Asia bertugas untuk menyusun materi, mengatur alur kegiatan, dan menjadi pendamping dalam ruang bercerita di kelompok kecil.

Kelompok kecil itu duduk di kursi dalam bentuk melingkar. Masing-masing dari para siswa menceritakan segala keluh kesah yang tidak pernah mereka ceritakan kepada banyak orang. Ada yang bercerita dengan lugas, ada yang merasakan tekanan kala bercerita, dan ada juga yang mengungkapkan permasalahan hidupnya sambil menangis tersedu-sedu.

Awalnya Asia sempat bimbang, karena dia merasa tidak cukup siap untuk membantu. Mengingat dirinya yang pernah gagal menghadapi di situasi yang sama saat pertama kalinya Mayu dan Marella saling konflik di ruang perpustakaan fakultas, membuat Asia semakin bingung bagaimana cara membantu orang lain saat menghadapi emosinya. Namun seiring waktu berjalan, ia mendapatkan pengalaman berharga melalui bimbingan dosen dan bekal ilmu di perkuliahannya.

Sedikit demi sedikit, Asia memiliki keyakinan dalam dirinya untuk menerapkannya di dalam program tersebut. Secara perlahan dia juga menyadari bahwa terkadang yang dibutuhkan mereka hanyalah kehadiran yang tulus serta kemauan untuk mendengarkan. Asia mulai belajar mendengarkan tanpa menghakimi dan memahami bahwa setiap individu memiliki lukanya masing-masing.

Asia menjadi bercermin dengan situasi yang terjadi di dalam hidupnya. Dia sedikit menyadari bahwa selama ini dia tertekan karena dorongan ibunya yang mengatasnamakan demi kebaikan masa depannya. Setelah masuk ke dalam universitas swasta pun, ibunya selalu menanyakan kesehariannya dan mengingatkannya untuk memiliki citra yang baik di universitasnya. Ibunya terus menekannya untuk tetap menyeimbangkan nilainya di perkuliahan saat Asia juga sibuk di organisasinya.

Jujur, rasanya berat. Asia baru merasakannya akhir-akhir ini. Terkadang dia menangis sendirian di dalam kamar. Dia ingin jujur di hadapan ibunya, tetapi pengalaman sebelumnya membuatnya belajar untuk tidak mengukir kesedihan lagi di mata ibunya.

Masuk ke universitas swasta saja sudah memupuskan harapan ibunya, apalagi kalau Asia menceritakan tekanan hidup yang diberikan ibunya kepadanya. Asia tidak dapat membayangkan badai apa lagi yang akan terjadi di hidupnya jikalau dia melakukan hal itu.

 Perkuliahan Asia juga berjalan dengan lancar. Jurnal hariannya masih menjadi panduan utama baginya. Dengan jurnal harian, kegiatannya sehari-hari menjadi teratur. Anggota kelompoknya juga lama-lama terbiasa dengan aturan yang dibuat oleh Asia. Tetapi terkadang ada satu anggota yang kadangkala tidak mengikuti jalur yang dia buat, yaitu si Aria.

Kalau sudah begitu, Asia selalu mengomeli cowok itu. Namun apa daya, segala keluhan Asia tentang Aria hanya masuk dari tenga kanan keluar telinga kiri. Bahkan Asia mencatat semua kelalaian Aria.

“Lagi-lagi kamu tidak bisa menjawab presentasi hari ini. Kamu malah menjawab ala kadarnya. Bahkan sekarang sudah berani tepe-tepe ya!” keluhnya kesal. Aria hanya mendengarkan sambil bersandar di tembok, menyelonjorkan kakinya, dan mengorek telinga dengan jari kelingkingnya.

“Apaan tuh tepe-tepe?” tanya Aria menengok ke arah Satria. Sontak Satria dan kedua temannya menjawab secara bersamaan, “Tebar pesona, bosss ... !!!”

Asia melipat kedua tangannya sembari menahan kekesalannya saat melihat Aria yang malah tertawa terbahak-bahak. Pikirannya teralihkan ketika ada seseorang yang membeli roti di tokonya.

Mayu melihat Asia yang masih melayani pelanggannya. Kemudian dia menyenggol Aria, “Hey, kamu tidak kasihan sama Asia yang selalu mencatat kebiasaan burukmu itu. Sudah seharusnya kamu berubah, ege'.”

Sambil mengunyah nastar, dia berbisik, “Seperti kamu nggak mengenal diriku saja.” Mendengar hal itu membuat Mayu melirik ke arah Satria yang masih sibuk mendikte Marella yang juga mengetik keyboard laptop sambil mendengarkan. Aria sengaja mengeraskan suaranya, “Lagipula Asia sendiri yang punya inisiatif mencatat setiap kelalaianku. Lihat kan betapa perhatiannya dia sama aku!”

Ternyata Asia mendengarnya dan menoleh ke arah Aria dengan memberikan tatapan sengit. Aria malah membalas tatapannya dengan berkata, “I love you too, Asia. Muach!”

Asia dan ketiga temannya langsung merinding mendengar dan melihat perilaku Aria yang semkakn menjadi-jadi. Setelah selesai melayani pelanggannya, Asia langsung menghampiri Aria dan menjewer telinganya.

“Nggak usah tepe-tepe! Nggak bakal ngefek ya sama aku!” serunya kesal. Aria mengaduh kesakitan.

“Masa?” jawabnya lagi. Asia hendak menjewer telinga cowok itu lagi, tetapi diurungkannya saat melihat ibunya datang sambil membawa nampan berisi minuman.

“Tante bawakan es sirup oren buat kalian biar semakin semangat belajarnya. Diminum ya,” ucap ibu Asia. Mayu langsung berdiri dan menerima nampan dari tangan ibu Asia.

“Duh! Nggak perlu repot-repot, te,” katanya.

“Terima kasih, tante,” kata Aria juga. Ibu Asia tersenyum padanya. Asia melihat keanehan dari ibunya yang tidak henti-hentinya menatap apa yang dilakukan oleh Aria.

“Bu, ada yang perlu aku bantu?” tanyanya canggung. Ibunya tersenyum lagi.

“Nggak ada. Kamu mengerjakan tugas kuliah saja dengan teman-temanmu. Belajar yang serius ya, Asia.”

‘Glek!’ Asia menelan ludah sesaat. Dia merasa aneh dengan perkataan ibunya. Setelah ibunya pergi, Asia membuka-buka halaman buku diktatnya dengan perasaan gelisah. ‘Apa sedari tadi aku terlihat bermain-main saja?’ pikirnya kalut.

Aria menyadari kegelisahan temannya itu. Dia menyolek lengan Asia berkali-kali. Gadis itu merasa terganggu, “Apaan sih Aria?”

“Kamu yakin sudah mencatat semua kelalaianku?” tanyanya. Asia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh cowok itu. Dia kembali mengingat tatapan ibunya tadi.

Asia berucap dengan ketus, “Aku tidak minat lagi mencatat semua kelalaianmu. Mengerjakan tugas kuliah lebih penting daripada itu.” Gadis itu kembali membaca buku diktatnya dan berusaha tidak mempedulikan cowok itu lagi.

“Oke,” jawab Aria singkat. Cowok itu kembali menulis hasil rangkuman di buku tulisnya. Diam-diam Asia melirik ke arah kemeja yang dikenakan oleh Aria. Gadis itu tidak bisa berkonsentrasi lagi. Dia meletakkan bukunya di lantai dengan frustrasi.

“Aria, sekarang kamu lagi pakai kaus kutang nggak?” tanyanya kemudian. Aria mendelik kaget. Begitu pula dengan ketiga temannya.

“Idih, Asia! Ngapain kamu tanya-tanya soal begituan. Mencurigakan,” goda Marella. Satria tertawa ngakak. Sementara Mayu juga bingung mendengat pertanyaan Asia.

“Aku ... Pakai? Iya, aku pakai kutang,” jawab Aria heran. Asia menengadahkan tangannya.

“Copot kemejamu. Cepat,” perintah Asia. Teman-temannya kembali terkejut dengan perkataannya. Aria memeluk tubuhnya dengan malu-malu.

“Idih, Asia. Jangan ...,” jawabnya. Satria, Mayu, dan Marella tertawa melihat reaksi Aria.

“Apaan sih?! Jangan mikir yang nggak-nggak ya! Aku terganggu saja dengan kemeja yang kamu pakai. Itu sudah disetrika nggak sih? Kok kelihatan kusut banget. Cepetan copot sebelum aku berubah pikiran,” mendengar Asia yang masih bersikukuh meminta kemejanya membuat Aria menurutinya. Cowok itu melepaskan kemeja dan memberikannya pada gadis itu.

Asia segera masuk ke dalam rumah dengan membawa kemeja milik Aria. Saat menyetrika, ibunya keluar kamar dan menghampirinya. “Asia, kamu ngapain?” tanyanya.

“Oh! Ini, bu. Baju Aria kusut banget. Mataku semakin gatal melihatnya memakai kemeja kusut ini. Makanya aku setrika sebentar biar rapi.”

Ibunya mengernyitkan dahi. Ia heran melihat perilaku Asia. Setelah selesai menyetrika, Asia mencabut kabel setrika dari stop kontak. Ibunya menahan lengannya. “Asia, kamu tahu kan ibu menaruh kepercayaan sama kamu?”

Asia bingung dengan pertanyaan ibunya. “Maksud ibu apa ya?” tanyanya balik. Ibunya kembali melihat kemeja yang sudah dilipat rapi oleh Asia.

“Apa yang kamu lakukan sekarang? Belajar atau bermain rumah-rumahan dengan temanmu itu?”

Asia terperangah mendengar perkataan ibunya. Dia segera menjawab, “Aku dan teman-teman benar-benar sedang mengerjakan tugas kuliah, bu.”

“Lalu apa yang kamu pegang sekarang?” jelas ibunya. Asia hanya menelan ludah. Dia tidak berani menjawab perkataan ibunya lagi. “Ibu mengawasimu sedari tadi. Sepertinya kamu kelihatan dekat dengan anak lelaki itu. Ibu nggak mau ya kalau kamu mikirin cinta-cintaan sekarang dan hilang fokus sama kuliah kamu.”

Asia menundukkan kepalanya seketika. Seberapa besar dia ingin membela dirinya, Asia tetap tidak berani dan memilih untuk tetap diam. “Kamu paham kata-kata ibu? Asia?” tanya ibunya dengan suara kalem tapi terdengar lantang dan tegas di telinganya. Asia menganggukkan kepala. Lantas ibunya masuk ke dalam kamar lagi.

Asia menghembuskan nafasnya, berusaha mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Gadis itu mencoba menenangkan dirinya dan kembali menghampiri teman-temannya lagi.

“Ini. Cepat pakai,” diserahkannya kemeja kepada Aria. Cowok itu tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar saat melihat kemejanya sangat rapi. Tidak terlihat kusut seperti sebelumnya.

Dipakainya kemeja dengan grasak-grusuk. Wajahnya tampak senang. “Terima kasih, Asia,” katanya tulus. Asia hanya menganggukkan kepala sambil membaca kembali bukunya.

“Oh ya, Asia. Rencana kamu ketemu teman-teman lamamu besok jadi?” pertanyaan Mayu membuat Asia ketar-ketir. Dia memberi isyarat Mayu untuk diam.

Lihat selengkapnya